Narasi Pemicu: Nama Tuanku Imam Bonjol nyaris selalu berdampingan dengan dua kata: Padri dan Wahabi. Di buku pelajaran, ia digambarkan sebagai pemimpin gerakan puritan yang ingin membersihkan Islam Minangkabau dari praktik bid’ah. Terinspirasi ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab di Arab Saudi. Label itu begitu melekat. Seolah tak perlu diuji lagi. Padahal, jika kita membaca ulang sejarah dengan lebih jujur, ada yang ganjil. Bagaimana mungkin seorang “Wahabi” menjadi murid dan pengamal tarekat Sufi? Bagaimana mungkin gerakan yang disebut anti-tasawuf justru lahir dari rahim jaringan tarekat yang paling mapan di Nusantara?
Keahlian di Bidang Tasawuf
Mari mulai dari biografi yang jarang dikutip. Tuanku Imam Bonjol, yang bernama asli Muhammad Syahab, bukan hanya ahli fikih. Catatan sejarah menunjukkan bahwa ia memiliki keahlian di bidang tasawuf.
Ia disebut sebagai murid Syekh Mansur Padang Guci. Seorang ulama Tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Persia. Pada 1818, ia memperdalam ilmu Tarekat Naqsyabandiyah di Bonjol.
Ini bukan keterangan sembarangan. Ia menunjukkan bahwa Imam Bonjol adalah bagian dari jaringan spiritual yang justru paling ditolak oleh Wahabisme. Kaum Wahabi di Arab Saudi menentang keras praktik tasawuf dan tarekat karena dianggap berlebihan dalam berhubungan dengan Allah.
Jika Imam Bonjol benar-benar Wahabi. Mengapa ia justru menekuni jalan spiritual yang mereka kutuk?
Gerakan Padri diatas Fondasi Tarekat
Bukan hanya Imam Bonjol secara pribadi. Gerakan Padri yang ia pimpin pun dibangun di atas fondasi tarekat. Sebuah catatan ensiklopedis menyebutkan bahwa gerakan Padri “dibangun di atas gerakan pembaruan Minangkabau sebelumnya. yang diprakarsai oleh dua tarekat Sufi utama” yang menjadi instrumen penyebaran Islam di dataran tinggi Sumatra: Naqsyabandiyah dan Syattariyah.
Gerakan Padri diatas Fondasi Tarekat
Bukan hanya Imam Bonjol secara pribadi. Gerakan Padri yang ia pimpin pun dibangun di atas fondasi tarekat. Sebuah catatan ensiklopedis menyebutkan bahwa gerakan Padri “dibangun di atas gerakan pembaruan Minangkabau sebelumnya. yang diprakarsai oleh dua tarekat Sufi utama” yang menjadi instrumen penyebaran Islam di dataran tinggi Sumatra: Naqsyabandiyah dan Syattariyah.
Bahkan, strategi dakwah kaum Padri disebut menggunakan “pendekatan tarekat dan tasawuf” untuk menyentuh hati masyarakat. Ini adalah fakta yang membalikkan narasi arus utama. Jika inti gerakan Padri adalah tarekat. Maka menempelkan label Wahabi padanya adalah kekeliruan historis yang serius.
Merayakan Maulid Nabi
Bukti lain datang dari praktik keagamaan. Kaum Padri, di bawah kepemimpinan Imam Bonjol, sama sekali tidak menentang ziarah kubur. Praktik yang justru paling keras dikecam Wahabi.
Merayakan Maulid Nabi
Bukti lain datang dari praktik keagamaan. Kaum Padri, di bawah kepemimpinan Imam Bonjol, sama sekali tidak menentang ziarah kubur. Praktik yang justru paling keras dikecam Wahabi.
Mereka juga masih merayakan Maulid Nabi, sebuah tradisi yang oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya dianggap bid’ah. Jika Imam Bonjol adalah Wahabi, mengapa ia membiarkan praktik yang menjadi sasaran utama gerakan puritan itu tetap hidup? Ini bukan sekadar detail kecil. Ini adalah bukti bahwa identitas keagamaannya tidak cocok dengan label yang dilekatkan padanya.
Darimana Label Wahabo Berasal?
Lalu dari mana label “Wahabi” itu berasal? Sejarah menunjukkan bahwa orang pertama yang menduga gerakan Padri sebagai Wahabi adalah Pieter Johannes Veth. Seorang ahli bahasa dan kebudayaan Timur asal Belanda yang belum pernah sekali pun datang ke Nusantara.
Darimana Label Wahabo Berasal?
