Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Pagi itu fajar datang seperti tamu yang telah lama dinanti. Cahayanya menyusup pelan-pelan ke dalam ribat. Menyentuh dinding-dinding kayu yang telah bertahun-tahun menyerap zikir para salik. Burung-burung bangun lebih awal dari biasanya. Suara mereka seperti tasbih yang tersebar di udara. Salik duduk di serambi. Tetapi ia tidak lagi duduk seperti orang yang datang untuk belajar. Ia duduk seperti orang yang baru kembali dari perjalanan jauh. Tubuhnya masih di ribat. Tetapi hatinya masih meraba-raba sesuatu yang belum ia pahami.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani datang membawa dua potong roti dan secangkir susu. Beliau meletakkannya di antara mereka. Lalu duduk tanpa berkata-kata. Beberapa saat mereka hanya mendengar burung-burung dan angin pagi.
“Engkau belum pulang, anakku,”Akhirnya Mursyid membuka suara. “Tubuhmu ada di sini. Tetapi hatimu masih di tepi lautan itu. Engkau telah fana. Engkau telah melihat bahwa engkau tidak ada. Tetapi engkau belum baqa. Engkau belum kembali.”
Salik menunduk. “Guru, aku tidak tahu bagaimana harus kembali. Ketika aku melihat bahwa diriku tidak ada. Aku merasa tidak ada gunanya aku berbuat apa-apa. Aku merasa semua amal itu sia-sia. Sebab yang beramal bukan aku. Aku merasa seperti bayangan yang tidak perlu bergerak. Sebab yang bergerak adalah yang menimbulkan bayangan.”
Mursyid tersenyum, tetapi senyum itu bukan senyum ringan. “Itu bukan baqa, anakku. Itu istidraj yang halus. Engkau telah melihat kefanaan. Lalu engkau berhenti di situ. Engkau seperti orang yang telah menyeberangi sungai. Lalu duduk di tepi seberang tanpa mau masuk ke negeri yang ia tuju.
Ketahuilah, fanā’ itu bukan tujuan. Fanā’ itu adalah pintu. Adapun tujuannya adalah baqā’ . Engkau kembali kepada wujudmu. Tetapi engkau kembali dengan kesadaran baru. Engkau ada karena Allah mengadakanmu. Engkau hidup karena Allah menghidupkanmu. Engkau berbuat karena Allah menggerakkanmu.”
“Apakah baqa’ berarti aku kembali seperti dahulu, Guru?”
“Tidak seperti dahulu, anakku. Orang yang kembali dari fanā’ itu tidak sama dengan orang yang belum pernah fana. Engkau seperti orang yang telah masuk ke dalam lautan. Lalu keluar dengan tubuh yang masih basah. Engkau tidak sama dengan orang yang hanya mendengar tentang lautan. Engkau telah merasakan kedalamannya. Dan sekarang engkau kembali ke pantai dengan membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh orang lain: ma‘rifah, Pengenalan.”
Salik mengangkat wajahnya. “Lalu apa yang harus aku lakukan dengan pengenalan itu, Guru?”
“Engkau harus kembali kepada manusia, anakku. Engkau harus kembali bekerja, kembali beribadah, kembali berinteraksi, kembali menanggung amanah. Tetapi engkau kembali bukan sebagai orang yang mencari pujian, bukan sebagai orang yang takut celaan, bukan sebagai orang yang mengejar dunia. Engkau kembali sebagai alat di tangan Allah.
“Apakah baqa’ berarti aku kembali seperti dahulu, Guru?”
“Tidak seperti dahulu, anakku. Orang yang kembali dari fanā’ itu tidak sama dengan orang yang belum pernah fana. Engkau seperti orang yang telah masuk ke dalam lautan. Lalu keluar dengan tubuh yang masih basah. Engkau tidak sama dengan orang yang hanya mendengar tentang lautan. Engkau telah merasakan kedalamannya. Dan sekarang engkau kembali ke pantai dengan membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh orang lain: ma‘rifah, Pengenalan.”
Salik mengangkat wajahnya. “Lalu apa yang harus aku lakukan dengan pengenalan itu, Guru?”
“Engkau harus kembali kepada manusia, anakku. Engkau harus kembali bekerja, kembali beribadah, kembali berinteraksi, kembali menanggung amanah. Tetapi engkau kembali bukan sebagai orang yang mencari pujian, bukan sebagai orang yang takut celaan, bukan sebagai orang yang mengejar dunia. Engkau kembali sebagai alat di tangan Allah.
