Jumat, 06 November 2026

Serial Tasawuf-44 Al-Hikam: Hikmah Kesebelas, "Mengubur Eksistensi di Bumi Ketiadaan"


Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup pelan, Membawa aroma garam yang basah ke beranda zawiyah. Para salik duduk melingkar. Tetapi salah seorang dari mereka, Zaid, tampak tidak seperti biasa. Ia baru saja diangkat menjadi khatib di masjid kampungnya. Semua orang memujinya. Dan sejak itu, ada sesuatu yang tumbuh di dalam dadanya. Sesuatu yang hangat, manis, dan perlahan-lahan menggerogoti keikhlasannya.

Mengubur di Bumi Kerendahan

“Wahai Mursyid,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar, “aku malu mengakuinya. Tetapi sejak aku dipuji, aku merasa ada kebahagiaan yang aneh ketika orang-orang menyebut namaku. Aku merasa hidupku lebih berarti ketika aku dikenal. Apakah ini penyakit?”

Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memandang Zaid dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:

اِدْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لاَ يَتِمُّ نَتَائِجُهُ

“Kuburlah wujudmu (eksistensimu) di dalam bumi kerendahan (ketiadaan). Maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak akan sempurna buahnya.”

Rahasia Sebutir Benih

Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, mengapa engkau menggunakan perumpamaan benih?”

Ibnu Atha’illah tersenyum. “Karena Allah mengajarkan kepada manusia melalui alam. Lihatlah sebutir benih. Jika engkau meletakkannya di atas tanah. Ia akan dimakan burung, terinjak kaki, atau terbakar matahari. 

Ia tidak akan pernah tumbuh. Tetapi jika engkau menguburnya di dalam kegelapan tanah. Ia akan mengumpulkan kekuatan. Ia akan menembus lapisan tanah. Dan ketika ia muncul ke permukaan. Ia menjadi pohon yang kokoh. Yang buahnya matang dan sempurna.”

“Begitu pula amalmu, Zaid. Jika engkau menampakkannya sebelum ia matang. Jika engkau mengejar pujian sebelum amal itu mengakar dalam keikhlasan Ia akan rusak. Ia akan menjadi amal yang tampak besar. Tetapi tidak berbuah di hadapan Allah.”

Kata khumul yang digunakan Ibnu Atha’illah, jelas para ulama, berarti menjauh dari ketenaran dan segala faktor yang menjadikannya terkenal. Ini bukan sekadar mengasingkan diri. Melainkan sebuah strategi ketahanan batin di tengah dunia yang obsesif terhadap validasi eksternal.

Dalil Pertama: Ikhlas adalah Syarat Diterimanya Amal

Ibnu Atha’illah membuka mushafnya. “Allah berfirman:
‘Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.’ (QS. Al-Bayyinah: 5)”

“Perhatikanlah, Zaid. Ikhlas bukanlah pelengkap. Ia adalah syarat. Amal tanpa ikhlas seperti jasad tanpa ruh—ia bergerak, tetapi ia tidak hidup. Dan ketenaran adalah salah satu godaan terbesar yang merusak ikhlas.”

Dalil Kedua: Riya adalah Syirik Kecil

Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, apakah mengejar popularitas itu benar-benar berbahaya?”

Ibnu Atha’illah menjawab dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya. Allah akan berfirman pada hari Kiamat: ‘Pergilah kepada orang-orang yang dahulu engkau berbuat riya kepada mereka, lalu lihatlah apakah engkau mendapatkan balasan dari mereka?’” (HR. Ahmad)


“Riya adalah ketika engkau beramal untuk Allah, tetapi engkau juga ingin dilihat manusia. Engkau ingin dipuji. Engkau ingin dikenal. Dan itu adalah syirik kecil—karena engkau telah menyekutukan Allah dengan manusia dalam niatmu.”

Dalil Ketiga: Nabi SAW Berlindung dari Ketenaran

Nabi SAW sendiri, meskipun beliau adalah manusia yang paling mulia, tidak pernah mengejar ketenaran. Beliau berdoa:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keadaan menjadi terkenal.” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Dan beliau juga bersabda:

“Barangsiapa yang menampakkan amalnya, maka Allah akan menampakkan keburukannya. Dan barangsiapa yang menyembunyikan amalnya. Maka Allah akan menutupi keburukannya.” (HR. Al-Hakim)

“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah dengan suara yang dalam, “popularitas adalah ujian, bukan anugerah. Ia bisa menjadi nikmat jika engkau menggunakannya untuk menolong agama Allah. Tetapi ia bisa menjadi musibah jika engkau menikmatinya untuk dirimu sendiri.”

Penutup: Kembalikan Dirimu ke Tanah

Malam semakin larut. Ibnu Atha’illah bangkit. Membetulkan selendangnya. Memandang para salik dengan penuh kasih.

“Anak-anakku,” ujarnya, “janganlah engkau menanam benih di atas batu. Kuburlah dirimu di dalam bumi ketiadaan. Biarkan amalmu tumbuh dalam kesunyian. Mengakar dalam keikhlasan. Sebelum ia muncul ke permukaan.”

“Engkau tidak perlu dikenal manusia. Engkau hanya perlu dikenal Allah. Dan Allah mengenalmu. Bahkan ketika engkau tidak dikenal siapa pun.”

“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, kuburkanlah keinginanku untuk dikenal di dalam bumi ketiadaan-Mu. Tumbuhkanlah amalku dalam kesunyian. Agar ia berbuah sempurna di hadapan-Mu.’”

Zaid mengusap air matanya. Ia tidak perlu dipuji. Ia hanya perlu beramal. Dan malam itu, ia pulang dengan tekad baru. Menanam dalam diam. Agar berbuah dalam keabadian.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Bersambung ke hikmah kedua belas.

Skandal Penyadapan Ilegal (8): "Matinya Demokrasi, Ketika Kritik Berhenti Sebelum Diucapkan"

(Secangkir Anggur Merah, Edisi-83) Narasi Pembuka : Jika esai-esai sebelumnya membedah aktor dan arsitektur. Esai ini membedah korban yang p...