Selasa, 16 Juni 2020

Pertanyaan Anak Monyet...

Serial Si Kamsuy (23)

Anak Monyet itu begitu fokus melihat si Kamsuy yg sedang mandi di sungai. Kebetulan Kamsuy memang sedang berada di hutan yang rindang nan sepi. Melihat sungai dengan air yang sangat jernih Ia pun mandi. Malah, maaf, dengan tanpa pakaian alias bertelanjang.

Tanpa Kamsuy sadari, ia tengah mendapat perhatian induk monyet dan anaknya.

Anak Monyet itu pun dengan penuh perhatian dan pengamatan, asyik melihat si Kamsuy yang lagi mandi. Ia pun mulai bertanya pada induknya.

"Mamih, Mamih, sebenernya apa sieyyy bedanya manusia dengan kita?" tanya anak Monyet ke induknya yang juga melihat pemandangan yang sama.

Karena induknya bingung harus menjawab apa, ia pun menjawab sekenanya. "Bedanya gak terlalu jauh sayang, kalo kita ekornya di belakang, kalo manusia ekornya di depan, tuch kayak orang itu," jawab induknya sambil menunjuk si Kamsuy.

Pesan moral: "Kita saja berkecenderungan mengambil suatu keputusan pintas dari fakta yang tampak terlihat mata. Apatah lagi Om Onyet..."



Kapan Sebaiknya Hari Jadi Telkom

Secangkir Anggur Merah (20)
By: Nana Suryana

Pengantar: Sebagaimana kita memiliki hari lahir, maka sejatinya setiap Institusi memiliki Hari Jadi. Suatu Hari Jadi, boleh dibilang, sebagai bumbu penyedap organisiasi. Tak hanya dapat dijadikan momentum untuk bersilaturahmi dan bersuka cita seluruh jajaran manajemen dan warga perusahaan. Namun yang justru terpenting guna memperkuat Identitas Perusahaan.

Nah, bagaimana dengan TELKOM? Benarkah tanggal 27 September yang sering kita peringati sebagai Hari Bhakti POSTEL itu sebagai Hari Ulang Tahunnya TELKOM? Masih patutkah tanggal itu diperingati dan dipertahankan? Kalau begitu, yuk, kita telusuri…

Awal kisah dari KR

Bergulirnya wacana perlu dilakukan pencarian Hari Jadi TELKOM itu sesungguhnya mulai terasa pada akhir tahun 2004 silam. Saat itu Dirut Kristiono (KR) mempertanyakan, ”Kapan, sih, sebenarnya Ulang Tahun TELKOM itu?” Semua yang mendengar kelimpungan. Memang, selama ini tidak pernah tahu dan tidak pernah jelas kapan tanggalnya. Melihat situasi saling tatap wajah kebingungan seperti itu, maka secara lisan KR menugaskan pada Corporate Communication c.q. Inrel yang waktu itu dijabat Pan Supandi, untuk segera melakukan penelusuran.

Agar penugasan ini lebih mengikat dan memiliki dasar kuat, maka diterbitkan Nota Dinas DIRUT No. C.TEL 30/PS170/SEK-10/2004 tanggal 22 Oktober 2004 tentang Penugasan sebagai Tim Pengkajian Hari Jadi TELKOM.

Dibentuklah Tim Pengkaji yang diketuai Kabag Inrel, Pan Supandi dan Sekretaris Nana Suryana dibawah tanggung jawab Mundarwiyarso selaku Koordinator Komunikasi Perusahaan. Tim yang dilengkapi beberapa Anggota itu mulai bekerja dengan melakukan penelusuran Hari Jadi TELKOM untuk dipertimbangkan dan ditetapkan dalam Rapat Direksi (RADIR).

Metoda Pengumpulan

Adapun metoda pengumpulan data dan penelitian yang dipergunakan antara lain: Literature Study dari Buku Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia Jilid IV-Masa Demokrasi Terpimpin; Melalui Interview secara tatap muka atau email dengan beberapa orang sesepuh/tokoh telekomunikasi; Melakukan telaahan bersama para Ahli Sejarah; Serta melalui Jajak pendapat Karyawan melalui Email.

