Apakah Aku Salah Jalan?
Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar zawiyah. Suara air yang jatuh ke tanah menjadi latar belakang yang syahdu bagi majelis yang kembali berkumpul. Mursyid tua itu duduk di tempatnya. Kali ini dengan selimut wol yang menyelimuti pundaknya. Yang mulai rapuh dimakan usia.
"Wahai Mursyid," ujar Zaid dengan suara yang sedikit bergetar." Sejak aku bertaubat, hidupku justru semakin sulit. Teman-temanku menjauhiku. Karena aku tidak lagi ikut dalam urusan yang haram. Bahkan tubuhku terasa lemah karena aku berhenti dari kebiasaan buruk. Apakah aku salah jalan?"
Mursyid memandang Zaid dengan mata yang teduh. Seperti kakek yang memandang cucunya yang terjatuh saat belajar berjalan. Ia tidak langsung menjawab. Ia menuangkan air teh ke cangkir-cangkir kecil dan membagikannya kepada para salik. Lalu ia berbicara dengan suara pelan. Namun setiap katanya seperti ditanam di dalam tanah hati.
Kisah Seorang Petani dan Benih yang Tertidur
"Anak-anakku," Mursyid memulai, "dengarkanlah kisah seorang petani tua."
"Di sebuah desa yang jauh. Hiduplah seorang petani yang telah menanam padi selama lima puluh tahun. Suatu hari, ia memberikan sebutir benih kepada cucunya dan berkata: 'Tanamlah benih ini di tanah. Dan rawatlah setiap hari. Tetapi ketahuilah. Engkau tidak akan melihat hasilnya esok pagi.'"
"Cucunya menanam benih itu. Hari pertama, ia menyiraminya dan melihat tanah yang basah. Hari kedua, ia menyiraminya lagi. Tanah masih sama. Hari ketiga, keempat, kelima tidak ada apa pun yang tumbuh. Sang cucu mulai gelisah. 'Kakek,' katanya, 'benih ini mungkin mati. Aku sudah menyiraminya, tetapi tidak ada yang muncul.'"
"Petani tua itu tersenyum. 'Cucuku,' katanya,' Engkau tidak melihat apa yang terjadi di bawah tanah. Benih itu sedang berjuang. Ia sedang memecahkan kulitnya. Menembus lapisan tanah. Dan mencari akar. Jika engkau berhenti menyiraminya sekarang. Engkau akan membunuhnya. Tetapi jika engkau bersabar. Suatu hari engkau akan melihat pucuk hijau yang menembus permukaan.'"
Mursyid berhenti sejenak. Membiarkan kisah itu meresap. "Zaid, engkau adalah benih itu. Dan masa-masa sulit yang engkau rasakan sekarang adalah lapisan tanah yang harus engkau tembus. Itulah sabar."
Sabar Bukan Berdiam Diri
Seorang salik bernama Umar mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah sabar berarti kami harus menerima segala sesuatu tanpa berbuat apa-apa? Apakah sabar berarti pasrah pada keadaan?"
Mursyid menggeleng pelan. "Tidak, anakku. Itu bukan sabar. Itu keputusasaan yang menyamar sebagai kesabaran."
"Imam al-Ghazali, semoga Allah merahmatinya, mengajarkan bahwa sabar bukanlah berdiam diri tanpa usaha. Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah kepada selain Allah. Sambil tetap berusaha semaksimal mungkin."
"Perhatikanlah seorang petani tadi. Ia tidak duduk diam menunggu padi tumbuh. Ia menyiram. Ia mencabut rumput liar. Ia menjaga dari hama. Tetapi ia tidak mengeluh kepada Allah mengapa padinya belum tumbuh. Itulah sabar."
Mursyid mengangkat tangannya. Membentuk isyarat seperti memegang sesuatu. "Sabar itu seperti tali yang mengikat jiwamu. Ketika musibah datang. Jiwamu ingin meronta. Ingin berteriak. Ingin protes. Sabar adalah tali yang menahannya. Sehingga engkau tetap tenang. Tetap berhusnuzan kepada Allah. Tetap yakin bahwa apa yang Dia berikan adalah yang terbaik."
Tiga Macam Sabar
Mursyid menuangkan teh lagi ke cangkirnya. Lalu melanjutkan dengan suara yang semakin dalam.
"Para ulama membagi sabar menjadi tiga macam, dan engkau harus memahami ketiganya."
"Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Yaitu ketika engkau ditimpa sakit. Kehilangan harta. D ditinggal orang yang engkau cintai. Atau gagal dalam usaha. Sabar di sini berarti tidak mengeluh kepada manusia. Tidak menyalahkan Allah. Dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya."
