Malam itu, angin laut Iskandariyah bertiup pelan. Membawa aroma pohon nyiur basah ke beranda zawiyah. Para salik duduk melingkar. Tetapi suasana terasa berat. Seorang salik bernama Zaid memandang tangannya sendiri. Lalu menghela napas panjang. Ia telah berhari-hari merasa hatinya gelisah. Bukan karena dosa. Bukan karena musibah. Tetapi karena sesuatu yang tidak bisa ia namai. Seperti ada kabut di dalam dadanya.
“Wahai Mursyid,” ujarnya dengan suara pelan, “aku tidak tahu apa yang salah. Aku shalat, aku berdzikir, aku membaca Al-Qur’an. Tetapi hatiku terasa tumpul. Seperti cermin yang tertutup uap. Apa yang harus aku lakukan?”
Syekh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari memandang Zaid dengan mata teduh. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka kitab di pangkuannya dan membacakan:
مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ، يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ
“Tiada sesuatu yang lebih berguna bagi hati selain uzlah. Yang dengannya hati memasuki medan tafakur.”
Bukan Melarikan Diri, Tetapi Mengisi Ulang
Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. “Wahai Mursyid, bukankah uzlah berarti menjauh dari manusia? Bukankah kita diperintahkan untuk bersosial dan berdakwah?”
Ibnu Atha’illah tersenyum. “Engkau benar, Fatimah. Uzlah dalam hikmah ini bukanlah melarikan diri dari kenyataan. Melainkan sebuah metode esensial untuk mengisi kembali daya spiritual yang telah aus.”
“Ia bukan tentang menghindari persoalan keseharia. Tetapi tentang merenung dan berpikir mengenai apa pun persoalan yang sedang Allah hadirkan, dengan ikhlas dan tidak mengeluh.”
“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah, “hatimu seperti lentera yang minyaknya mulai habis. Engkau tidak perlu memadamkannya. Tetapi engkau perlu menuangkan minyak baru. Uzlah adalah waktu untuk menuangkan minyak itu. Waktu untuk menyendiri sejenak dari kebisingan. Agar engkau bisa mendengar suara Allah di dalam dirimu.”
Dalil Pertama: Berlindung dan Menyepi
Ibnu Atha’illah membuka mushafnya. “Allah berfirman:
‘Maka apabila kamu telah menyendiri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah kepada Allah.’ (QS. Al-Kahfi: 16)”
“Perhatikanlah, Zaid. Ayat ini menceritakan para pemuda gua. Para pemuda yang beriman di tengah masyarakat yang menolak kebenaran. Mereka menyendiri bukan karena benci manusia. Tetapi karena mereka membutuhkan ruang untuk berlindung kepada Allah. Untuk menjaga iman mereka.”
“Uzlah bukanlah pengasingan fisik semata. Ia adalah pengasingan hati dari segala sesuatu yang melalaikan dari Allah. Engkau bisa berada di tengah pasar. Tetapi hatimu menyepi. Tidak terikat pada hiruk-pikuknya.”
Dalil Kedua: Hati yang Buta
Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, mengapa uzlah begitu penting bagi hati?”
Ibnu Atha’illah menjawab dengan ayat yang mengguncang:
‘Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya, bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.’ (QS. Al-Hajj: 46)
“Inilah bahayanya, Umar. Tanpa uzlah dan tafakur. Hati menjadi buta. Ia melihat dunia. Tetapi tidak melihat tanda-tanda Allah. Ia mendengar suara manusia. Tetapi tidak mendengar bisikan kebenaran. Uzlah membuka mata hati. Agar engkau bisa membaca kehidupan. Bukan sekadar menjalaninya.”
