Jumat, 30 Oktober 2026

Serial Tasawuf-37 Al-Hikam: Hikmah Keempat, "Istirahatkan Hati dari Lelahnya Mengatur"


Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup lebih dingin dari biasanya. Para salik duduk melingkar di beranda zawiyah. Tetapi suasana tidak seperti malam-malam sebelumnya. Wajah-wajah mereka tampak lelah. Bukan lelah karena perjalanan. Melainkan lelah karena pikiran. Syekh Ahmad bin Atha'illah as-Sakandari memasuki majelis dengan tenang. Memandang satu per satu muridnya. Lalu duduk tanpa berkata apa-apa. Ia menunggu.

Akhirnya, Zaid membuka suara. "Wahai Mursyid, aku tidak bisa tidur nyenyak beberapa malam ini. Pikiranku terus berputar. Aku memikirkan pekerjaanku. Masa depanku. Keluargaku. Aku telah berusaha mengatur segalanya. Tetapi tetap saja ada yang salah. Aku lelah, Wahai Mursyid."

Ibnu Atha'illah tersenyum tipis. "Engkau lelah bukan karena engkau terlalu banyak berusaha, Zaid. Engkau lelah karena engkau terlalu banyak mengatur. "

Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:

ارح نفسك من التدبير فما قام به غيرك لا تقم به انت لنفسك

"Istirahatkanlah dirimu dari (lelahnya) mengatur. Apa yang telah dilakukan oleh selain dirimu (yakni Allah) untukmu, maka janganlah engkau kerjakan sendiri."

Apa Itu Tadbir?

Seorang salik bernama Umar mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apa yang dimaksud dengan tadbir? Bukankah merencanakan masa depan itu hal yang baik?"

Ibnu Atha'illah menjawab, "Tadbir adalah merencanakan dan mengatur urusan di masa depan. Disertai keyakinan bahwa engkaulah yang menentukan hasilnya. " "Ini berbeda dari sekadar berusaha. Berusaha itu diperintahkan. Tetapi merasa bahwa keberhasilan bergantung pada usahamu sendiri. Itu yang dimaksud dengan tadbir yang tercela."

"Jiwa manusia akan buntu dan lelah jika harus memikirkan, apalagi memastikan, keadaan di masa depan. Alih-alih menemukan kepastian. Jiwa malah tercerabut dari kewajiban yang sedang dan seharusnya dijalaninya."

Syekh Zarruq, dalam syarahnya, menjelaskan bahwa tadbir yang tercela adalah ketika engkau menyertakan keazaman dan keteguhan hati yang berlebihan. Seolah engkaulah yang mengendalikan takdir. 

"Engkau tidak akan mencapai apa pun dengan dirimu sendiri. Biasanya apa yang engkau mulai untuk dirimu sendiri tidak dibantu oleh angin takdir, Dan justru diikuti oleh kecemasan serta masalah."

Dalil Pertama: Allah-lah yang Mengatur Segala Urusan

Ibnu Atha'illah membuka mushafnya. "Allah berfirman:

'Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengatur segala urusan.' (QS. Yunus: 3)"

"Perhatikanlah, Zaid. Allah tidak berkata 'Dia mengatur sebagian urusan.' Ia berkata 'segala urusan' . Tanpa kecuali. Urusan rezekimu, urusan jodohmu, urusan masa depanmu. Bahkan urusan detak jantungmu. Semua diatur oleh-Nya."

Dan Allah juga berfirman:

'Ingatlah, segala urusan kembali kepada Allah.' (QS. Al-A'raf: 54)

"Jika segala urusan kembali kepada Allah, mengapa engkau masih merasa perlu mengatur segalanya sendiri?"

Dalil Kedua: Barangsiapa Bertawakal, Allah akan Mencukupinya

Seorang salik bernama Fatimah bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana caranya agar kami bisa berhenti merasa harus mengatur segalanya?"

Ibnu Atha'illah menjawab dengan sebuah ayat yang paling sering beliau ulang dalam majelis:

'Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah menetapkan kadar bagi tiap-tiap sesuatu.' (QS. At-Talaq: 3)"

"Perhatikanlah, Fatimah. Allah tidak berkata 'barangsiapa bertawakal, maka ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.' Ia berkata 'Allah akan mencukupkannya.' Engkau mungkin tidak mendapatkan apa yang engkau rencanakan. Tetapi engkau akan mendapatkan apa yang engkau butuhkan. Dan itu jauh lebih baik."

Dalil Ketiga: Allah Tidak Pernah Tidur

Ibnu Atha'illah kemudian berkata dengan suara yang lebih pelan. "Ketahuilah, anakku, bahwa engkau sering terjaga di malam hari karena engkau merasa tidak ada yang mengurus urusanmu. Engkau merasa jika engkau tidak memikirkannya. Maka tidak ada yang memikirkannya."

"Padahal, Allah berfirman:

'Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur.' (QS. Al-Baqarah: 255)"

"Allah tidak pernah tidur, Zaid. Ketika engkau tertidur, Dia terjaga. Ketika engkau lupa, Dia mengingat. Ketika engkau lengah, Dia mengawasi. Engkau tidak perlu mengatur segalanya. Karena ada Dzat yang mengatur segalanya untukmu. "

Dalil Keempat: Sikap Mengatur yang Diperbolehkan

Umar bertanya lagi, "Wahai Mursyid, apakah semua tadbir itu tercela? Apakah kami tidak boleh merencanakan apa pun?"

Ibnu Atha'illah menggeleng. "Tidak, anakku. Tadbir yang dibarengi dengan kepasrahan kepada Zat yang Maha Mengatur, maka itu tidak apa-apa."

Nabi SAW bersabda:

'Sikap mengatur adalah separuh dari pendapatan.' (HR. Abu Dawud)

"Artinya, merencanakan itu baik. Bekerja itu baik. Mengatur strategi itu baik. Tetapi setelah engkau merencanakan, serahkanlah hasilnya kepada Allah. Jangan sampai rencanamu membuatmu lupa bahwa Allah-lah yang menentukan segalanya."

Penutup: Kembalikan Beban kepada Pemiliknya

Malam semakin larut. Ibnu Atha'illah bangkit dari duduknya. Membetulkan selendangnya. Memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Zaid," ujarnya, "engkau lelah karena engkau membawa beban yang bukan milikmu. Engkau membawa beban mengatur masa depan, padahal itu milik Allah. Engkau membawa beban memastikan hasil. Padahal itu milik Allah. Engkau membawa beban mengendalikan segala sesuatu. Padahal itu milik Allah."

"Kembalikanlah beban itu kepada Pemiliknya. Istirahatkanlah dirimu dari lelahnya mengatur. Serahkanlah urusanmu kepada Dzat yang tidak pernah lelah. Tidak pernah lupa. Dan tidak pernah lengah."

"Maka berdoalah: 'Ya Allah, aku telah mencoba mengatur hidupku, tetapi aku lelah. Kini aku serahkan segala urusanku kepada-Mu. Engkaulah sebaik-baik pengatur. Dan aku hanyalah hamba yang membutuhkan-Mu.'"

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Zaid menghela napas panjang. Napas yang terasa lebih ringan dari napas-napas sebelumnya. Ia tidak perlu mengatur segalanya. Ia hanya perlu berusaha, lalu bertawakal. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasa damai.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Bersambung ke hikmah kelima: Mata Hati yang Buta

Serial Tasawuf-37 Al-Hikam: Hikmah Keempat, "Istirahatkan Hati dari Lelahnya Mengatur"

Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup lebih dingin dari biasanya. Para salik duduk melingkar di beranda zawiyah. Tetapi suasana tidak s...