Rabu, 23 September 2026

Sesi-4 Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Taubatan Nasuha, Kembali pada Ampunan Allah"


Catatan Pembuka: Sesi keempat ini berlangsung pada malam ke-40 Febrie Adriansyah (FA) mendekam di Rutan KPK. Malam itu berbeda. Tidak ada pengacara. Tidak ada tim kuasa hukum. Tidak ada wartawan lain. Hanya ada saya KGM (Ki Gempur Mudharat). Dan seorang pria yang sudah menanggalkan seluruh atribut kejaksaan. Bahkan cincin lamanya sudah ia lepas. Ia meminta waktu khusus untuk berbicara tentang sesuatu yang belum pernah ia sebut dalam tiga sesi sebelumnya: Tuhan.

Wawancara ini berlangsung pukul 02.15 WIB. Setelah ia menunaikan salat tahajud. Matanya sembab. Bukan karena menangis di depan orang. Tapi karena sujud panjang yang membuat dahinya menghitam. Ia memulai dengan kalimat yang tidak pernah saya duga: "Saya sudah 33 tahun jadi jaksa. Tapi baru 40 hari ini saya benar-benar mengenal siapa yang saya hadapi di pengadilan nanti. Bukan hakim. Tapi Allah."

Bagian Kedelapanbelas: "Saya Belum Pernah Sungguh-Sungguh Bertobat"

KGM: Malam ini Anda meminta saya datang bukan untuk membicarakan perkara. Anda bilang ingin bicara soal sesuatu yang lebih besar. Apa itu?

FA: (Suaranya pelan, berbeda dari tiga sesi sebelumnya). Saya ingin bicara tentang taubat. Tapi bukan taubat yang saya ucapkan di pengadilan. Bukan taubat yang saya tulis di surat pembelaan. Bukan taubat yang saya tunjukkan di depan kamera. Saya ingin bicara tentang taubat yang hanya Allah yang tahu.
Selama 33 tahun, saya salat. Saya puasa. Saya zakat. Saya haji. Di atas kertas, saya Muslim yang taat. Tapi malam ini, saya sadar. Saya belum pernah benar-benar bertobat. Saya salat karena itu kewajiban. Saya puasa karena itu tradisi. Saya haji karena itu status sosial. Tapi saya tidak pernah sujud dengan hati yang hancur. Saya tidak pernah menangis karena takut kepada Allah. Saya hanya takut kepada atasan. Takut kepada publik. Takut kehilangan jabatan. Saya tidak pernah takut kepada Allah.

KGM: Dan sekarang?

FA: Sekarang. Di sel ini. Tidak ada atasan. Tidak ada publik. Tidak ada jabatan. Yang tersisa hanya saya dan Allah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya benar-benar takut. Bukan takut hukuman manusia. Tapi takut kalau Allah tidak menerima taubat saya.

Bagian Kesembilanbelas: "Saya Mencuri dari Allah Sebelum Mencuri dari Negara"

KGM: Anda bicara soal taubat. Tapi apa dosa yang Anda maksud? Korupsi? Gratifikasi?

FA: (Diam. Menatap lantai. Tangannya gemetar) Lebih dari itu.
Bukan karena masalah korupsi. Karen itu akan di putuskan di pengasilan. Yang membuat saya tidak bisa tidur selama 40 malam ini adalah saya mencuri dari Allah.
Saya mengambil amanah yang Allah berikan kepada saya. Jabatan Jampidsus. Kepercayaan publik. Kewenangan menegakkan keadilan. Namun itu saya gunakan untuk membesarkan diri saya sendiri. Allah memberi saya kekuasaan untuk melindungi yang lemah. Saya gunakan untuk membuat orang takut. Allah memberi saya ilmu untuk menegakkan kebenaran. Saya gunakan untuk memilih perkara yang menguntungkan saya. Allah memberi saya waktu untuk beribadah. Saya gunakan untuk mengejar proyek, jabatan, dan pengakuan.
Itu bukan sekadar korupsi. Itu pengkhianatan terhadap amanah Allah. Dan itu jauh lebih berat daripada Rp4 miliar atau 74 kilogram emas.

Bagian Keduapuluh: "Air Mata yang Baru Pertama Kali Jatuh"

KGM: Anda bilang 40 malam tidak bisa tidur. Apa yang terjadi?

FA: (Matanya mulai berkaca-kaca) Malam ke-7, saya mimpi. Saya mimpi berdiri di pengadilan. Tapi hakimnya bukan manusia. Hakimnya adalah cahaya yang sangat terang. Dan saya tidak bisa melihat wajahnya. Saya mencoba bicara. Tapi mulut saya terkunci. Saya mencoba membela diri. Tapi tidak ada suara. Lalu cahaya itu bertanya: "Febrie, apa yang kau bawa untuk menghadap-Ku?"
Saya bangun jam 3 pagi, basah kuyup. Saya ambil wudhu. Saya salat. Dan untuk pertama kalinya dalam 33 tahun, saya menangis dalam sujud. Bukan tangis karena takut dipenjara. Bukan tangis karena malu. Tapi tangis karena saya sadar saya telah menghadap Allah dengan tangan kosong.

