Selasa, 23 Maret 2021

Abu Madyan, sufi tak terkenal yang menggetarkan para wali

Abu Madyan, mahaguru kaum sufi
Barangkali bagi kita yg menetap di kawasan Asia Tenggara tak banyak mengenal wali besar kawasan Barat yg bernama Abu Madyan tersebut, karena pengaruh Syekh Abdul Qadir Jailani yg hidup sezaman dengannya lebih dominan di sini. Sesungguhnya Abu Madyan adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Tasawuf yg membentuk lanskap ruhani di kawasan maghribi.

Abu Madyan, yang diyakini menempati peringat Qutb al-Awliya al-Ghauts al-Adhim, juga diakui sebagai Syaikh al-Masyayikh (Gurunya para guru). Beliau hidup sezaman dengan Wali agung lainnya, Syekh IBN ‘ARABI, dan bahkan Ibn Arabi berguru kepadanya secara spiritual, karena keduanya tidak pernah bertemu secara fisik – tetapi Syekh Ibn ‘Arabi sempat menziarahi makamnya di Tlemcen. Syekh Abu Madyan ini juga mempunyai murid lain yang kelak juga menjadi Qutub, Syekh Abdus Salam bin Masyisy, guru dari Syekh Abu Hasan Syadzili, pendiri tarekat Syadiziliyyah. Abu Madyan boleh dikatakan telah membentuk kecenderungan utama aliran Tasawuf di kawasan Maghribi.

Syekh Abu Madyan pertama kali dibaiat ke jalan Sufi oleh Syekh Abdullah al-Daqaq, seorang sufi eksentrik yang sering berkeliaran di jalan-jalan dan berteriak mengaku-aku dirinya Wali Allah, dan oleh Syekh Abu Hasan al-Salawi, seorang sufi misterius. Kepada Syekh al-Daqqaq, seorang Wali Allah yang aneh dan luar biasa, Abu Madyan mendalami kandungan kitab Tasawuf penting, ar-Risalah karya Abu Al-Qasim Al-Qusyairi. Syekh Abu Madyan juga berteman dan berguru kepada Syekh Ahmad Rifa’i, seorang Wali Qutub pendiri Tarekat Rifa’iyyah di Irak. Meski disebut2 ketenaran dan signifikansinya sejajar dengan Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Abu Madyan mengakui dan tunduk pada ucapan syatahat Syekh Abdul Qadir Jailani, “Kakiku berada di atas bahu Awliya Allah” dan salah satu riwayat mengatakan beliau menerima ijazah ruhaniah dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Melalui jalur Abu Madyan inilah di kawasan maghribi muncul sufi-sufi besar yg menjadi poros2 utama kewalian di kawasan maghribi dan sekitarnya. Syekh Ahmad Rifa’i, guru dari Syekh ABu Madyan, juga dikenal sebagai sufi yg eksentrik. Tarekatnya dianggap agak aneh karena cara zikirnya yang terdengar seperti meraung atau seperti suara gergaji. Pengikut Tarekat Rifaiyyah belakangan lebih dikenal karena kekuatan dan keajaiban-keajaiban mereka, seperti kebal senjata, kebal racun dan sebagainya. 

Tentu saja, efek-efek ini menyebabkan tarekat ini rawan diselewengkan oleh orang-orang yg tidak bertanggung jawba, sehingga sebagian sufi secara tegas mengecam penyimpangan tersebut tersebut. Namun apapun penyelewengan itu, ajaran dan amalan Syekh Ahmad Rifai sesungguhnya adalah amalan tarekat yang mu’tabar, atau sesuai dengan Qur’an dan Sunnah Nabi.

Jadi pada periode sesudah Syekh Abu Hamid al-Ghazali ini mulai berkembang bentuk baru organisasi tarekat yang strukturnya lebih kompleks. Perkembangan ini barangkali adalah keniscayaan sebab pada masa itu mulai banyak sekali orang Islam yg menempuh jalan ruhani (tasawuf). Sebagaimana lazimnya sesuatu yang menjadi besar, selalu ada penyimpangan-penyimpangan yg dilakukan oleh sufi-sufi palsu. Karenanya, sebagian syekh Sufi merasa perlu “melembagakan” ajarannya dalam satu wadah di mana otoritas mursyid yg kamil-mukammil bertindak sebagai pembimbing sekaligus penjaga agar pengikut mereka tidak menyeleweng. Tetapi itu bukan berarti bahwa sufi-sufi yang berada di luar organisasi tarekat tidak menjalankan amalan tarekat – sebab tarekat dalam pengertian yg lebih umum adalah “Jalan” ruhani itu sendiri.

Abu Madyan

Apapun efeknya, organisasi tarekat telah membuka kesempatan baru bagi orang-orang Islam yang tidak menemukan akses ke wali-wali Allah yg biasanya tersembunyi. Kemunculan wali-wali masyhur di dalam organisasi tarekat menambah semarak perkembangan keruhanian Islam. Sebagian dari alasan meningkatnya popularitas tarekat paada saat itu adalah karena kondisi sosial politik di dunia ISlam sedang mengalami pergolakan hebat, setelah pasukan Salib mulai merangsek ke wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam. Banyak murshid-murshid tarekat dan sufi-sufi individual yg terlibat langsung dalam peperangan itu. 