Penelusuran dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain: Pertama, melalui pendekatan HISTORIS, yang menyatakan bahwa Hari Jadi TELKOM sebagai suatu perusahaan harus dibedakan dengan Hari Peringatan dari eksistensi telekomunikasi di Indonesia yang sifatnya eventual, baik sebelum maupun setelah revolusi. Kedua, Pendekatan PERSPEKTIF LEGAL & OTORITAS, yakni bahwa Hari jadi TELKOM hendaknya merupakan cermin dari TELKOM sebagai entitas bisnis yang mandiri yang didasarkan pada suatu dasar hukum resmi.

Dan Ketiga, Pendekatan PERSPSEKTIF AKTIVITAS PERUSAHAAN, yang menyatakan bahwa Hari jadi TELKOM sebaiknya disinkronkan dengan siklus sales produk/jasa TELKOM dan dengan siklus pembangunan Citra TELKOM di masyarakatnya.

Hasil jajak pendapat

Dari proses penelitian dan pengumpulan data/opini, diperoleh hal-hal penting sebagai berikut: Pendapat Karyawan, yakni dari jajak pendapat yang diikuti oleh 128 Karyawan melalui email diperoleh hasil pilihan Hari Jadi TELKOM sebagai berikut: Sebanyak 27% responden memilih bahwa Hari Jadi itu sebaiknya Tanggal 23 September 1991 (Hari Perubahan dari Perum ke Perseroan); 19,5% memilih Tanggal 6 Juli 1965 (Tanggal dari PP. No 30/65 tentang pendirian PN.Telekomunikasi); 16,4% memilih Tanggal 27 September 1945 (Tanggal pengalihan Kantor Pusat PTT); Serta 37,1% responden memilih Lain-lain.

Sementara Pendapat Sesepuh/Pinisepuh/mantan pejabat dan saksi sejarah, antara lain terhimpun dari Bpk. Ir.Sukarno Abdurachman, Bpk.Soendjoto BcAT, Bpk.Soeparwi BcTT, Bpk.Daud Surjadi BcTT, kesemuanya sependapat bahwa tanggal 6 Juli 1965 merupakan waktu paling tepat sebagai Hari jadi TELKOM, sebagai tanggal pendirian PN.Telekomunikasi.

Begitu pun menurut Pendapat Pakar Ada 6 (enam) alternatif tanggal sebagai Hari Jadi TELKOM, salah satunya adalah tanggal 6 Juli 1965, adapun sisanya merupakan tanggal-tanggal yang berkaitan dengan eksistensi telekomunikasi di Indonesia (eventual).

Tanggal 27 September, misalnya, yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Bhakti Postel oleh semua pegawai di jajaran pos dan telekomunikasi dipandang kurang tepat untuk dijadikan Hari Jadi Telkom. Tanggal ini bertolak dari diambil-alihnya Jawatan PTT dari kekuasaan pemerintahan Jepang oleh putra putri Indonesia yang tergabung dalam Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon yang disingkat AMPTT pada tanggal 27 September 1945.

Berdasarkan hasil analisa Tim, bahwa Walaupun dari persfektif Legal, sejak 1 Januari 1962 telah berbentuk Perusahaan Negara (berdasarkan PP No.240 tahun 1961), namun dari persfektif otoritas pengelolaan bisnis telekomunikasi saat itu belumlah merupakan entitas yang mandiri. Hal itu dicerminkan antara lain oleh masih digabung dengan Pos & Giro. Selain itu Pengelolaan bisnis telekomunikasi saat itu hanya merupakan salah satu direktorat (disebut Direktur Telekomunikasi dan Direktur Telekomunikasi Muda).

Demikian halnya Susunan Direksi PN.POSTEL berdasarkan SK.Mendapostelpar tanggal 13 Agustus 1964 Nomor U14/11/7: Perusahaan dipimpin oleh seorang Dirjen (DIRJEN POSTEL) yang dibantu oleh tiga Direktur Staf dan tiga Direktur Perusahaan serta dua Dirketur Muda Perusahaan.

Sedangkan Pengelolaan bisnis telekomunikasi merupakan suatu entitas, baru terwujud pada tanggal 6 Juli 1965. Saat itu sebagai Perusahaan Negara Telekomunikasi yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.30 tahun 1965 (Lembaran Negara No.62 dan No.63 tahun 1965). Tepatnya tanggal 6 Juli 1965.

Dari analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa tanggal 6 Juli 1965 merupakan salah satu waktu yang PALING TEPAT untuk dijadikan sebagai Hari jadi TELKOM.