Engkau kembali sebagai pena yang siap menulis apa yang diperintahkan. Engkau kembali sebagai bayangan yang siap mengikuti cahaya. Engkau kembali sebagai hamba, bukan sebagai tuan.”
“Tetapi Guru,” kata salik, “bukankah dunia ini penuh tipu daya? Bukankah lebih baik aku tinggal di ribat, menjauh dari manusia, dan beribadah sampai mati?”
Mursyid menggeleng. “Itu bukan baqa, anakku. Itu pelarian. Ketahuilah, bahwa orang yang telah fana lalu kembali ke dunia itu lebih mulia daripada orang yang tinggal di ribat tetapi belum pernah fana.
“Tetapi Guru,” kata salik, “bukankah dunia ini penuh tipu daya? Bukankah lebih baik aku tinggal di ribat, menjauh dari manusia, dan beribadah sampai mati?”
Mursyid menggeleng. “Itu bukan baqa, anakku. Itu pelarian. Ketahuilah, bahwa orang yang telah fana lalu kembali ke dunia itu lebih mulia daripada orang yang tinggal di ribat tetapi belum pernah fana.
Sebab orang yang kembali itu telah melihat bahwa dunia ini bukan tujuan. Tetapi ia juga melihat bahwa dunia ini adalah ladang. Ia tidak terikat pada dunia. Tetapi ia juga tidak meninggalkannya. Ia seperti orang yang berjalan di atas air. Ia tidak tenggelam. Tetapi ia juga tidak terbang. Ia berjalan dengan izin Allah.”
“Bagaimana aku bisa berjalan di atas air tanpa tenggelam, Guru?”
“Ada tiga penjaga, anakku. Pertama, syariat. Jangan engkau tinggalkan perintah dan larangan. Meskipun engkau telah melihat rahasia-rahasia. Orang yang telah sampai pada baqa justru semakin ketat menjaga syariat. Sebab ia tahu bahwa syariat itu adalah jalan yang Allah tetapkan. Bukan jalan yang ia ciptakan.
“Bagaimana aku bisa berjalan di atas air tanpa tenggelam, Guru?”
“Ada tiga penjaga, anakku. Pertama, syariat. Jangan engkau tinggalkan perintah dan larangan. Meskipun engkau telah melihat rahasia-rahasia. Orang yang telah sampai pada baqa justru semakin ketat menjaga syariat. Sebab ia tahu bahwa syariat itu adalah jalan yang Allah tetapkan. Bukan jalan yang ia ciptakan.
Kedua, khidmah: Pelayanan. Jangan engkau sibuk dengan penglihatanmu. Tetapi sibuklah dengan melayani manusia. Sebab orang yang telah melihat Allah tetapi tidak melayani manusia itu belum sempurna.
Ketiga, tawadhu‘: Kerendahan hati. Jangan engkau merasa bahwa engkau telah sampai. Tetapi merasa bahwa engkau masih dalam perjalanan. Orang yang merasa telah sampai itu berhenti; Orang yang merasa masih dalam perjalanan itu terus berjalan.”
Salik merenung. “Guru, aku merasa bahwa aku tidak lagi memiliki keinginan. Aku tidak ingin makan. Aku tidak ingin tidur. Aku tidak ingin berbicara. Apakah itu tanda baqa’?”
“Hati-hati, anakku. Itu bisa menjadi tanda baqa’. Bisa juga menjadi tanda kelemahan. Orang yang telah baqa tidak kehilangan keinginan. Tetapi keinginannya telah berubah.
Salik merenung. “Guru, aku merasa bahwa aku tidak lagi memiliki keinginan. Aku tidak ingin makan. Aku tidak ingin tidur. Aku tidak ingin berbicara. Apakah itu tanda baqa’?”
“Hati-hati, anakku. Itu bisa menjadi tanda baqa’. Bisa juga menjadi tanda kelemahan. Orang yang telah baqa tidak kehilangan keinginan. Tetapi keinginannya telah berubah.
Ia tidak lagi menginginkan dunia untuk dirinya. Tetapi ia menginginkan dunia untuk Allah. Ia makan bukan karena tubuhnya membutuhkan. Tetapi ia makan dengan niat agar kuat beribadah. Ia tidur bukan karena tubuhnya membutuhkan. Tetapi ia tidur dengan niat agar bangun untuk beribadah.
Ia berbicara karena manusia membutuhkan. Tetapi ia berbicara dengan niat agar manusia mengingat Allah. Keinginannya tidak hilang. Keinginannya telah disucikan.”