Syekh Abu Madyan, misalnya, ikut membantu perang melawan tentara Salin dari kelompok pasukan Perancis di sekitar Maroko, dan berperan penting dalam kemenangan pasukan Islam di sana. Kaum sufi, baik di dalam dan di luar organisasi tarekat, berdasar fakta sejarah sesungguhnya berperan penting dalam pengembangan potensi ekonomi, sosial, poliitk dan ilmu pengetahuan di dalam peradaban Islam. Namun peran sosial mereka yg penting itu sering terlupakan, atau sengaja disembunyikan oleh kelompok anti-Tasawuf – terutama karena kebanyakan pengikut tarekat atau sufi yang terkenal lebih menonjol dalam bidang keruhanian dan lebih ketat dalam menjalani kehidupan yg zuhud, serta karena karamah-karamah mereka lebih memikat untuk dikisahkan ketimbang peran ekononi dan sosial-politik mereka.Peran-peran sosial atau peran “horisontal” mereka semakin jelas dalam perkembangan sesudah tahun 1100-an M.

Selain perkembangan tarekat-tarekat, dunia Tasawuf juga diwarnai oleh perkembangan pemikiran mistis/makrifat yang luar biasa. Periode menjelang abad 13 M, atau akhir era 1100-an adalah era di mana hampir semua bidang peradaban Islam sedang mengalami kejayaan sekaligus melahirkan benih-benih bayang-bayang kesuraman peradaban Islam. Kemajuan sisi lahiriah di bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan sebagainya diimbangi oleh lahirnya kemajuan ruhani. Namun pada masa ini perkembangan paling menonjol selain tarekat adalahmunculnya sufi-sufi besar yang menulis literatur yang “abadi,” yang sangat memengaruhi dunia Tasawuf dan dunia Islam pada umumnya sampai ke abad 21 – dan barangkali akan masih terus berpengaruh hingga di abad-abad mendatang. Tokoh-tokoh sufi yang agung pada periode ini antara lain Fariduddin Attar (wafat 1220), Ibn al-Farid sang penyair mistis (wafat 1235), Syekh Akbar Ibn Arabi, penggagas “konsep” wahdatul wujud, Jalaluddin Rumi sang penyair cinta mistis terbesar sepanjang sejarah Islam (w. 1273) dan al-Iraqi, penyair penerus tradisi wahdatul wujud.

Pada tanggal 28 Juli 1165 lahirlah seorang anak manusia yang kemudian dikenal sebagai Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn al Arabi al Ta’i al Hatimi atau lebih populer dengan nama Ibn Arabi. Beliau dikemudian hari lebih dikenal sebagai seoarang sufi dari andalusia, dan diberi gelar Muhyidin (Penghidup agama) dan Syaikh al Akbar (Syaikh Agung). Karya karya yang lahir darinya terutama dari dua kitabnya yang monumental Fushush al Hikam dan Futuhat al Makkiyyah telah mempengaruhi sudut pandang kaum muslimin dalam memahami agamanya, yang diridhai Allah (Islam). Pemikiran Ibn Arabi adalah pemikiran yang telah mempengaruhi salah satu cara pandang kita dalam melihat otosentisitas Islam (Tauhid).

Gagasan gagasan dasar ajaran Ibn Arabi telah menimbulkan reaksi yang luas di kalangan kaum muslimin, yang pro maupun yang kontra. Yang tidak setuju menuduh bahwa ajarannya merupakan panteisme. Yang pro justru menganggap ajaran ini merupakan ajaran yang tinggi dan sangat radikal dalam interpretasinya mengenai tauhid. Ibn Arabi lebih dikenal sebagai tokoh ajaran wahdatul wujud, yang sering disalah tafsirkan sebagai ajaran yang menekankan pada aspek imanensi mutlak Tuhan.

Namun sesungguhnya Ibn Arabi tidak menekankan imanensi Tuhan semata, namun juga transendensi-Nya. Menurut beliau: dilihat dari sisi tasybih, Tuhan adalah identik, atau lebih tepat serupa dan satu dengan alam walaupun kedua duanya tidak setara karena Dia, melalui nama nama Nya, menampakkan diri Nya dalam alam. Tetapi dilihat dari sisi tanzih, Tuhan berbeda sama sekali dengan alam karena Dia adalah Dzat Mutlak yang tidak terbatas, di luar alam nisbi yang terbatas. Ide ini dirumuskan oleh ibn Arabi dengan ungkapan singkat ‘huwa la huwa’. Tuhan adalah imanen (tasybih) dan transenden (tanzih) sekaligus.

Dalam doktrin wahdat al wujud Tuhan betul betul esa karena tidak ada wujud, yaitu wujud hakiki kecuali Tuhan; wujud hanya milik Tuhan. Alam tidak lebih dari penampakan Nya. Doktrin ini mengakui hanya satu wujud atau realitas karena mengakui dua jenis wujud atau realitas yang sama sekali independen berarti memberikan tempat kepada syirik atau politeisme. Doktrin wahdat al wujud ibn Arabi mempunyai posisi yang kuat karena didukung oleh atau bersumber dari ayat ayat Al Qur’an dan Hadis Nabi SAW.