Pada tanggal, bulan dan tahun itu, telah diajukan ke Dirut untuk mendapat penetapan dalam Radir. Namun entah mengapa, ada apa dan bagaimana, waktu itu tidak mendapatkan respon. Bahkan terpending cukup lama. Selentingan kabar, kalau ditetapkan pada tahun itu, usia Telkom tampak masih terlalu muda. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Bagaimana dengan tanggal 23 Oktober

Usulan hari jadi Telkom tanggal 6 Juli 1965 terpending. Kemudian ditemukan suatu hari yang sangat bersejarah bagi pertelekomunikasian di republik ini yaitu tanggal 23 Oktober 1856. Alternatif untuk penetapan hari jadi ini mengacu pada pengoperasian layanan jasa telegrap elektromagnetik pertama yang menghubungkan Batavia (Jakarta) dengan Buitenzorg (Bogor) pada tanggal 23 Oktober 1856.

Pertimbangan untuk memilih waktu ini agar eksistensi Telkom sebagai satu-satunya operator telekomunikasi merah-putih tampak lebih dewasa, tua dan sarat pengalaman. Peringatan hari jadi Telkom pun kemudian digelar pada tanggal ini, Yakni, dilakukan pada tahun 2009 silam sebagai hari jadi yang ke-153.

Peringat Hari Jadi Telkom waktu itu bersamaan dengan pelaksanaan rangkaian transformasi perusahaan. Mulai dari perubahan logo, terutama guna memenuhi keinginan stakeholders, agar Telkom melakukan perubahan secara mendasar. Agar Telkom mampu menampilkan sesuatu yang baru. Tidak hanya mengganti corporate identity (logo) saja. Namun yang terpenting adalah Telkom saat itu mendeklarasikan sebuah perubahan business portofolio dari Infocomm ke TIME sebagai satu-satunya operator TIME di Indonesia.

Perubahan pada tubuh Telkom terus bergulir. Dimulai dengan positioning baru, value baru, taqline baru, corporate identity baru serta culture baru. Harapannya, citra baru Telkom ini mampu meningkatkan ekspektasi stakeholder pada Telkom.

Salah satu stakeholders, yakni kastamer, tentu saja ingin mendapatkan dan merasakan sebuah layanan yang berbeda dari sebelumnya. Layanan yang lebih baik dari operator manapun yang pernah mereka kenal dan rasakan. Sebuah layanan yang akan membangkitkan gairah baru dan experience baru yang benar-benar memorable. Menuju Telkom dengan Era Baru, Bercitra Baru, dan tentu saja saat itu dimulai dengan tag-line baru: the world in your hand. Dunia dalam genggaman tangan anda...

Jadikan momentum bagi pensiunan

Peringatan hari jadi perusahaan sepantasnya untuk dirayakan. Namun situasi dan kondisi perusahaan dan sosial masyarakat, maka perayaan itu cukup dilakukan secara sederhana, namun khidmat. Terpenting justru bagaimana momentum ini dapat dijadikan peningkatan kesejahteraan bagi para pensiunan, terutama pensiunan pra 2002.

Alangkah indahnya jika setiap peringatan hari jadi ada tambahan MP bagi para pensiunan, yang notabene tak pernah meningkat seumur-umur. Jadi dalam setahun mereka bisa menerima dua kali TMP, yakni pada saat jelang Idul Fitri dan hari jadi. Direksi cq Manajemen jangan terlalu pelit untuk tujuan yang sangat mulia ini. Dengan melibatkan Dapen, P2Tel dan Sekar, bisa mulai merintisnya untuk hari jadi oktober mendatang. Semoga harapan ini menjadi kenyataan...//**nana suryana

Senin, 15 Juni 2020

Perubahan...Bulshit??

Secangkir Anggur Merah (Edisi-4)

by: Nana Suryana

Kita harus berubah! Ya, ucapan bernada instruksi ini kerap dilontarkan para CEO atau para pejabat perusahaan. Sampai-sampai ucapan itu menjadi terasa klise. Bulshit, modus atau Omdo, kata orang sekarang. Bahkan ada yang protes: ”Sekarang zamannya role model bung! Sebelum memberi instruksi lakukan dulu perubahan diri sendiri.”

Mengapa, tekanan bernada perintah kepada akar rumput itu bisa berbuah apatisme? Karena melakukan perubahan, dirasakan kurang enak alias gak nyaman. Itulah sebabnya tidak banyak orang yang menyukai perubahan.