KGM
: Apa yang Anda maksud "tangan kosong"?

FA: Selama ini saya pikir amal saya banyak. Saya pikir salat saya cukup. Saya pikir haji saya menyelamatkan saya. Tapi malam itu, Allah menunjukkan: Semua itu tidak ada artinya kalau hati saya masih penuh kesombongan. Saya salat tapi tidak khusyuk. Saya puasa tapi masih memakan hak orang lain. Saya haji tapi masih menipu diri sendiri.
Itulah tangan kosong. Beribadah tapi tidak mengenal Allah.

Bagian Keduapuluh Satu: "Taubat Nasuha Bukan Sekadar Menyesal"

KGM: Ada istilah taubatan nasuha. Apa maknanya bagi Anda sekarang?

FA: Taubat nasuha itu bukan sekadar bilang saya menyesal. Setan juga menyesal. Taubat nasuha itu adalah taubat yang memutus hubungan dengan dosa. Memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, Dan tidak kembali lagi. Bahkan kalau dunia menawarkan segalanya.
Saya sudah memulai. Saya berniat mengembalikan gratifikasi yang bisa saya lacak. Saya akan membuka nama-nama yang selama ini saya lindungi. Bukan untuk balas dendam. Tapi karena itu bagian dari taubat. Saya akan minta maaf kepada Tim 9. Saya harus minta maaf kepada keluarga yang saya permalukan.
Tapi yang paling sulit, yang belum selesai, adalah meminta maaf kepada Allah. Karena saya tahu, saya tidak bisa menipu-Nya. Saya bisa menipu hakim. Saya bisa menipu publik. Tapi Allah melihat isi hati saya. Dan taubat saya belum sempurna. Sampai saya benar-benar yakin bahwa saya tidak akan kembali.

KGM: Apakah Anda yakin Anda tidak akan kembali?

FA: (Diam panjang. Suaranya bergetar) Saya tidak berani bilang yakin. Karena saya tahu siapa saya. Saya tahu setan tidak tidur. Saya tahu kalau saya keluar nanti. Entah bebas. Entah dengan hukuman ringan. Godaan itu akan datang lagi. Jabatan. Uang. Kekuasaan. Semua yang dulu saya cintai.
Tapi ada satu hal yang saya pegang sekarang: Saya sudah merasakan nikmatnya sujud yang jujur. Dan itu lebih manis daripada semua jabatan yang pernah saya pegang. Kalau saya kembali ke jalan lama. Saya akan kehilangan itu. Dan saya tidak ingin kehilangan Allah untuk yang kedua kalinya.

Bagian Keduapuluh Dua: "Ampunan Allah Lebih Besar dari Kesalahan Saya"

KGM: Anda bilang, Anda takut, kalau Allah tidak menerima taubat Anda. Mengapa?

FA: Karena saya tahu besarnya dosa saya. Saya bukan hanya melakukan kebodohan. Saya membuat orang lain berbuat hal yang sama. Saya mengajarkan junior saya bahwa uang lelah itu biasa. Saya merusak generasi jaksa. Saya melemahkan institusi yang seharusnya melindungi rakyat. Kalau saya dihitung dengan timbangan manusia. Saya tidak akan pernah bisa membayar.
Tapi malam ke-30. Saya membaca satu ayat yang membuat saya menangis selama satu jam. "Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat itu bukan untuk orang suci. Ayat itu untuk saya. Ayat itu untuk orang yang sudah melampaui batas. Dan saya menangis bukan karena saya merasa aman. Tapi karena saya sadar bahwa Allah masih membuka pintu. Padahal saya sudah menutup pintu untuk diri saya sendiri bertahun-tahun.

KGM: Jadi Anda percaya Anda akan diampuni?

FA: (Tersenyum tipis. Matanya masih basah) Saya tidak tahu. Ampunan itu hak Allah, bukan hak saya. Tapi saya tahu satu hal. Selama saya masih bisa sujud. Selama saya masih bisa mengucapkan "Astaghfirullah". Selama saya masih bisa menangis karena takut kepada-Nya. Maka pintu itu masih terbuka. Dan saya akan terus mengetuknya sampai saya mati. Bukan karena saya ingin bebas dari hukuman. Tapi karena saya ingin mati dalam keadaan berserah diri. Saya ingin mati dalam kondisi husnul khotimah.