Wahdat al Wujud Menurut Syaikh Akbar Ibnu al Arabi benar benar merupakan pemikiran genius di zamannya. Karya karyanya telah membuktikan hal itu. Ibn al Arabi mengungkapkan ajaran ajaran dan berbagai pandangan genarasi sufi yang mendahuluinya secara sistematis dan rinci. Ibn Arabi adalah jembatan atau penghubung antar dua fase historis Islam dan tasawuf dan penghubung antara tasawuf Barat dan Timur.

Menurut Ibn Arabi, dalam hadis Qudsi, Allah berfirman, Aku adalah harta simpanan tersembunyi, karena itu Aku rindu untuk dikenal. Maka aku ciptakan makhluk, sehingga melalui Ku mereka mengenal Ku. [hadits Qudsi] Allah adalah “harta simpanan tersembunyi” (kanz makhfiyan), yang tidak dapat dikenal kecuali melalui alam. Maka alam adalah cermin bagi Tuhan, yang dengannya Ia mengenal dan memperkenalkan ‘Wajah Nya’. Kanz makhfi, dengan demikian adalah ‘Yang ‘Tersembunyi dari Yang Tersembunyi’, Dzaat, yang tidak dapat dijangkau oleh siapapun ditinjau dari segi Dzaat Nya. Misteri Dzaat, yang tersembunyi ini berakibat “kerinduan” dan “kesepian”. Dalam “kerinduan” dan “kesepian” primordial ini membuat Dia rindu untuk dikenal. Maka Ia pun ber ‘tajalli’. Tajalli Al Haqq adalah penampakan diri Nya dengan menciptakan alam. Tajalli Al Haqq terjadi dalam bentuk bentuk yang tidak terbatas jumlahnya. Alam berubah setiap saat, terus menerus tanpa henti. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (Q.S.55;29). Seperti yang dikatakan oleh Ibn Arabi; “Sesungguhnya Allah Subhanahu selama lamanya tidak melakukan tajalli dalam satu bentuk bagi dua individu atau pribadi, dan tidak pula dalam satu bentuk dua kali.”

Tajalli Nya adalah pemberian Nya yang telah ditetapkan sejak Azali, persis seperti yang ada dalam A’yan tsabitah, Pengetahuan Abadi dalam Hakikat Tuhan. Jadi hakikat yang sebenarnya dari setiap segala sesuatu yang berasal dari tajaliyyat Nya selalu ada, yakni dari dalam kedalaman batin Wujud Nya (Potensi Abadi Nya), yang merupakan Ilmu Nya (pengetahuan Nya) yang tetap dan abadi (a’yan tsabitah). Dari sudut padang ini, dunia pada hakekatnya merupakan perwujudan (manifestasi) Tuhan, namun dalam Diri Nya, yakni dalam Dzat Nya, Dia terlepas dari setiap perwujudan itu sendiri. A’yan tsabitah pada dasarnya hanyalah potensi abadi yang karena sifatnya itu ia bisa menjadi aktual atau bisa juga tidak. Karenanya, ‘Kemungkinan’ (Potensialitas) itulah yang sesungguhnya nyata. Dan karena itulah, a’yan tsabita tetap tidak berubah dan “tidak ada” secara aktual dalam ilmu Tuhan. Meskipun disifati dengan kepermanenan, ia tidak disifati dengan wujud, yakni ia tetap dalam keadaan yang disifati dengan ketiadaan yang dimiliki oleh yang mungkin, bukan oleh yang tidak mungkin. Jadi, A’yan tsabita, dalam ketiadaannya siap menerima wujud. (Fusus al Hikam). Dalam Futuhat al Makiyyah mengenai hal ini dikatakan:

Ilmu Al Haqq tentang Diri Nya sama dengan ilmu Nya tentang alam karena alam selama lamanya disaksikan Nya, meskipun alam disifati dengan ketiadaan. Sedangkan alam tidak disaksikan oleh dirinya [sendiri] karena ia tidak ada. Ini adalah lautan tempat binasanya para pemikir teoritis, yaitu orang orang yang tidak diberi kasyaf. Diri Nya selama lamanya ada, maka ilmu Nya selama lamanya ada pula. Ilmu Nya tentang Diri Nya adalah ilmu Nya tentang alam;karena itu ilmu Nya tentang alam selama lamanya ada. Jadi Dia mengetahui alam dalam ketiadaannya. Dia mewujudkan alam menurut bentuk Nya dalam ilmu Nya. Karena itu, alam tidak pernah ada ‘diluar’ Tuhan yakni; tidak ada dalam wujud kecuali Allah dan sifat sifat dari a’yan, dan tidak ada sesuatu pun dalam adam [ketiadaan] kecuali entitas entitas mumkinat (kemungkinan) yang dipersiapkan untuk diberi wujud. (Futuhat)

Dengan demikian, alam semesta dan semua yang terkandung di dalamnya adalah wujud, dan pada saat yang sama adalah tak berwujud (adum). Dengan cara yang sama, Tuhan selalu meliputi alam dan juga mengatasi alam. Dia sekaligus transenden dan imanen, tanzih dan tasybih, seperti yang dikatakan oleh Ibn Arabi sendiri:

Allah Ta’ala berfirman, Laysa kamitslihi bi syai, maka dengan demikian Dia menyatakan Tanzih Nya; wa huwa al sami’al bashir, maka dengan demikian Dia menyatakan Tasybih Nya.