Untuk berubah ke arah yang lebih baik, biasanya memang tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar. Ada pengorbanan yang harus diganjar! Boleh dalam bentuk pengendalian sikap, prilaku, manajemen waktu, sampai pada tuntutan untuk fokus. Terkadang turut mengimbas pula pada pengorbanan keluarga. Diburu dan dikejar target hingga harus pulang larut malam.

Memang yang paling gerah adalah mengubah attitude. Betapa tidak, selama ini mungkin kita sangat suka dan terlanjur nyaman dengan sikap yang dimiliki. Apalagi jika telah terlanjur terbuai zona nyaman. Ucapan seperti "EGP", "mana ada urus" atau "bukan urusan saya" telah menjadi kalimat sanggah yang paling diandalkan. Sampai-sampai, harus memvonis orang lain agar rela untuk menerima sikap dirinya yang semau gue.

Lalu bagaimana jika tiba-tiba diminta untuk melakukan perubahan sikap dari yang selama ini sangat nyaman? Mungkin siapa pun akan mulai berpikir dan mencari alasan pengingkaran. Boleh jadi akan keluar kalimat argumentatif, seperti ini: “Untuk apa sih gue ini harus kerja gini-gini amat! kaki dibikin kepala, kepala dibikin kaki (maksudnya kerja sampai jungkir balik, red.), padahal gaji gue dengan si polan yang gebleknya ga kira2 tak ada bedanya!!”

Kalau selama ini kita tergolong orang cuwek bebek yang senang dilayani, lalu diajarkan untuk berubah menjadi orang yang suka melayani, sudah tentu, pastilah ini tidak mudah. Bisa saja terjadi banyak pergolakan batin. Bermunculan keluhan atas kesulitan hingga terjadi tekanan emosi yang menghimpit.

Contohnya, tengoklah kondisi para karyawan beberapa waktu lalu banyak yang mengeluh sampai keinginan untuk dikabulkan pensiun dininya (pendi). Mengapa? karena tak tahan sewaktu ditantang harus berjualan produk sesuai target selangit dengan pelayanan prima kepada calon pelanggan.

Namun apapun alasannya, siapapun kita termasuk para pensiunan, mendapat tuntutan untuk berubah. Perubahan harus sudah dimulai dan harus terus berjalan. "With or without you," kata seorang Senior Leader yang idealis.

Memang sepertinya kita tak punya pilihan lain. Option-nya hanya satu,: “We must change!” Kita harus berubah. Terpaksa atau dipaksa harus berubah. Siapapun kita itu, dimanapun kita berada, di level apapun tanggungjawab kita. Semua harus berubah! Mengapa? Karena situasi dan kondisi kehidupan di alam Pandemik Covid-19 saat ini yang semakin memaksa untuk berubah.

Lantas mengapa perubahan telah menjadi sesuatu yang amat penting? Sebab, itulah resep orang-orang sukses di jagad raya ini. Karena mereka berani berubah. Mereka bersedia keluar dari zona nyaman (comfort zone). Apapun kondisinya, baik itu kekurangan diri, kelemahan diri, keterbatasan sarana dan prasarana, sesungguhnya tak bisa dibilang sebagai kendala.

Karena perubahan, Julius Caesar, si penderita epilepsy, berhasil menjadi seorang jenderal lalu menjadi kaisar. Napoleon, yang terlahir dari keluarga melarat, juga berhasil menjadi jenderal. Bethoven menghasilkan lagu terbaiknya justru setelah telinganya tuli total. Charles Dickens terkenal menjadi penulis novelis Inggris terbesar dari keluarga miskin dengan kaki pincang. Atau Milton yang menggubah sajak-sajaknya yang terindah sepanjang masa setelah ia menjadi buta.

Orang-orang itu, sungguh, telah sanggup mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Kekurangan menjadi prestasi. Hambatan dijadikan peluang. Kini yakinlah bahwa keunggulan, kemenangan, keberhasilan dan kejayaan adalah fungsi garis lurus dari kemauan, kemampuan dan keberanian untuk berubah.

Menurut para psikolog bahwa keberanian adalah 50% dari kesuksesan. Sementara kemauan merupakan 50% menjadi kemampuan. Namun sialnya, banyak dari kita yang mampu tapi tidak mau. Banyak yang mau tapi tidak mampu. Dan banyak yang mampu dan mau tapi tidak berani.

Inikah yang disebut demotivasi? Yang lebih suka bersiul di kursi goyang seraya mereguk secangkir kopi? Atau berongkang kaki bersama kepulan asap sebatang rokok? Atau duduk merenung nostalgia di masa jaya? Atau malah telah kehilangan jati diri?

