(Secangkir Anggur Merah, Edisi-74)
Alkisah, pada zaman ketika negeri ini telah lama kehilangan rona senjanya. Ketika langit seakan murung dan bumi seakan letih menanggung dusta, Sumpah Pemuda tinggal menjadi mantra yang dibaca tanpa roh.
Dahulu, ikrar itu laksana api suci yang menyala di dada para pemuda: Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Ia lahir dari luka. Dari tanah yang digadai. Dari bahasa yang hendak dibungkam. Tiada pamrih. Tiada pencitraan. Hanya darah, keberanian, dan cinta yang membara.
Syahdan, pada 29 Oktober 2026, sehari setelah tanggal keramat itu. Di Bundaran Hotel Indonesia. Digelar sebuah lakon bernama “Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026”.
Syahdan, pada 29 Oktober 2026, sehari setelah tanggal keramat itu. Di Bundaran Hotel Indonesia. Digelar sebuah lakon bernama “Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026”.
Maka berkumpullah orang di depan Pos Polisi Thamrin, Jakarta Pusat. Namun, bukan pemuda dengan idealisme membara yang berdiri di panggung itu. Melainkan sebuah sandiwara yang gagal.
Di tengah riuh rendahnya, hadir seorang Raffi Ahmad, sang Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Seorang penghibur yang akrab dengan gemerlap lampu panggung. tiba-tiba menjelma menjadi ikon kepemudaan. Sungguh, zaman telah berbalik dengan kejam.
Syahdan. Bertanyalah hati kecil: di manakah letak Sumpah Pemuda dalam panggung itu?
Syahdan. Bertanyalah hati kecil: di manakah letak Sumpah Pemuda dalam panggung itu?
Dahulu, sumpah ditulis dengan tinta darah; kini, konon, ditulis ulang dengan tinta uang. Ada peserta berjaket almamater pinjaman, ada mahasiswa settingan, ada bayaran untuk berdiri seolah-olah berjuang.
Bila benar demikian, maka deklarasi itu bukan ikrar, melainkan dagangan. Sumpah Pemuda bukan lagi api yang membakar semangat; ia telah menjadi lilin yang menyala di pasar hiruk-pikuk, dijual kepada siapa pun yang sanggup membayar pencitraan.
Raffi Ahmad datang, konon, sebagai tamu undangan. Ia bersumpah tidak berniat merendahkan semangat perjuangan generasi muda. Namun, niat baik tiada pernah cukup untuk menutupi kehadiran yang salah tempat.
Raffi Ahmad datang, konon, sebagai tamu undangan. Ia bersumpah tidak berniat merendahkan semangat perjuangan generasi muda. Namun, niat baik tiada pernah cukup untuk menutupi kehadiran yang salah tempat.
Sebab kehadirannya laksana menabur bunga di atas kubur yang masih basah, atau memainkan gambus di rumah duka. Bukan karena ia jahat, melainkan karena panggung itu bukan panggungnya.
Seorang penghibur dipanggil untuk menghibur; tetapi Sumpah Pemuda bukan bahan hiburan. Ia adalah ikrar sakral yang menuntut hormat, bukan sorak-sorai yang menuntut swafoto.
Maka, tampaklah hakikat sebuah zaman dan. Kekuasaan telah lama memahami satu hal: untuk membungkam kritik, jangan lawan kritik itu dengan argumen. Redamlah ia dengan hiburan. Gantilah suara mahasiswa dengan sorak-sorai selebritas. Ubahlah panggung perlawanan menjadi panggung variety show.
Maka, tampaklah hakikat sebuah zaman dan. Kekuasaan telah lama memahami satu hal: untuk membungkam kritik, jangan lawan kritik itu dengan argumen. Redamlah ia dengan hiburan. Gantilah suara mahasiswa dengan sorak-sorai selebritas. Ubahlah panggung perlawanan menjadi panggung variety show.
Sebab rakyat yang terhibur adalah rakyat yang paling mudah ditundukkan. Pandji Pragiwaksono, dalam kritiknya yang tajam, menyebut Raffi Ahmad sebagai “bagian dari rezim”. Warganet pun menyerukan boikot. Mereka menilai ajakan melawan hoaks dan provokasi sebagai seremoni pencitraan di lingkaran kekuasaan.
Kemudian, Raffi Ahmad meminta maaf. Ia mengaku perlu lebih berhati-hati. Polda Metro Jaya pun meminta maaf. Namun, permintaan maaf itu terasa hambar, seperti sup yang telah kehilangan garam. Sebab yang telah rusak bukan sekadar sebuah acara. Yang telah rusak adalah cara kita memaknai sejarah.
Kemudian, Raffi Ahmad meminta maaf. Ia mengaku perlu lebih berhati-hati. Polda Metro Jaya pun meminta maaf. Namun, permintaan maaf itu terasa hambar, seperti sup yang telah kehilangan garam. Sebab yang telah rusak bukan sekadar sebuah acara. Yang telah rusak adalah cara kita memaknai sejarah.
Sumpah Pemuda bukan lagi ikrar yang menggetarkan jiwa; ia telah menjadi latar belakang untuk swafoto, panggung untuk pencitraan, alat untuk melanggengkan kekuasaan.
Para mahasiswa sejati, yang berteriak di jalan dengan parau suara dan dada sesak, justru dipandang sebagai pengganggu. Sementara mereka yang berdiri di panggung settingan, dengan jaket pinjaman dan bayaran di kantong, disebut sebagai pemuda harapan bangsa.
Di bawah langit Jakarta yang kelam, di Bundaran HI yang gemerlap oleh lampu kota, sebuah sumpah telah dijual. Dan kita, yang menyaksikannya, hanya bisa menelan pil pahit itu dengan dada yang sesak. Selamat hari Sumpah Pemuda. Selamat menikmati hiburan kawan-kawan...!!
Di bawah langit Jakarta yang kelam, di Bundaran HI yang gemerlap oleh lampu kota, sebuah sumpah telah dijual. Dan kita, yang menyaksikannya, hanya bisa menelan pil pahit itu dengan dada yang sesak. Selamat hari Sumpah Pemuda. Selamat menikmati hiburan kawan-kawan...!!