Gaung gagasan Ibn Arabi melampaui batas-batas geografis dunia Islam. Gagasannya dengan cepat menyebar dari Afrika sampai ke anak benua India, kemudian masuk ke Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia. Sebagian pengikut Ibn ‘Arabi di era yg lebih modern menyebarkannya ke Eropa dan Amerika, hingga ke Amerika Selatan dan Amerika Latin. Di Inggris didirikan Ibn Arabi Society, yang berpusat di Oxford. Sebelumnya, Rauf dari Turki mendirikan Beshara, dan Rauf sendiri menerjemahkan sebagian karya Ibn Arabi, terutama Fusush al-Hikam ke dalam bahasa Inggris.

Selain memengaruhi kajian spiritualitas Islam, gagasan Ibn Arabi juga memengaruhi filsafat Islam pada umumnya, seni Islam (arsitektur, musik, dan sastra) dan sebagainya. Salah satu contoh luar biasa dari penerapan gagasan kosmologi mistis Ibn Arabi ke dalam wilayah aristektur adalah bangunan Taj Mahal di India. Bangunan indah ini dibangun berdasarkan prinsip keselarasan geometris struktur kosmos ruhani dan makrokosmos lahiriah dan perhitungan astronomi yang rumit.

Lahu Al-Faatihah

Sumber : Habib Muhammad Ali Al-‘Athos//dari catatan Fahmi Ali

Senin, 22 Maret 2021

Gowes Goes to Campus, Jajal Roti Cane Kari Sapi Gempol



Rehat sejenak di depan Kampus ITB Ganesha Bandung sebelum menusuk ke
tempat kuliner di Gempol

Gowes NKRI Ankid-10 Minggu pagi ini (28/2/21) diikuti 18 goweser. Tema yg diusung kali ini "Gowes goes to Campus."

Memang karena dua rest area yg dituju adalah dua universitas terpandang di kota Bandung, Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tepat pkl 07.30, setelah ada sedikit sambutan arahan dari kang Nana dan iringan doa dari Almukarom Ust. Mumu, roda2 sepeda dari 18 pegowes pun mulai bergulir, berderak maju dengan meyakinkan.

Route atau jalur trek yg ditempuh memang lumayan menantang. Menyusuri jalan Bengawan, Taman Cibeunying, Diponegoro, Ariajipang, putar arah di Jembatan Pasopati, Penatayuda, Dipatiukur, hingga kampus Unpad. 

Trek seperti itu memang tak mudah bagi usia yang rata-rata diatas 60 th.

Dari kampus Unpad sedianya merayap ke Jalan Siliwangi dan Sumur Bandung, namun usulan beberapa pinisepuh yang sudah mulai ngos-ngosan, jalur pun dibelokan ke kiri ke Jalan Tengku Umar hingga mentok dan belok kanan ke arah Jalan Juanda, lalu belok kiri ke Jalan Ganesha dan beristirahat sejenak dan berfoto di depan kampus ITB.

Setelah melepas lelah dan berfoto bersama, perjalanan dilanjutkan ke Jl Tamansari, Sulanjana dan Sultan Tirtayasa utk menikmati Soto Boyolali H. WIDODO.
Namun pengunjung yg membludak dan kehabisan tempat duduk, hingga terpaksa mengurungkan niat.

Alternatif yang ditempuh kuliner di sekitar Jalan Gempol. Maksud hati ingin menikmati kupat tahu yg sangat dikenal di kalangan kaum goweser. Disinipun rupanya pengunjung membludak, akhirnya dengan dipelopori pak Tisna hingga menclok di restoran berkelas yg menyajikan menu Nasi/Roti Cane/Nasi Kebuli Kari Kambing/Sapi/Ayam...

Hanya saja yg menjadi persoalan per porsinya rata-rata Rp 45 rb ketas...Ala maakkk...siapa yg mau bayar nih? Karena sudah pasti saldo dana tak akan mencukupi untuk menjamu 18 goweser yang saat itu memang sedang kelaparan.

Pak Isa, pak Tisna dan pak Nana yg duduk satu meja mulai melongo. Pak Isa mulai resah dan gelisah. Duduk pun mulai tak nyaman.

"Pak Isa gimana nih urusannya," kata pak Nana.
"Gak tahu saya juga, mau dibayarin pak Tisna kali," timpal pak Isa.
"Waduh, gimana nih pak Tisna?"
"Kan ada saya dgn pak Nana," kata pak Tisna.
"Pak Tisna bawa uang berapa? Beliau pun mengeluarkan dompetnya yg ternyata hanya berisi 50 rb...Ya ampuunnn...Tapi kang Nana merasa yakin kalau beliau ingin mentraktir kita semua.

