Narasi Pembuka: Kasus Kiai Abdullah Arrosyi dari Jember kini sedang viral. Ia secara sadar mengaku melihat Zat Allah dan dicium Rasulullah. Peristiwa ini bukanlah meteor yang jatuh dari langit kosong. Ia adalah pengulangan dari drama abadi yang telah dipentaskan berulang kali dalam sejarah Islam. Pertemuan antara klaim spiritual yang ekstrem. Otoritas keagamaan yang merasa terancam. Dan publik yang terpolarisasi. Dengan menempatkannya bersanding dengan Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Kita bisa membaca pola yang lebih dalam. Bukan untuk membenarkan. Tetapi untuk memahami mengapa api yang sama terus menyala.
Al-Hallaj: Ketika "Ana al-Haqq" Menjadi Tiang Gantungan
Al-Hallaj adalah sufi yang mengalami apa yang dalam tradisi tasawuf disebut syathahat. Ungkapan ekstrem yang keluar dari mulut seorang sufi dalam keadaan sakr (mabuk spiritual). Ucapannya, "Ana al-Haqq" (Aku adalah Kebenaran). Adalah puncak dari pengalaman hulul. Perasaan bahwa Tuhan telah masuk dan bersatu dengan dirinya.
Namun, Al-Junaid, gurunya sendiri, memperingatkan dengan tajam: "Tidak. Engkau hanyalah alat kebenaran! Tiang gantung akan ternoda oleh darahmu."
Al-Hallaj tidak mendengarkan. Ia terus menyebarkan ajarannya secara terbuka. Dan pada tahun 922 M, ia dieksekusi. Dipotong tangan dan kakinya. Digantung. Lalu dibakar. Dan jasadnya dipertontonkan kepada publik sebagai pelajaran.
Apa pelajarannya? Klaim spiritual yang tidak dikawal oleh adab dan syariat adalah bunuh diri teologis. Al-Hallaj mungkin benar dalam pengalaman batinnya. Dalam keadaan fana, ia memang tidak lagi melihat "aku" dan "Tuhan" sebagai dua entitas terpisah.
Apa pelajarannya? Klaim spiritual yang tidak dikawal oleh adab dan syariat adalah bunuh diri teologis. Al-Hallaj mungkin benar dalam pengalaman batinnya. Dalam keadaan fana, ia memang tidak lagi melihat "aku" dan "Tuhan" sebagai dua entitas terpisah.
Tetapi ia salah dalam mengekspresikannya di ruang publik. Ia lupa bahwa bahasa adalah milik publik. Dan publik tidak siap menerima bahasa ittihad tanpa ta'wil.
Syekh Siti Jenar: Ketika "Manunggaling Kawula Gusti" Menjadi Ancaman Politik
Kisah lain tentang Syekh Siti Jenar. Atau Syaikh Lemah Abang. Ia adalah tokoh yang lebih misterius lagi. Ia dikenal sebagai penyebar ajaran Sasahidan yang berpijak pada konsep manunggaling kawula-Gusti. Penyatuan antara hamba dan Tuhan.
Syekh Siti Jenar: Ketika "Manunggaling Kawula Gusti" Menjadi Ancaman Politik
Kisah lain tentang Syekh Siti Jenar. Atau Syaikh Lemah Abang. Ia adalah tokoh yang lebih misterius lagi. Ia dikenal sebagai penyebar ajaran Sasahidan yang berpijak pada konsep manunggaling kawula-Gusti. Penyatuan antara hamba dan Tuhan.
Dalam pandangannya, Tuhan tidak hanya hadir secara eksternal. Melainkan juga hadir dalam diri manusia. Bahkan sampai tingkat di mana manusia dan Tuhan tampak tidak terpisahkan.
Penentangnya adalah Wali Songo. Yang membuat Wali Songo murka bukan hanya aspek teologisnya. Tetapi juga implikasi sosial-politiknya.
Penentangnya adalah Wali Songo. Yang membuat Wali Songo murka bukan hanya aspek teologisnya. Tetapi juga implikasi sosial-politiknya.