Dalil Ketiga: Akal yang Tidak Digunakan
Ibnu Atha’illah kemudian membacakan ayat yang lebih tajam:
‘Dan Allah akan menimpakan rijsa (kemurkaan) kepada mereka yang tidak menggunakan akal mereka.’ (QS. Yunus: 100)
“Rijsa adalah kegelisahan, kebingungan, dan kesulitan hidup,” jelas Ibnu Atha’illah. “Siapa pun yang tidak menghidupkan akal hatinya. Yang tidak pernah merenung. Tidak pernah bertafakur. Akan ditimpa kebingungan. Hidupnya akan terasa sulit dipahami. Ia akan selalu merasa ada yang kurang. Tanpa tahu penyebabnya apa.”
“Uzlah adalah obat dari kebingungan itu. Ketika engkau menyendiri dan bertafakur. Engkau sedang menggunakan akal hatimu. Dan Allah menjanjikan petunjuk bagi orang yang menggunakan akalnya.”
Dalil Keempat: Tafakur Sejenak Lebih Berharga
Zaid bertanya lagi, “Wahai Mursyid, apakah tafakur benar-benar lebih berharga daripada ibadah yang banyak?”
Ibnu Atha’illah tersenyum. “Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa tafakur satu jam lebih baik daripada ibadah tujuh puluh tahun.” “Riwayat ini bukan untuk merendahkan ibadah. Tetapi untuk menunjukkan bahwa tafakur adalah induk dari segala kebaikan. Ia melahirkan pemahaman. Pemahaman melahirkan keikhlasan. Dan keikhlasan menghidupkan amal.”
“Nabi Muhammad SAW sendiri sering beruzlah di Gua Hira sebelum menerima wahyu. Mencari ketenangan dan makna hidup melalui tafakur.” “Beliau menyendiri bukan karena benci manusia. Tetapi karena hati beliau membutuhkan ruang untuk menerima cahaya.”
Penutup: Menyepi untuk Kembali
Malam semakin larut. Ibnu Atha’illah bangkit, membetulkan selendangnya, dan memandang para salik dengan penuh kasih.
“Anak-anakku,” ujarnya, “uzlah bukanlah tujuan. Ia adalah jembatan. Engkau menyepi bukan untuk meninggalkan dunia. Tetapi untuk kembali kepada dunia dengan hati yang lebih jernih.”
“Hati yang tidak pernah menyepi akan menjadi tumpul. Hati yang tidak pernah bertafakur akan menjadi buta. Dan hati yang buta tidak akan pernah melihat Allah. Meskipun ia berada di tengah masjid.
“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, karuniakanlah kepadaku waktu untuk menyepi. Hati untuk bertafakur. Mata batin yang bisa melihat tanda-tanda-Mu. Janganlah Engkau biarkan aku menjadi orang yang buta hatinya. Meskipun matanya melihat.’”
Zaid mengusap air matanya. Ia belum tahu kapan ia akan menyepi. Tetapi ia tahu satu hal: Hatinya butuh ruang. Dan Allah selalu menunggu di dalam ruang itu.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Bersambung ke hikmah ketiga belas.
“Zaid,” kata Ibnu Atha’illah, “hatimu seperti lentera yang minyaknya mulai habis. Engkau tidak perlu memadamkannya. Tetapi engkau perlu menuangkan minyak baru. Uzlah adalah waktu untuk menuangkan minyak itu. Waktu untuk menyendiri sejenak dari kebisingan. Agar engkau bisa mendengar suara Allah di dalam dirimu.”
Dalil Pertama: Berlindung dan Menyepi
Ibnu Atha’illah membuka mushafnya. “Allah berfirman:
‘Maka apabila kamu telah menyendiri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah kepada Allah.’ (QS. Al-Kahfi: 16)”
“Perhatikanlah, Zaid. Ayat ini menceritakan para pemuda gua. Para pemuda yang beriman di tengah masyarakat yang menolak kebenaran. Mereka menyendiri bukan karena benci manusia. Tetapi karena mereka membutuhkan ruang untuk berlindung kepada Allah. Untuk menjaga iman mereka.”
“Uzlah bukanlah pengasingan fisik semata. Ia adalah pengasingan hati dari segala sesuatu yang melalaikan dari Allah. Engkau bisa berada di tengah pasar. Tetapi hatimu menyepi. Tidak terikat pada hiruk-pikuknya.”