Ketika berpikir soal pembayaran tiba2 pak Irsan kasih info bahwa seluruhnya sdh dibayar pak Bubun.

Wowwww...Alhamdulillah...dan semua goweser pun kasih selamat dan aplaus ke pak Bubun. Semua bangga.

Tapi pak Bubun bilang hanya bayar Rp 200 rb saja, dan "sisanya saya gak tahu," kata pak Bubun.

Suasana pun senyap kembali. Pak Tisna pun beranjak menuju sepedanya untuk mengambil dompet rahasianya. Karena memang bisa dibayar dengan kartu debet.

Tapi rupanya itu hanya guyonan pak Bubun saja. Karena pak Irsan menyaksikan sendiri seluruhnya sdh dibayar pak Bubun. "Saya lihat sendiri, pak Bubun yang bayar pakai kartu debet," kata pak Irsan meyakinkan kami berdua.

Kalau begitu Alhamdulillah...terima kasih pak Bubun. In syaa Allah rezeki itu membawa berkah karena sebaik2nya orang adalah yg memberi makan orang lain. Semoga rezeki pak Bubun semakin berkah melimpah, mengalir deras tanpa batas.

Kita pun sepakat pak Bubun adalah Bintang Kuliner pekan ini. (Bintang pekan lalu adalah pak Tampu, yg mengatasi biaya sate gule Cimandiri).

Ayo siapa lg yang berminat menjadi bintang kuliner di pekan-pekan berikutnya...

Setelah menikmati kuliner dahsyat, bergizi tinggi dan berkelas, rombongan goweser pun meninggalkan Gempol dgn sejuta kekalutan dan kenangan...

Alhamdulillah seluruh goweser kembali ke pojok toleransi dgn selamat dan bahagia...//*nas

Berikut foto-foto kenangannya..

Rehat di depan Kampus ITB serasa menjadi alumninya

Goweser NKRI Ankid-10 bukan Goweser Biasa

PLT Ketua, kang Nana kasih sedikit arahan

Goweser kekinian ya kayak gitu deh


Ealah, kang Is yg pandai memanfaatkan momentum

Eits ini dia plt ketuanya

Memang nyaman beristirahat disini

Kampus UNPAD langganan Rest Area

Resto Roti Cane Kari Sapi Gempol yang bikin
mendebarkan bendahara

Jumat, 12 Februari 2021

Tasawuf Cinta Menurut Jalaluddin Rumi

Tasawuf merupakan salah satu khazanah keilmuan Islam yang menarik untuk dijadikan bahan kajian penelitian bagi seseorang yang ingin mempelajari Islam, karena tasawuf merupakan fenomena keagamaan (pengalaman dan penghayatan) yang mengiringi perkembangan Islam itu sendiri.

Tasawuf sering juga disebut sebagai sufisme dalam Islam. Tasawuf sendiri bukanlah gejala yang ghaib dan paranormal, seperti kemampuan membaca pikiran, telepati, ataupun pengangkatan ke tahap yang tertinggi. Memang banyak penganut sufisme sejati dari berbagai agama memiliki kemampuan tersebut, tetapi hal itu bukan unsur yang utama dalam tasawuf.
Pada dasarnya pengertian tasawuf tidak dapat dirumuskan secara detail, hal ini terjadi karena pengalaman sufistik tergantung pada masing-masing pengalaman tokoh sufi. Tasawuf sendiri pada intinya adalah sesuatu yang memfokuskan diri kepada Alloh.

Hal ini juga berkaitan dengan sebuah kecintaan. Cinta bisa dikatakan dengan perasaan yang menginginkan kedekatan diri dari adanya rasa kasih sayang yang kuat. Bisa disimpulkan tasawuf cinta adalah rasa sayang dan kedekatan dengan sang pencipta.

Unsur Islam

Para tokoh sufi sepakat jika Islam adalah sumber utama ajaran tasawuf. Ajaran ini bersumber dari al-Qur'an dan al-Hadits. Di dalam al-Qur'an banyak ditemukan ayat yang berbicara tentang ajaran tasawuf. Contoh tersebut bisa dilihat pada surat al-Maidah ayat 54 yang membahas tentang mahabbah. Sejalan dengan al-Qur'an, al-Hadits juga banyak membicarakan kehidupan rohaniyah.

Selain itu, bisa dilihat dalam kehidupan Rasulullah yang banyak menggambarkan sikap mahabbah kepada sang pencipta. Contoh ini diambil ketika Rasulullah sedang mengasingkan diri di Gua Hira' untuk mendekatkan diri kepada Alloh.

Unsur di Luar Islam

Menurut Ignas Goldziher ajaran tasawuf merupakan pengaruh dari luar unsur-unsur Islam. Goldziher mengatakan bahwa ajaran tasawuf merupakan ajaran dari berbagai agama dan kepercayaan.