Mursyid mengambil sepotong roti dan menyerahkannya pada salik. “Makanlah, anakku. Jangan engkau meninggalkan makan karena engkau merasa telah fana. Tubuhmu adalah amanah. Bila engkau tidak menjaganya. Engkau tidak bisa beribadah. Orang yang telah baqa itu menjaga tubuhnya. Tetapi hatinya tidak terikat pada tubuhnya. Ia menjaga dunia. Tetapi hatinya tidak terikat pada dunia.”
Salik memakan roti itu perlahan. Ia merasakan sesuatu yang baru: ia makan, tetapi ia tidak merasa bahwa ia yang makan. Ia merasa bahwa Allah yang memberi makan. Dan ia hanya alat yang menerima. Ia makan dengan syukur. Bukan dengan tamak.
“Guru,” katanya, “bagaimana aku bisa mengetahui bahwa aku telah benar-benar baqa’?”
“Tandanya ada empat. Pertama, engkau kembali kepada manusia dengan hati yang penuh kasih. Bukan dengan hati yang penuh penghinaan. Engkau melihat manusia sebagai hamba-hamba Allah. Bukan sebagai orang-orang yang lebih rendah dari engkau.
Mursyid mengambil sepotong roti dan menyerahkannya pada salik. “Makanlah, anakku. Jangan engkau meninggalkan makan karena engkau merasa telah fana. Tubuhmu adalah amanah. Bila engkau tidak menjaganya. Engkau tidak bisa beribadah. Orang yang telah baqa itu menjaga tubuhnya. Tetapi hatinya tidak terikat pada tubuhnya. Ia menjaga dunia. Tetapi hatinya tidak terikat pada dunia.”
Salik memakan roti itu perlahan. Ia merasakan sesuatu yang baru: ia makan, tetapi ia tidak merasa bahwa ia yang makan. Ia merasa bahwa Allah yang memberi makan. Dan ia hanya alat yang menerima. Ia makan dengan syukur. Bukan dengan tamak.
“Guru,” katanya, “bagaimana aku bisa mengetahui bahwa aku telah benar-benar baqa’?”
“Tandanya ada empat. Pertama, engkau kembali kepada manusia dengan hati yang penuh kasih. Bukan dengan hati yang penuh penghinaan. Engkau melihat manusia sebagai hamba-hamba Allah. Bukan sebagai orang-orang yang lebih rendah dari engkau.
Kedua, engkau kembali bekerja dengan tekun, bukan dengan malas. Engkau tahu bahwa kerja itu adalah ibadah, dan engkau tahu bahwa Allah mencintai hamba yang bekerja dengan sungguh-sungguh.
Ketiga, engkau kembali beribadah dengan penuh kesadaran. Bukan dengan penuh kebanggaan. Engkau tahu bahwa ibadahmu adalah karunia. Engkau tahu bahwa engkau tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan.
Keempat, engkau kembali hidup dengan sederhana, bukan dengan mewah. Engkau tahu bahwa dunia ini adalah titipan. Engkau tahu bahwa titipan itu akan diambil kembali.”
Salik meneteskan air mata. “Ya Allah, aku ingin kembali, tetapi aku takut kembali.”
“Rasa takut itu adalah penjagamu, anakku. Orang yang takut kembali itu lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman. Teruslah berjalan dengan adab.
Salik meneteskan air mata. “Ya Allah, aku ingin kembali, tetapi aku takut kembali.”
“Rasa takut itu adalah penjagamu, anakku. Orang yang takut kembali itu lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman. Teruslah berjalan dengan adab.
Engkau telah melewati empat pintu tajalliy: tajalli dalam perbuatan, tajalli dalam nama dan sifat, tajalli dalam dzat, dan tajalli dalam baqa’.
Tetapi ketahuilah, bahwa pintu-pintu ini bukanlah tingkat-tingkat yang bisa engkau hitung dengan angka. Ia adalah lautan yang tidak bertepi.
Engkau bisa menyelam lebih dalam. Tetapi engkau tidak akan pernah mencapai dasarnya. Maka jangan engkau merasa bahwa engkau telah selesai. Engkau belum selesai. Engkau baru saja memulai.”
Mursyid bangkit, lalu berjalan ke pintu ribat. Beliau membukanya, dan cahaya pagi masuk membanjiri ruangan. “Lihatlah cahaya ini,” katanya. “Ia masuk ke dalam ribat, tetapi ia tidak berhenti di dalam. Ia menerangi, lalu ia keluar.
Mursyid bangkit, lalu berjalan ke pintu ribat. Beliau membukanya, dan cahaya pagi masuk membanjiri ruangan. “Lihatlah cahaya ini,” katanya. “Ia masuk ke dalam ribat, tetapi ia tidak berhenti di dalam. Ia menerangi, lalu ia keluar.