Syekh Siti Jenar mengajarkan bahwa kewajiban syariat. Seperti shalat, puasa, zakat, haji, tidak lagi diperlukan bagi mereka yang telah mencapai puncak penyatuan dengan Tuhan. Lebih dari itu, ia membangun komunitas egaliter di Lemah Abang. Mengubah konsep feodalistik kawulo menjadi setara.
Wali Songo, dengan dukungan Sultan Demak, menjatuhkan vonis mati. Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulum al-Din, telah menegaskan bahwa pandangan al-hulul dan al-ittihad adalah kesalahan yang murni. Seperti orang yang salah menyimpulkan bahwa kaca berwarna merah. Padahal karena pantulan warna merah.
Apa pelajarannya? Klaim spiritual yang mengabaikan syariat bukan hanya sesat secara teologis. Tetapi juga berbahaya secara sosial. Syekh Siti Jenar bukan hanya salah dalam akidah. Ia mengancam tatanan sosial yang sedang dibangun Wali Songo.
Kiai Abdullah Arrosyi: Pengulangan Tanpa Kedalaman
Sekarang, mari kita lihat Kiai Abdullah dari Jember. Ia mengklaim melihat Zat Allah secara sadar. Bersalaman dengan Rasulullah. Dan dicium oleh Nabi. Ia bahkan menyebut detail ludah Nabi. Ludahnya mulai dari yang arnyang sampai yang kental.
Perhatikan perbedaannya. Al-Hallaj adalah seorang sufi yang telah menempuh riyadhah bertahun-tahun. Dengan mursyid seperti Al-Junaid. Dan ucapannya lahir dari sakr (mabuk spiritual). Atau kehilangan kesadaran diri dalam lautan fana.
Wali Songo, dengan dukungan Sultan Demak, menjatuhkan vonis mati. Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulum al-Din, telah menegaskan bahwa pandangan al-hulul dan al-ittihad adalah kesalahan yang murni. Seperti orang yang salah menyimpulkan bahwa kaca berwarna merah. Padahal karena pantulan warna merah.
Apa pelajarannya? Klaim spiritual yang mengabaikan syariat bukan hanya sesat secara teologis. Tetapi juga berbahaya secara sosial. Syekh Siti Jenar bukan hanya salah dalam akidah. Ia mengancam tatanan sosial yang sedang dibangun Wali Songo.
Kiai Abdullah Arrosyi: Pengulangan Tanpa Kedalaman
Sekarang, mari kita lihat Kiai Abdullah dari Jember. Ia mengklaim melihat Zat Allah secara sadar. Bersalaman dengan Rasulullah. Dan dicium oleh Nabi. Ia bahkan menyebut detail ludah Nabi. Ludahnya mulai dari yang arnyang sampai yang kental.
Perhatikan perbedaannya. Al-Hallaj adalah seorang sufi yang telah menempuh riyadhah bertahun-tahun. Dengan mursyid seperti Al-Junaid. Dan ucapannya lahir dari sakr (mabuk spiritual). Atau kehilangan kesadaran diri dalam lautan fana.
Syekh Siti Jenar adalah seorang wali yang memiliki sanad keilmuan. Yang mengajarkan manunggaling kawula-Gusti sebagai puncak makrifat. Meskipun kemudian ditolak oleh Wali Songo.
Kiai Abdullah Arrosyi? Ia adalah pemimpin kelompok pengajian lokal yang aktif di TikTok. Tanpa afiliasi dengan pondok pesantren resmi mana pun. Tidak ada riyadhah yang terdokumentasi. Tidak ada sanad keilmuan yang jelas. Tidak ada mursyid yang mengawal. Yang ada hanyalah klaim kosong yang dibungkus dengan bahasa spiritual yang dangkal.
Inilah yang membedakan syathahat dari waham (delusi). Al-Hallaj "mabuk" karena ia telah "meminum khamr" mahabbah hingga habis.
Kiai Abdullah Arrosyi? Ia adalah pemimpin kelompok pengajian lokal yang aktif di TikTok. Tanpa afiliasi dengan pondok pesantren resmi mana pun. Tidak ada riyadhah yang terdokumentasi. Tidak ada sanad keilmuan yang jelas. Tidak ada mursyid yang mengawal. Yang ada hanyalah klaim kosong yang dibungkus dengan bahasa spiritual yang dangkal.