Unsur agama dan kepercayaan di luar Islam antara lain unsur pengaruh dari agama Nasrani, Hindu-Budha, Yunani dan Persia.

Dalam agama dan kepercayaan lain juga mengajarkan tentang tasawuf sebagai pembersih diri dan pendekatan kepada sang pencipta. Selain agama Islam, agama ini juga memiliki teori sendiri tentang tasawuf.

Menurut Schimmel ajaran tasawuf memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut:

1. Persinggahan dan tingkatan.

Persinggahan atau tingkatan pertama diatas jalan atau lebih tepat mula pertamanya, ialah Taubat atau penyesalan. Taubat berarti berpaling dari dosa dan melepaskan urusan dunia yang salah. Taubat dapat dibangkitkan dalam jiwa oleh peristiwa lahiriyah apapun.

2. Cinta dan Peleburan

Cinta dan makrifat, kadang-kadang keduanya dianggap lebih utama dan ada kalanya makrifat dipandang lebih tinggi. Ghazali menekankan, cinta tanpa makrifat tidak mungkin karena orang dapat mencintai sesuatu yang dikenal. Para sufi telah mencoba menggambarkan berbagai segi makrifat, yaitu pengetahuan yang tidak dicapai melalui penalaran akal tetapi merupakan pemahaman yang lebih tinggi mengenai rahasia ketuhanan. Satu-satunya jalan untuk mendekati kekasih Ilahi adalah dengan senantiasa mensucikan diri.

Mengenai pernyataan Jalaludin Rumi, sedikit simak profil beliau.

Nama Rumi yang sebenarnya adalah Jalal Al-Din Muhammad, namun belakangan ia lebih dikenal sebagai Jalal Al-Din Rumi atau Rumi saja. Ia dilahirkan di Balkh pada 6 Rabi'ul Awal 604 Hijriyah atau bertepatan 30 September 1207. Orang-orang Arghan dan Persia lebih suka memanggilnya dengan sebutan Jalaluddin "Balkhi", karena keluarganya tinggal di Balkhi sebelum berhijrah ke arah Barat. Bahauddin Walad, ayah Jalaluddin tinggal dan bekerja sebagai hakim dan khitab dengan kecenderungan-kecenderungan yang mengarah kepada Tasawuf. Ayahnya adalah seorang pengarang kitab Ma'arif, sebuah ikhtisar panjang tentang ajaran-ajaran rohani yang sangat dikuasai Rumi. Kelak corak dan isinya tampak jelas mempengaruhi karya-karyanya.

Jalaludin sangat tekun dalam mempelajari ilmu al-quran, baik dalam membacanya maupun dalam menafsirkanya. Ia juga mempelajari fiqih dan hadits. Pengetahuannya yang sangat luas dalam kajian keislaman ditunjukkan dalam karya-karyanya yang mendalam.
Setelah kematian ayahnya, salah seorang mantan muridnya Sayyid Burhanuddin Muhaqqiq dari Termez tiba di Konya. Dialah yang memperkenalkan Rumi muda dengan misteri kehidupan spiritual.

Sejak saat itu Rumi mencurahkan perhatian terhadap mistisme secara mendalam. Ia menjadi seorang penyuka puisi-puisi Arab karya Al-Mutanabbi. Ia sering mengutip bait bait Al-Mutanabbi dalam karya-karyanya. Setelah sekian lama mengikuti Burhanuddin, Rumi dikirim ke Aleppo dan Damaskus untuk melengkapi pengetahuannya dengan pelatihan spiritual formal. Di sana ia berguru pada ahli-ahli sufi yang lain. Tapi walaupun berguru pada ahli-ahli sufi yang lain, Rumi tetap berada di bawah pengawasan Burhanuddin hingga tahun 1240 M. Ketika Burhanuddin wafat di Keyseri, beberapa tahun setelah kematian gurunya, Rumi menjadi guru yang melayani murid dan pengikutnya.

Konsep Mahabbah menurut Jalaludin Rumi

Rumi menjelaskan bahwa cinta seperti keledai di dalam paya. Dan pena yang berusaha menggambarkannya akan hancur berkeping-keping. Begitulah kata Maulana dalam Masnawi yang dikutip oleh Schimmel.

"Bagaimana keadaan sang pencinta?" tanya seorang lelaki
Kujawab, "Jangan bertanya seperti itu, sobat;
Bila engkau seperti aku, tentu engkau akan tahu;
Ketika Dia memanggilmu, engkaupun akan memanggil-Nya."

Rumi menyebutkan bahwa yang pertama diciptakan Tuhan adalah cinta. Rumi menganggap cinta sebagai kekuatan kreatif paling dasar yang menyusup ke dalam setiap mahluk dan menghidupkan mereka. Cinta pulalah yang bertanggung-jawab menjalankan evolusi alam dari materi anorganik yang berstatus rendah menuju level yang paling tinggi pada diri manusia. Menurut Rumi cinta adalah penyebab gerakan dalam dunia materi, bumi dan langit berputar demi cinta. Ia berkembang dalam tumbuhan dan gerakan dalam makhluk hidup. Cintalah yang menyatukan partikel-partikel benda. Cinta membuat tanaman tumbuh, juga meggerakkan dan mengembang-biakkan binatang.