Ah, sepertinya memang kita harus berubah. Berubah untuk berbuat sesuatu yang lebih bermakna. Berubah untuk berrbuat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi keluarga dan orang lain. Berubah agar lebih lebih bernilai ibadah untuk bekal akhirat kelak...

Yuk, akh, kita gapai misi hidup kita "Mati masuk surga bersama ridhoNya"...!! (N425)

Minggu, 14 Juni 2020

Quo Vadis Telkom, Pasca Disentil Erick THohir

(Telkom Landmark Tower Jakarta)
by: Nana Suryana

Selama ini Telkom dikenal sebagai BUMN papan atas. Bahkan dengan segenap kebanggaan kerap didaulat sebagai BUMN Merah Putih pemberi deviden terbesar pada negara. Tak ayal, Citra Telkom membumbung ke angkasa. Para pencari kerja di republik ini menempatkan Telkom sebagai pilihan pertama sebagai tempat bekerja.

Namun seiring waktu dan perkembangannya, bisnis Telkom terus melesak dihajar lingkungan bisnis yang semakin kompetitif. Tentu saja termasuk efek kemajuan teknologi yang mengalir deras tanpa batas. Pada gilirannya bisnis Telkom mulai terpuruk. Dan hanya bisa mengandalkan dari revenue salah satu anak perusahaannya, Telkomsel.

Kondisi bisnis Telkom yang semakin menukik itu terasa berbau menyengat. Pada gilirannya tercium Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir (ET). Sentilan pertama ET, ia merasa kesal dan tak sudi melihat bisnis Telkom begini-begini saja. Apalagi pada era disrupsi bisnis seperti sekarang, ia meminta Telkom berinovasi lewat pengembangan teknologi kekinian.

Waduh, kesongongan apa yang telah diumbar Meneg BUMN pada Kabinet Kerja ini. Karuan saja jajaran direksi, para mantan petinggi Telkom, para petinggi Sekar sampai pada jajaran Manajemen Telkom terasa panas dingin, kalau tak mau dibilang meriang.

“Wah, jangan-jangan beneran Telkom mau dibubarin nih,” demikian letupan suara sumbang yang terdengar santer di pertengahan Pebruari silam.

Memang benar, ET tak berniat mendiskreditkan Telkom. Apalagi Telkom dikenal sebagai jagonya teknologi. Dalam angan dan pikiran bisnisnya: Ya, inovasi Telkom harus dipacu dong. Sektor teknologi gak boleh dilupakan dalam rencana pengembangan bisnis BUMN.

Untuk itu, Telkom sejatinya segera berbenah diri dalam mengembangkan bisnisnya.
ET pun berangan-angan agar Telkom segera bermetamorfosis. Tinggalkan cara lama dan sudah sejatinya masuk pada cara baru sesuai tuntutan jaman. Lebih ke profit oriented dan lebih menjanjikan. Apalagi kalau Telkom malah an-sich menjadi penonton, ditengah hiruk-pikuk bisnis cloud dan big data yang kini digarap asing. Padahal Telkom, kan, memiliki kekuatan jaringan dan database yang besar.

Sayang sekali, tutur ET, jika database atau jaringan ini diambil asing. Padahal yang selalu bicarakan database ini adalah the new oil . Karena melalui big data kita bisa memprediksi apa yang akan dikehendaki dan dibeli orang.
Sentilan yang dirasakan cukup perih itu, ketika ET menyinggung Telkom yang justru mengandalkan keuntungan dari anak usahanya yakni, Telkomsel.

Menurut Erick, industri telekomunikasi sudah jauh berubah dengan tidak sekadar menjual layanan pesan suara, melainkan juga data. Dengan infrastruktur yang dimiliki, Telkom seharusnya bisa mengembangkan bisnisnya lebih masif.

Coba saja, sentil Erick, pendapatan Telkomsel digabung ke Telkom hampir 70 persen. Ya, mendingan enggak usah ada Telkom. Mendingan punya Telkomsel saja yang langsung dimiliki Kementerian BUMN. Devidennya lebih jelas.

Pernyataan ET itu mengindikasikan, bukankah sebaiknya Telkom dibubarkan saja. Wow, kritikan yang sangat menyengat, kalau tak mau dibilang bagai menampar wajah jajaran Manajemen Telkom. Apalagi ketika Erick meminta Telkom melirik peluang bisnis baru, contohnya cloud computing.