"Ingatlah kisah Nabi Ayyub AS. Beliau kehilangan harta, anak, dan kesehatan. Istrinya pun hampir meninggalkannya. Tetapi beliau tidak pernah berkata buruk kepada Allah. Beliau hanya berkata: 'Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit. Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara semua penyayang.' (Al-Anbiya: 83).
Beliau tidak mengeluh. Tetapi beliau juga berdoa. Itulah sabar yang sejati. Menahan keluh kesah. Namun tetap memohon kepada Allah."
"Kedua, sabar dalam menjalankan ketaatan. Yaitu ketika engkau harus melawan rasa malas untuk bershalat. Melawan kantuk untuk bangun malam. Melawan kikir untuk bersedekah. Dan melawan hawa nafsu untuk berpuasa.
"Kedua, sabar dalam menjalankan ketaatan. Yaitu ketika engkau harus melawan rasa malas untuk bershalat. Melawan kantuk untuk bangun malam. Melawan kikir untuk bersedekah. Dan melawan hawa nafsu untuk berpuasa.
Sabar jenis ini sering kali lebih berat daripada sabar menghadapi musibah. Karena tidak ada yang melihat perjuanganmu. Engkau berjuang sendirian di tengah malam. Dan hanya Allah yang tahu."
"Ketiga, sabar dalam meninggalkan maksiat. Yaitu ketika engkau menahan diri dari perbuatan yang haram. Meskipun godongannya begitu kuat. Ketika engkau menahan pandangan dari yang bukan mahram. Menahan lisan dari ghibah. Menahan tangan dari mengambil yang bukan hakmu. Ini adalah sabar yang paling berat. Karena syaitan tidak pernah berhenti menggoda."
Mursyid memandang para salik satu per satu. "Ketahuilah, anak-anakku, ketiga macam sabar ini akan selalu hadir dalam hidupmu. Ada hari-hari di mana engkau harus sabar karena sakit. Ada hari-hari di mana engkau harus sabar karena lelah beribadah. Dan ada hari-hari di mana engkau harus sabar karena menahan diri dari dosa. Barangsiapa yang mampu melewati ketiganya. Ia telah mencapai maqam sabar yang sempurna."
Dalil-Dalil dari Al-Qur'an
Mursyid membuka mushaf kecilnya lagi. "Dengarkanlah, anak-anakku, betapa Allah memuliakan orang-orang yang sabar."
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 153)
"Perhatikan," ujar Mursyid, "Allah tidak berkata 'Allah akan bersama orang-orang yang sabar'. Ia berkata 'Allah beserta orang-orang yang sabar'. Kebersamaan Allah—apa lagi yang engkau cari, anakku? Jika Allah bersamamu, siapa yang bisa melawanmu?"
"Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).
"Ketiga, sabar dalam meninggalkan maksiat. Yaitu ketika engkau menahan diri dari perbuatan yang haram. Meskipun godongannya begitu kuat. Ketika engkau menahan pandangan dari yang bukan mahram. Menahan lisan dari ghibah. Menahan tangan dari mengambil yang bukan hakmu. Ini adalah sabar yang paling berat. Karena syaitan tidak pernah berhenti menggoda."
Mursyid memandang para salik satu per satu. "Ketahuilah, anak-anakku, ketiga macam sabar ini akan selalu hadir dalam hidupmu. Ada hari-hari di mana engkau harus sabar karena sakit. Ada hari-hari di mana engkau harus sabar karena lelah beribadah. Dan ada hari-hari di mana engkau harus sabar karena menahan diri dari dosa. Barangsiapa yang mampu melewati ketiganya. Ia telah mencapai maqam sabar yang sempurna."
Dalil-Dalil dari Al-Qur'an
Mursyid membuka mushaf kecilnya lagi. "Dengarkanlah, anak-anakku, betapa Allah memuliakan orang-orang yang sabar."
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 153)
"Perhatikan," ujar Mursyid, "Allah tidak berkata 'Allah akan bersama orang-orang yang sabar'. Ia berkata 'Allah beserta orang-orang yang sabar'. Kebersamaan Allah—apa lagi yang engkau cari, anakku? Jika Allah bersamamu, siapa yang bisa melawanmu?"
"Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar: 10)
"Tanpa batas," ulang Mursyid dengan mata berbinar. "Pahala puasa ada batasnya. Pahala haji ada batasnya. Tetapi pahala sabar tidak ada batasnya. Mengapa? Karena sabar adalah ibadah yang tidak pernah berhenti. Selama engkau masih hidup."
"Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (Al-Baqarah: 45)
Mursyid menjelaskan, "Allah tahu bahwa sabar itu berat. Karena itu, Ia tidak menyembunyikan kesulitannya. Tetapi Ia memberikan kunci shalat. Ketika engkau merasa sabarmu habis. Berdirilah untuk shalat. Di sana engkau akan menemukan kekuatan baru."