Semasa hidupnya Jalaludin Rumi terkenal akan tarekatnya, yaitu tarekat Mawlawiyah. Mawlawiyah berasal dari kata 'Mawlana' sebuah gelar yang diberikan murid-muridnya sebagai sufi penyair Persia terbesar sepanjang masa. Tarekat ini didirikan Rumi sekitar 15 tahun terakhir hidupnya.

Tarekat ini memiliki makna jalan kecil, yaitu sebuah perjalanan spiritual menuju pada sang Pencipta.

William Chittik dalam bukunya The Sufi Doctrine of Rumi menjelaskan bahwa ciri utama tarekat ini adalah konsep spiritual, sama', yang dilembagakan Rumi pertama kali setelah hilang guru yang beliau cintai, Syamsuddin Tabriz.

Sejak saat itu Rumi sangatlah sensitif dengan hal-hal yang berbau musik, bahkan suara pukulan palu bisa membuat dia ingin melantunkan syair dan puisi.

Dalam tarekat ada penjelasan mengenai Sama' yang dilakukan dengan sebuah tarian berputar. Tarian ini telah menjadi ciri khas dalam tarekat Jalaludin Rumi. Dalam dunia Barat tarekat Jalaludin Rumi dikenal dengan The Whirling Darvish. Tarian ini dimainkan oleh para darwish (penganut sufi) dalam pertemuan sebagai dukungan eksternal terhadap upacara-upacara.
Meskipun tarekat ini tidak sebesar tarekat muktabaroh lainnya, tetapi tarekat ini masih berjalan sampai sekarang. Di Indonesia sendiri tarekat ini perkembangannya cukup pesat serta banyak peminatnya.

Karya-karya Jalaludin Rumi


Semasa hidupnya Jalaludin Rumi juga memiliki karya sebuah buku, tetapi buku tersebut tidak ditulis sebagaimana orang lain melakukannya. Jalaludin Rumi menyampaikan sebuah karya prosa ataupun puisi secara lisan yang kemudian dicatat oleh para pengikutnya. Kemudian hasil tersebut Rumi periksa kembali. Diantara karya-karyanya yaitu, Matsnawi, Fihi ma Fihi, Rubiyat, Majlis-I Sab'ah, Makatib dan Diwan.

Dengan demikian, telah diketahui bahwa tasawuf cinta adalah sesuatu yang berhubungan dengan pembersihan jiwa dan melakukan sebuah pendekatan yang mendalam dengan menuju keridhaan Alloh. Salah satu tokoh yang dikenal akan konsep tasawufnya yaitu Jalaludin Rumi. Jalaludin Rumi adalah tokoh sufi yang mendalami konsep tasawuf dengan banyak membuat syair dan lantunan puisi. Ia juga seorang yang memperkenalkan sebuah tarekat dengan nama Mawlawiyah, di dalam tarekat tersebut ia juga memperkenalkan sebuah tarian sufi. 

Selain itu, beliau juga memiliki banyak karya yang sampai sekarang masih banyak yang mempelajari. Keunikan dari karya beliau yaitu pada penulisannya, beliau melakukan metode pendektean yang di tulis muridnya dan kemudian tulisan tersebut beliau periksa kembali.

Di Indonesia sendiri konsep tasawuf Jalaludin Rumi memiliki perkembangan yang cukup pesat serta banyak peminatnya, selain itu banyak konsep beliau yang memiliki kekhasan tersendiri.
(Kompasiana//Fahma Waq)

Jumat, 08 Januari 2021

Gerakan Tasawuf Kebangsaan

Gerakan tasawuf tak hanya tentang ibadah. Di Nusantara, gerakan ini juga menginspirasi perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

"Jika kau melakukan ibadah dengan motivasi agar dilihat manusia, itu namanya syirik. Sebaliknya, jika kau meninggalkan sebuah ibadah juga karena manusia, maka itulah yang disebut riya,” ujar seorang sufi menasihati murid-muridnya.

Tidak ada yang paham apa yang dimaksud oleh guru itu. Para murid terdiam dan kebingungan.

“Mudahnya begini: kalau kau pergi ke Masjid untuk salat Jumat di awal waktu, dan berada di saf depan dengan motivasi agar nampak alim dan mendapat pahala berupa onta, itu namanya syirik. Sebab kau beribadah dengan motivasi selain Allah. Sebaliknya, jika kau sengaja mengakhirkan datang ke Masjid untuk salat Jumat agar berada di saf belakang dan supaya tidak tampak alim di mata manusia lain, maka itu namanya riya,” imbuh sang guru.

“Berarti kita tidak usah datang ke Masjid, Maulana?” tanya seorang murid.

Guru itu tersenyum. “Bukan itu maksudku. Kalian harus sadar bahwa menata niat untuk ibadah sangat sulit,” terangnya.

Demikian para sufi memberikan pelajaran. Mereka tidak main-main dengan kualitas ibadah kepada Allah. Mereka selalu menjaga hati agar tetap bersih dan suci sehingga tidak kehilangan koneksi dengan Allah.