Begitu pula engkau. Engkau masuk ke dalam ribat untuk belajar. Lalu engkau keluar untuk mengajar. Engkau masuk untuk menerima. Lalu engkau keluar untuk memberi. Engkau masuk untuk fana. Lalu engkau keluar untuk baqa.”
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke pintu. Ia berdiri di ambang pintu. Memandang dunia yang terbentang di luar. Ia melihat jalan, sawah, pasar, manusia, dan langit yang luas.
Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke pintu. Ia berdiri di ambang pintu. Memandang dunia yang terbentang di luar. Ia melihat jalan, sawah, pasar, manusia, dan langit yang luas.
Ia tidak lagi melihat dunia sebagai tempat yang menakutkan. Ia melihatnya sebagai ladang yang harus digarap. Ia tidak lagi melihat manusia sebagai ancaman. Ia melihat mereka sebagai saudara yang harus dilayani.
“Guru,” katanya, “aku akan pergi. Tetapi aku tidak tahu apakah aku akan kembali.”
Mursyid tersenyum. “Engkau tidak perlu kembali ke sini, anakku. Engkau hanya perlu kembali kepada Allah. Dan Allah itu ada di mana-mana. Engkau bisa menemukan-Nya di ribat, di pasar, di sawah, di rumah, di jalan. Maka pergilah, dan jadilah hamba yang baqa.
“Guru,” katanya, “aku akan pergi. Tetapi aku tidak tahu apakah aku akan kembali.”
Mursyid tersenyum. “Engkau tidak perlu kembali ke sini, anakku. Engkau hanya perlu kembali kepada Allah. Dan Allah itu ada di mana-mana. Engkau bisa menemukan-Nya di ribat, di pasar, di sawah, di rumah, di jalan. Maka pergilah, dan jadilah hamba yang baqa.
Jadilah pena yang menulis kebaikan. Jadilah bayangan yang mengikuti cahaya. Jadilah air yang meresap ke dalam tanah. Lalu menumbuhkan bunga-bunga kebaikan.”
Salik melangkah keluar. Ia tidak lagi merasa sebagai salik yang mencari. Ia merasa sebagai hamba yang telah menemukan. Ia tidak lagi merasa sebagai orang yang berjalan menuju Allah. Ia merasa sebagai orang yang berjalan bersama Allah.
Salik melangkah keluar. Ia tidak lagi merasa sebagai salik yang mencari. Ia merasa sebagai hamba yang telah menemukan. Ia tidak lagi merasa sebagai orang yang berjalan menuju Allah. Ia merasa sebagai orang yang berjalan bersama Allah.
Dan dalam langkahnya yang pertama di luar ribat, ia berbisik, “Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, Engkaulah Yang Akhir, Engkaulah Yang Zahir, Engkaulah Yang Batin. Aku telah fana, dan Engkaulah Yang Baqa. Aku telah kembali, dan Engkaulah Yang Menyertai. Jadikanlah langkahku sebagai langkah yang Engkau ridhai. Dan jadikanlah hidupku sebagai hidup yang Engkau berkahi.”
Mursyid memandang dari pintu ribat, lalu berkata lirih, “Engkau telah sampai pada pintu keempat, anakku.
Mursyid memandang dari pintu ribat, lalu berkata lirih, “Engkau telah sampai pada pintu keempat, anakku.
Tetapi ketahuilah, bahwa pintu ini bukanlah akhir. Masih ada perjalanan yang lebih panjang. Engkau telah baqa, kini engkau harus terus berjalan. Engkau telah kembali, kini engkau harus terus kembali. Sebab perjalanan menuju Allah itu tidak pernah berakhir. Dan setiap akhir adalah awal yang baru.”
Dan salik pun berjalan menyusuri jalan yang berdebu. Menuju dunia yang menantinya. Ia tidak lagi membawa beban. Tetapi ia juga tidak lagi membawa kesombongan.
Dan salik pun berjalan menyusuri jalan yang berdebu. Menuju dunia yang menantinya. Ia tidak lagi membawa beban. Tetapi ia juga tidak lagi membawa kesombongan.
Ia membawa sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Sebuah cahaya yang menyala di dalam dadanya. Yang tidak berasal dari dirinya. Tetapi yang telah menjadi bagian dari dirinya.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Serial Tasawuf Takhalliy, Tahalliy dan Tajalliy telah Selesai
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Serial Tasawuf Takhalliy, Tahalliy dan Tajalliy telah Selesai
Insyaallah akan dilanjutkan Ngaji Al-Hikam dari Syekh Ahmad bin Atho'illah as-Sakandari.