Inilah yang membedakan syathahat dari waham (delusi). Al-Hallaj "mabuk" karena ia telah "meminum khamr" mahabbah hingga habis.
Sementara Kiai Abdullah tidak mabuk. Ia hanya haus. Haus pengakuan. Haus followers. Haus virality. Dan ketika haus spiritual tidak diisi dengan ilmu dan adab. Ia akan diisi oleh setan.
Refleksi Kritis: Mengapa Pola Ini Terus Berulang?
Tiga kasus ini, Dalam rentang seribu tahun. Menunjukkan pola yang sama. Klaim pengalaman spiritual yang tidak terkawal oleh otoritas keilmuan. Al-Hallaj melawan Al-Junaid. Syekh Siti Jenar melawan Wali Songo. Lalu Kiai Abdullah melawan siapa? MUI? Polisi? Publik?
Perbedaannya adalah kualitas lawan. Al-Hallaj berhadapan dengan ulama sekaliber Al-Junaid dan Syibli. Syekh Siti Jenar berhadapan dengan Wali Songo. Dimana orang-orang yang ma'rifat-nya tidak perlu diragukan.
Refleksi Kritis: Mengapa Pola Ini Terus Berulang?
Tiga kasus ini, Dalam rentang seribu tahun. Menunjukkan pola yang sama. Klaim pengalaman spiritual yang tidak terkawal oleh otoritas keilmuan. Al-Hallaj melawan Al-Junaid. Syekh Siti Jenar melawan Wali Songo. Lalu Kiai Abdullah melawan siapa? MUI? Polisi? Publik?
Perbedaannya adalah kualitas lawan. Al-Hallaj berhadapan dengan ulama sekaliber Al-Junaid dan Syibli. Syekh Siti Jenar berhadapan dengan Wali Songo. Dimana orang-orang yang ma'rifat-nya tidak perlu diragukan.
Sementara Kiai Abdullah berhadapan dengan algoritma TikTok dan opini publik yang tidak memiliki kapasitas untuk menilai klaim spiritual secara benar.
Inilah tragedi modern. Ketika otoritas spiritual tidak lagi dipegang oleh ulama. Tetapi oleh likes dan views. Kiai Abdullah tidak membutuhkan ijazah dari guru. Ia hanya membutuhkan 10.000 followers. Ia tidak membutuhkan tazkiyatun nafs. Ia hanya membutuhkan engagement.
Antara Tiang Gantungan dan Meja Perundingan
Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar mati karena klaim mereka. Sedangkan Kiai Abdullah mungkin hanya akan berurusan dengan hukum positif. Penistaan agama. UU PNPS (UU Penetapan Presiden). Dan mungkin beberapa bulan penjara.
Inilah tragedi modern. Ketika otoritas spiritual tidak lagi dipegang oleh ulama. Tetapi oleh likes dan views. Kiai Abdullah tidak membutuhkan ijazah dari guru. Ia hanya membutuhkan 10.000 followers. Ia tidak membutuhkan tazkiyatun nafs. Ia hanya membutuhkan engagement.
Antara Tiang Gantungan dan Meja Perundingan
Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar mati karena klaim mereka. Sedangkan Kiai Abdullah mungkin hanya akan berurusan dengan hukum positif. Penistaan agama. UU PNPS (UU Penetapan Presiden). Dan mungkin beberapa bulan penjara.
Tetapi kematian spiritualnya sudah terjadi jauh sebelum itu. Pada saat ia mengunggah video pertama. Pada saat ia menukar ma'rifat dengan views. Pada saat ia mengkhianati amanah "Kiai" yang disandangnya.
Ya Allah, lindungilah kami dari delusi. Keyakinan yang kuat akibat salah berpikir. Serta yang keluar dari hati yang kosong. Aamiin Ya Robbal Aalamin.
Ya Allah, lindungilah kami dari delusi. Keyakinan yang kuat akibat salah berpikir. Serta yang keluar dari hati yang kosong. Aamiin Ya Robbal Aalamin.