Lalu dari mana label “Wahabi” itu berasal? Sejarah menunjukkan bahwa orang pertama yang menduga gerakan Padri sebagai Wahabi adalah Pieter Johannes Veth. Seorang ahli bahasa dan kebudayaan Timur asal Belanda yang belum pernah sekali pun datang ke Nusantara.
Veth melihat kesamaan metode kekerasan. Lalu menyimpulkan bahwa Padri adalah cabang Wahabi. Dugaan itu kemudian dibantah tegas oleh Bertran Johannes Otto Schrieke. Yang mencatat bahwa kaum Padri tidak menentang ziarah kubur, masih merayakan Maulid, dan terpecah dalam banyak kepemimpinan.
Hal ini berbeda dengan Wahabi yang tersentralisasi. Dengan kata lain, label “Wahabi” bukanlah fakta sejarah, Melainkan konstruksi kolonial yang kemudian diwarisi tanpa kritik oleh banyak penulis dan bahkan oleh sebagian umat Islam sendiri.
Mitos Tak Berdasar
Ironisnya, label itu terus direproduksi. Seorang tokoh NU bahkan pernah menyatakan, “Meski Imam Bonjol beraliran Wahabi, ia tidak mencampuri urusan domestik seperti mengkafirkan...”
Mitos Tak Berdasar
Ironisnya, label itu terus direproduksi. Seorang tokoh NU bahkan pernah menyatakan, “Meski Imam Bonjol beraliran Wahabi, ia tidak mencampuri urusan domestik seperti mengkafirkan...”
Pernyataan semacam ini. Betapapun niatnya baik untuk memoderasi citra Wahabi. Justru mengukuhkan mitos yang sama sekali tidak berdasar. Padahal, bukti-bukti yang ada justru menunjukkan sebaliknya: Imam Bonjol adalah seorang Sufi, pengamal tasawuf, dan bagian dari tradisi tarekat yang menjadi tulang punggung penyebaran Islam di Minangkabau.
Bahkan, sebuah catatan tentang naskah kuno menegaskan bahwa “Tuanku Imam Bonjol Berakidah Ahlussunnah wal Jamaah, Pengamal Tasawwuf, dan Bertarekat.”
Mengapa Penting Diungkap?
Mengapa koreksi ini penting? Karena label “Wahabi” bukan sekadar istilah akademis. Ia membawa muatan ideologis. Ia mencitrakan Imam Bonjol sebagai bagian dari gerakan yang anti-tradisi, anti-kultur lokal, dan keras terhadap perbedaan.
Mengapa Penting Diungkap?
Mengapa koreksi ini penting? Karena label “Wahabi” bukan sekadar istilah akademis. Ia membawa muatan ideologis. Ia mencitrakan Imam Bonjol sebagai bagian dari gerakan yang anti-tradisi, anti-kultur lokal, dan keras terhadap perbedaan.
Padahal, gerakan Padri yang ia pimpin pada akhirnya justru bergeser ke arah moderasi. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Imam Bonjol kemudian meninggalkan ideologi Wahabi yang sempat ia anut dan mengembalikan kekuasaan politik kepada pemimpin adat.
Ia menyadari bahwa sikap keras telah memperkeruh konflik. Dan ia memilih jalan yang lebih bijak. Ini adalah sikap seorang Sufi yang memahami hakikat. Bukan seorang puritan yang fanatik.
Ia Ulama Fikih dan Tasawuf
Maka, ketika kita mengenang Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional, kita perlu berhenti memaksakan label yang tidak cocok untuknya. Ia adalah ulama yang menguasai fikih dan tasawuf. Murid seorang mursyid Naqsyabandiyah. Dan pemimpin yang pada akhirnya memilih hikmah di atas kekerasan.
Ia Ulama Fikih dan Tasawuf
Maka, ketika kita mengenang Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional, kita perlu berhenti memaksakan label yang tidak cocok untuknya. Ia adalah ulama yang menguasai fikih dan tasawuf. Murid seorang mursyid Naqsyabandiyah. Dan pemimpin yang pada akhirnya memilih hikmah di atas kekerasan.
Menyebutnya Wahabi bukan hanya keliru secara historis. Tetapi juga mengaburkan warisan spiritual yang justru menjadi kekuatannya. Di balik benteng Bonjol, yang berdiri teguh bukanlah seorang puritan Arab. Melainkan seorang Sufi Nusantara yang berjuang dengan zikir dan pedang. Dengan tarekat dan keberanian.
Sudah waktunya sejarah ditulis ulang dengan lebih adil: Tuanku Imam Bonjol adalah Sufi. Bukan Wahabi.
