Jumat, 25 September 2026

Sajak Muktamar di Tengah Kabut


Kulihat para kiai berkumpul di bawah langit senja,
jubah putih mereka berkibar laksana doa yang belum dijawab,
tapi wajah-wajah itu...
wajah-wajah yang biasa menenangkan umat,
kini saling memandang dengan mata yang bertanya dan curiga,
"Masihkah kita saudara?"

Kau sebut ini muktamar,
tempat para ulama bermusyawarah,
tempat suara santri dibawa ke meja panjang,
tapi mengapa di luar sana
di beranda-beranda pesantren,
di warung-warung kopi,
di surau-surau kecil
yang terdengar justru bisik-bisik penuh gelisah?

Ada yang bilang quorum tak terpenuhi,
ada yang bilang presidium tak sah,
ada yang bilang kursi itu direbut,
ada yang bilang kursi itu diwariskan.
Dan aku...
aku hanya duduk di sudut,
mendengar semuanya,
seperti mendengar gamelan yang sumbang
di tengah malam yang sunyi.

Wahai para pemegang amanah,
bukankah NU ini didirikan tak hanya dengan suara terbanyak,
tapi dengan tawadu seorang kiai di Tebuireng?
Bukankah ia tumbuh bukan dari kursi,
tapi dari ngaji yang tak pernah putus,
dari sowan yang tak pernah bosan,
dari barokah yang tak pernah dihitung?

Lalu mengapa kini
kita sibuk menghitung siapa yang menang,
sibuk menimbang siapa yang sah,
sibuk menandai siapa yang kawan dan siapa lawan,
seolah NU ini panggung politik,
seolah kita lupa
bahwa di atas semua nama dan jabatan,
ada yang lebih halus dari bisikan:
restu guru, ridho kiai, berkah langit.

Dan di sudut lain—
di bawah meja-meja yang berdebu,
ada bisik yang lebih pelan dari angin,
tentang uang yang mengalir tanpa nama,
tentang kementerian yang katanya kehilangan arah,
tentang sertifikat yang berpindah tangan,
tentang koper merah yang entah siapa pemiliknya.

Aku tak mau menuduh,
aku hanya bertanya dalam hati:
jika benar ada yang mengalir,
mengapa ia harus sampai ke rumah ibadah?
Mengapa ia harus singgah ke panggung muktamar?
Bukankah rumah ibadah cukup dengan infaq yang jujur,
dan muktamar cukup dengan niat yang bersih?

Wahai para kiai,
aku tahu kalian lelah,
aku tahu kalian juga manusia,
yang bisa salah, yang bisa khilaf,
yang bisa tergoda oleh kursi dan nama.
Tapi ingatlah—
di luar sana ada santri yang menunggu fatwa,
ada umat yang menunggu teladan,
ada anak-anak yang menunggu contoh
bagaimana berselisih tanpa saling melukai.

Maka biarlah muktamar ini
menjadi cermin, bukan medan,
menjadi syuro, bukan sengketa,
menjadi tempat menundukkan kepala,
bukan tempat mengangkat dagu.
Karena NU ini—
bukan milik siapa pun di antara kita,
ia milik mereka yang telah mendahului,
milik mereka yang akan datang,
dan terutama—
milik Allah, yang Maha Melihat
segala yang tersembunyi di balik jubah putih.

Sajak Muktamar di Tengah Kabut

Kulihat para kiai berkumpul di bawah langit senja, jubah putih mereka berkibar laksana doa yang belum dijawab, tapi wajah-wajah itu... wajah...