Dalil Kedua: Hati yang Buta
Umar, salik yang lain, bertanya, “Wahai Mursyid, mengapa uzlah begitu penting bagi hati?”
Ibnu Atha’illah menjawab dengan ayat yang mengguncang:
‘Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya, bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.’ (QS. Al-Hajj: 46)
“Inilah bahayanya, Umar. Tanpa uzlah dan tafakur. Hati menjadi buta. Ia melihat dunia. Tetapi tidak melihat tanda-tanda Allah. Ia mendengar suara manusia. Tetapi tidak mendengar bisikan kebenaran. Uzlah membuka mata hati. Agar engkau bisa membaca kehidupan. Bukan sekadar menjalaninya.”
Dalil Ketiga: Akal yang Tidak Digunakan
Ibnu Atha’illah kemudian membacakan ayat yang lebih tajam:
‘Dan Allah akan menimpakan rijsa (kemurkaan) kepada mereka yang tidak menggunakan akal mereka.’ (QS. Yunus: 100)
“Rijsa adalah kegelisahan, kebingungan, dan kesulitan hidup,” jelas Ibnu Atha’illah. “Siapa pun yang tidak menghidupkan akal hatinya. Yang tidak pernah merenung. Tidak pernah bertafakur. Akan ditimpa kebingungan. Hidupnya akan terasa sulit dipahami. Ia akan selalu merasa ada yang kurang. Tanpa tahu penyebabnya apa.”
“Uzlah adalah obat dari kebingungan itu. Ketika engkau menyendiri dan bertafakur. Engkau sedang menggunakan akal hatimu. Dan Allah menjanjikan petunjuk bagi orang yang menggunakan akalnya.”
Dalil Keempat: Tafakur Sejenak Lebih Berharga
Zaid bertanya lagi, “Wahai Mursyid, apakah tafakur benar-benar lebih berharga daripada ibadah yang banyak?”
Ibnu Atha’illah tersenyum. “Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa tafakur satu jam lebih baik daripada ibadah tujuh puluh tahun.” “Riwayat ini bukan untuk merendahkan ibadah. Tetapi untuk menunjukkan bahwa tafakur adalah induk dari segala kebaikan. Ia melahirkan pemahaman. Pemahaman melahirkan keikhlasan. Dan keikhlasan menghidupkan amal.”
“Nabi Muhammad SAW sendiri sering beruzlah di Gua Hira sebelum menerima wahyu. Mencari ketenangan dan makna hidup melalui tafakur.” “Beliau menyendiri bukan karena benci manusia. Tetapi karena hati beliau membutuhkan ruang untuk menerima cahaya.”
Penutup: Menyepi untuk Kembali
Malam semakin larut. Ibnu Atha’illah bangkit, membetulkan selendangnya, dan memandang para salik dengan penuh kasih.
“Anak-anakku,” ujarnya, “uzlah bukanlah tujuan. Ia adalah jembatan. Engkau menyepi bukan untuk meninggalkan dunia. Tetapi untuk kembali kepada dunia dengan hati yang lebih jernih.”
“Hati yang tidak pernah menyepi akan menjadi tumpul. Hati yang tidak pernah bertafakur akan menjadi buta. Dan hati yang buta tidak akan pernah melihat Allah. Meskipun ia berada di tengah masjid.
“Maka berdoalah: ‘Ya Allah, karuniakanlah kepadaku waktu untuk menyepi. Hati untuk bertafakur. Mata batin yang bisa melihat tanda-tanda-Mu. Janganlah Engkau biarkan aku menjadi orang yang buta hatinya. Meskipun matanya melihat.’”
Zaid mengusap air matanya. Ia belum tahu kapan ia akan menyepi. Tetapi ia tahu satu hal: Hatinya butuh ruang. Dan Allah selalu menunggu di dalam ruang itu.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Bersambung ke hikmah ketiga belas.