Erick mengaku sempat terpaksa menggunakan layanan cloud dari Alibaba yakni Alicloud saat Asian Games 2018 lantaran tak ada BUMN yang mampu memenuhinya. Erick saat itu sangat prihatin. Mengapa peluang ini bisa lepas dari Telkom.

Kita mau Telkom ke depan berubah ke arah database, big data, cloud, masa cloud saja dipegang Alicloude (Alibaba). Kan, gak lucu. Bigdata dan cloud bisa menjadi sebuah bisnis yang lebih menjanjikan bagi Telkom. Jangan malah diambil asing.

Respon Telkom

Lantas quo vadis Telkom? Mau kemana Telkom pasca disentil ET? Dirut Telkom, Ririek Adriansyah, memang lumayan gerah mendapat sentilan ET. Namun kepiawaiannya dalam mengelola krisis, rupanya beliau sikapi dengan tangan dingin. Ia menanggapi kritik dan sentilan Erick terhadap perusahaan yang dipimpinnya dengan positive thinking. “Tujuannya pak Menteri sangat baik” tandasnya. Ia menilai, pak menteri mengharapkan Telkom lebih cepat bertransformasi.

“Beliau ingin Telkom bertransformasi ke depan,” ujar Ririek. Padahal, sesungguhnya kita sudah punya rencana itu. Tapi rupanya beliau ingin lebih cepat lagi. Tak mengapa.
Telkom, tambah Ririek, juga berkomitmen untuk melakukan transformasi bisnis sekaligus berinovasi untuk mengembangkan bisnis di Indonesia. Walaupun kalau untuk masuk ke sector cloud computing masih belum saatnya dimulai. Namun dapat dipastikan segera meluncur.

Fokus pengembangan bisnis Telkom saat ini, kata mantan Dirut Telkomsel ini, adalah memodernisasi jaringan telekomunikasi dengan menggunakan teknologi 100 persen berbasis fiber optik di kota dan kabupaten seluruh Indonesia. Ini sangat urgent, terutama guna mempersiapkan layanan 5G.

Program modernisasi itu dikenal dengan istilah Modern Broadband City. Ini adalah komitmen Telkom untuk meningkatkan kualitas layanan Information & Communication Technology (ICT) bagi masyarakat guna mempercepat terwujudnya digitalisasi Indonesia.

Pada era digital saat ini, tergelarnya infrastruktur 100 persen fiber optik itu diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan broadband berkualitas. Ini menjadi landasan penting dalam penyediaan layanan digital baik digital platform maupun services, yang dapat diakses melalui jaringan fixed broadband maupun seluler berkecepatan tinggi 3G/4G. Sekaligus juga menjadi langkah penting TelkomGroup dalam mempersiapkan hadirnya layanan 5G.

ET Minta Maaf

Setelah dilakukan sowan Dirut Telkom ke Meneg BUMN, barulah kisruh bernada sentilan itu mulai mencair. ET dan Ririek, sesungguhnya memiliki konsep sama terkait pengembangan Telkom ke depan.. Erick mengatakan, Telkom dipastikan bakal moving. Akan segera bergeser ke bisnis cloud dan big data. Dan di-iya-kan oleh Ririek.

Erick pun meminta maaf karena sebelumnya menyinggung Telkom yang hanya mengandalkan dividen anak usahanya,Telkomsel.

Dalih ET, sebenarnya diniatkan untuk memastikan bahwa dividen Telkomsel digunakan dengan sebaik-baiknya.
"Saya mohon maaf, kalau bicara kurang baik tentang Telkom. Sebelumnya, saya sudah duduk bersama Dirut Telkom, Pak Ririek, jauh-jauh hari. Beliau ini, bekas Dirut Telkomsel. Jadi tahu persis dividen Telkomsel yang masuk ke Telkom, dipastikan benar-benar dipergunakan sebaik-baiknya. Dan saya juga pastikan Telkom punya dividen yang baik," katanya dalam acara Economic Outlook 2020 yang diselenggarakan CNBC Indonesia di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/2/20).***//nas

Serial Tasawuf-22 al-Jailani: "Tazkiyatun Nafs, Menyucikan Cermin Hati dari Debu Dunia"

Leaderline: Tahun 545 Hijriah. Usia Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah menginjak senja. Jenggotnya memutih. Punggungnya mulai membungkuk. Te...