Dalil-Dalil dari Hadits
Mursyid lalu mengisahkan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW tentang sabar.
"Rasulullah SAW bersabda:
'Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya.' (HR. Muslim)
Engkau tidak pernah rugi, anakku. Baik dalam keadaan senang maupun susah. Engkau selalu dalam kebaikan. Asalkan engkau bersyukur dan bersabar."
'Barangsiapa yang bersabar, Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada pemberian yang lebih luas dan lebih baik daripada kesabaran.' (HR. Bukhari dan Muslim)
"Perhatikanlah," kata Mursyid." Sabar itu bukan hanya sesuatu yang engkau miliki. Tetapi sesuatu yang Allah berikan. Semakin engkau bersabar. Semakin Allah tambahkan kesabaran itu kepadamu. Ia seperti otot yang semakin kuat ketika dilatih."
'Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka ia mendapat keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang murka, maka ia mendapat murka Allah.' (HR. Tirmidzi)
Mursyid memandang Zaid. "Engkau bertanya mengapa hidupmu semakin sulit setelah bertaubat. Jawabannya ada dalam hadits ini. Allah mencintaimu, Zaid. Karena itu, Dia mengujimu. Ujian itu bukan tanda kemarahan. Melainkan tanda cinta. Seperti seorang ayah yang menguji anaknya bukan karena membencinya. Tetapi karena ingin melihat anaknya tumbuh dewasa."
'Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit atau kelelahan, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karena itu.' (HR. Bukhari dan Muslim)
"Bahkan duri yang menusuk kakimu," ujar Mursyid dengan senyum, "itu pun menjadi penghapus dosa. Betapa luasnya rahmat Allah kepada orang yang sabar."
Kisah Nabi Yusuf dan Kesabaran yang Menyelamatkan
Mursyid kemudian bercerita tentang Nabi Yusuf AS. Kisah yang selalu membuat para salik terpesona.
"Yusuf adalah anak yang dicintai ayahnya. Namun saudara-saudaranya cemburu. Mereka melemparkannya ke dalam sumur. Lalu menjualnya sebagai budak. Di Mesir, ia difitnah oleh istri pembesarnya dan dipenjara bertahun-tahun. Betapa panjang penderitaannya."
"Tetapi apa yang Yusuf lakukan? Ia tidak mengeluh. Ia tidak membalas. Ia tetap bersabar. Tetap beribadah. Tetap berhusnuzan kepada Allah. Dan pada akhirnya, Allah mengangkatnya menjadi pembesar Mesir. Dan ia berhasil memaafkan saudara-saudaranya yang telah menzaliminya."
Mursyid menatap para salik. "Anak-anakku, jika Yusuf tidak sabar, ia tidak akan pernah sampai pada kedudukan yang tinggi. Kesabaran bukan hanya menahan diri. Ia adalah tangga menuju kemuliaan."
Sabar adalah Tiang
Malam semakin larut. Hujan telah berhenti. Dan langit mulai cerah. Mursyid bangkit dari duduknya.Membetulkan selimutnya. Dan berkata dengan suara yang penuh wibawa.
"Anak-anakku, ketahuilah bahwa sabar adalah tiang penyangga jiwa. Tanpa sabar, imanmu akan roboh ketika angin ujian bertiup. Tanpa sabar, taubatmu akan patah ketika hawa nafsu menggoda. Tanpa sabar, engkau tidak akan pernah sampai pada maqam berikutnya. Zuhud, tawakal, dan mahabbah."
"Ingatlah pesan ini: Sabar itu pahit di awal. Tetapi manis di akhir. Seperti buah yang belum matang. Ia asam dan membuat bibirmu berkerut. Tetapi jika engkau menunggu hingga matang. Engkau akan merasakan manisnya yang tak terlukiskan."
"Dan ketahuilah, Allah tidak pernah memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Ia tahu batas kesabaranmu. Ia tidak akan memberimu beban yang tidak sanggup engkau pikul. Maka bersabarlah. Karena sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."
Mursyid menutup majelis dengan doa:
"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesabaran yang indah—kesabaran yang tidak diikuti keluhan, kesabaran yang tidak diiringi kemarahan, dan kesabaran yang membuat kami semakin dekat kepada-Mu. Amin."
Para salik mengaminkan dengan hati yang lebih lapang. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Masa-masa sulit yang ia rasakan bukanlah tanda bahwa ia salah jalan. Melainkan tanda bahwa ia sedang tumbuh. Seperti benih yang menembus tanah. Ia sedang berjuang menuju cahaya.
Malam itu, mereka pulang bukan hanya dengan pemahaman tentang sabar. Tetapi dengan kekuatan baru untuk menjalaninya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
(Nantikan Serial Tasawuf-11, tentang Zuhud)