Kaidah di atas merupakan aplikasi dari adagium yang dicetuskan oleh Abu Hasyim yang di kemudian hari membuat Sufyan Ats-Tsauri bergidik, dan menggelengkan kepala merasa seluruh amalnya habis dilahap satu kaidah itu.

Ia mengatakan bahwa “adaul amali laijlin naasi syirkun, wa tarkuhu liajlinnasi riyaun". Keduanya, terutama syirik, adalah dosanya dosa. Namun, kadang kita dengan mudah dan lumrah melakukannya tanpa disadari.

Ibnu Atholillah As-Sakandary, seorang sufi dari Alexandria penyusun kitab Syarah Hikam mengatakan, ketika seorang hamba merasa dirinya tidak sombong, maka saat itulah justru puncak kesombongan telah dilakukannya. Perasaan tidak sombong merupakan kesombongan itu sendiri.

Menurut Said Aqil Siroj, tasawuf adalah sebuah disiplin keilmuan sekaligus praktik spiritual yang dilengkapi dengan leksikon-leksikon teknis, termasuk wacana dan teori di dalamnya. Tasawuf utamanya menyasar dimensi relasi spiritual seorang hamba dengan Tuhannya.

Pandapat Said Aqil Siroj itu jauh lebih komprehensif dan modern dibandingkan dengan beberapa definisi yang diungkapkan oleh ulama-ulama klasik, seperti Ma’ruf Al-Karkhi yang menyatakan “tasawuf adalah sebuah usaha untuk meraih hakikat dan meninggalkan segala hal yang berada di tangan Makhluk Allah”.

Atau seperti diungkapkan oleh Junaid Al-Baghdadi dalam Risalah Qusayriyyah Vol. 2 (1985) yang menyatakan “tasawuf adalah ibadah kepada Allah dan hanya karena Allah semata, bukan karena mengharap pahala atau menghindari siksa".

Sebagai sebuah disiplin keilmuan yang mapan dan mandiri, kemunculan tasawuf tergolong lambat, yakni baru dikenal sekitar abad kedua hijriah. Kendati demikian, bukan berarti sebelum itu tidak dikenal nilai-nilai ketasawufan. Banyak kajian dan hasil studi mendalam menyebutkan bahwa nilai-nilai dan praktik tasawuf sudah diajarkan sejak zaman Rasulullah.

Salah satu ulama yang berpendapat seperti itu adalah Abu Nashr As-Sarraj dalam Al-Luma. Argumentasi yang diajukan olehnya adalah pernyataan Hasal-Al-Bahsri sebagai bagian dari golongan generasi Sahabat yang berkata:

“Pada suatu hari aku melihat seseorang sedang tawaf. Aku mencoba memberikan sesuatu kepadanya, tapi ia menolak pemberianku."

Perkataan Hasan Al-Bashri tersebut dipandang sebagai indikasi yang sangat kuat bahwa pada zaman sahabat sudah ada seseorang yang disebut sebagai sufi.

Asal usul Tasawuf dan Perannya dalam Kehidupan Sosial

Ada beberapa pendapat tentang sejarah kemunculan istilah tasawuf. At-Thusi mengatakan istilah tasawuf dinisbatkan kepada komunitas sahabat dari golongan Muhajirin yang memiliki sifat khas seperti zuhud, itsar (mendahulukan orang lain dalam kepentingan sosial), suka menyepi, dan lain sebagainya. Komunitas itu disebut dengan komunitas ahlus suffah. Mereka menjalani hidup sehari-hari dengan manghabiskan waktu beriktikaf di sisi kiri serambi Masjid Madinah.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata ash-shuf yang memiliki arti "kain wol yang kasar". Pendapat ini disandarkan pada kenyataan bahwa orang-orang yang disebut dengan sufi selalu memakai pakaian berbahan kain wol kasar.

Ada pula yang mengatakan bahwa akar kata tasawuf berasal dari as-Shaff yang berarti barisan atau saf, seperti diungkapkan oleh Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiah (1998). Pendapat ini berdasarkan argumen filosofis bahwa kaum sufi adalah mereka yang berada di garda depan pejuang yang manjaga kemurnian hati untuk menjalankan segala perintah Allah.

Tasawuf belakangan sudah berkembang dan bahkan dilembagakan. Gerakan-gerakan perlawanan kepada penjajahan di Nusantara, misalnya, tercatat sering diinisiasi oleh penganut tasawuf yang mengorganisasi gerakannya melalui tarekat tempat mereka berserikat. Gerak langkahnya bukan hanya urusan ubudiyah, tapi juga urusan lain seperti gerakan sosial dan kemanusiaan.

(tirto.id/Fariz Alnizar, pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan kandidat doktor linguistik UGM).

Serial Tasawuf-22 al-Jailani: "Tazkiyatun Nafs, Menyucikan Cermin Hati dari Debu Dunia"

Leaderline: Tahun 545 Hijriah. Usia Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah menginjak senja. Jenggotnya memutih. Punggungnya mulai membungkuk. Te...