Bagian Keduapuluh Tiga: "Wasiat untuk Keluarga dan Indonesia"

KGM: Kalau ini malam terakhir Anda bisa bicara bebas, apa pesan Anda untuk keluarga?

FA: (Air matanya jatuh lagi. Suaranya pecah) Untuk istri saya: Maafkan saya. Saya bukan suami yang baik. Saya lebih sibuk dengan jabatan daripada dengan engkau. Saya lebih banyak berbicara tentang perkara daripada tentang keluarga. Tapi di sel ini, engkau adalah satu-satunya yang saya rindukan setiap malam.
Untuk anak-anak saya: Jangan tiru saya. Jangan bangga pada ayahmu karena jabatannya. Banggalah kalau ayahmu bertaubat dengan jujur. Dan kalau kalian ingin mengenang saya. Jangan kenang saya sebagai jaksa. Kenang saya sebagai orang yang akhirnya menyerah kepada Allah setelah 33 tahun melawan.

KGM: Dan untuk Indonesia?

FA: (Mengusap wajahnya. Menatap lurus). Untuk Indonesia:
Jangan tunggu masuk sel seperti saya untuk bertobat. Jangan tunggu kehilangan segalanya untuk sadar bahwa Allah lebih penting daripada jabatan. Saya sudah melalui itu. Saya sudah merasakan pahitnya. Dan saya beritahu kalian. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari hukuman Allah. Kecuali taubat yang jujur.
Saya bukan contoh yang baik. Saya contoh yang buruk. Tapi contoh buruk pun bisa menjadi pelajaran, kalau kita mau belajar. Dan saya berdoa, semoga Allah menjadikan saya pelajaran bagi orang lain. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai martir. Tapi sebagai cermin yang retak. Yang menunjukkan bahwa di ujung kehancuran, masih ada pintu bernama taubat.

Bagian Keduapuluh Empat: Doa Penutup

KGM: Boleh saya minta Anda menutup wawancara ini dengan doa?

FA: (Mengangguk. Ia bangkit, menghadap kiblat, dan mengangkat tangan. Suaranya bergetar, tapi jelas.)

"Ya Allah, aku datang kepada-Mu dengan tangan kosong. Aku datang bukan sebagai jaksa. Bukan sebagai pejabat. Bukan sebagai orang yang dihormati. Aku datang sebagai hamba yang berdosa.

Ya Allah, aku sudah melampaui batas. Aku sudah mengkhianati amanah-Mu. Aku sudah mencuri dari-Mu sebelum mencuri dari manusia. Aku tidak punya alasan. Aku tidak punya pembelaan.

Tapi ya Allah, Engkau Maha Pengampun. Engkau Maha Penyayang. Engkau tidak pernah menutup pintu taubat. Bahkan untuk hamba seperti aku.

Terimalah taubatku. Bersihkan hatiku. Jangan biarkan aku kembali ke jalan lama. Jangan biarkan aku mati dalam keadaan sombong.

Ya Allah, kalau Engkau mengampuniku. Tidak ada yang perlu aku takutkan. Bahkan hukuman manusia. Dan kalau Engkau tidak mengampuniku. Maka tidak ada tempat bagiku untuk kembali.

Astaghfirullahal 'azhim. Astaghfirullahal 'azhim. Astaghfirullahal 'azhim.

Amin ya Rabbal 'alamin."

Catatan Penutup: Wawancara berakhir pukul 04.28 WIB, tepat saat azan subuh berkumandang dari masjid di luar Rutan KPK. Febrie Adriansyah tidak kembali ke selnya. Ia meminta izin salat subuh berjamaah. Petugas mengizinkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia ditahan, ia berdiri di shaf paling depan. Bukan karena jabatan. Bukan karena status. Tapi karena ia ingin memulai hidup baru dari barisan yang paling sederhana. Setelah salat. Ia duduk di sajadah. Tidak beranjak. Matanya merah. Bibirnya bergetar.

Seorang petugas bertanya: "Pak, kenapa masih di sini?"

Febrie menjawab pelan: "Saya sedang belajar. Belajar menjadi manusia yang tidak lupa bahwa suatu hari nanti, saya akan menghadap Allah. Bukan hakim."

Di luar, matahari mulai terbit. Dan di dalam sel kecil itu, seorang pria yang pernah menggergaji banyak orang, akhirnya menyerahkan gergaji itu kepada Yang Maha Kuasa. Masya Allah Tabarakallah...

== TAMAT ==

Sesi-4 Wawancara Imajiner dengan Febrie Adriansyah: "Taubatan Nasuha, Kembali pada Ampunan Allah"

Catatan Pembuka : Sesi keempat ini berlangsung pada malam ke-40 Febrie Adriansyah (FA) mendekam di Rutan KPK. Malam itu berbeda. Tidak ada p...