Kamis, 29 Oktober 2026

Serial Tasawuf-36 Al-Hikam: Hikmah Ketiga, "Dinding Takdir yang Tak Terlampaui Tekad"


Malam itu, hujan turun rintik-rintik di atas Iskandariyah. Para salik kembali berkumpul di beranda zawiyah. Membasuh wajah mereka dari air hujan yang dingin. Syekh Ahmad bin Atha'illah as-Sakandari duduk di tempatnya. Memandangi murid-muridnya dengan mata yang teduh. Seorang salik bernama Zaid mengangkat tangan. Kali ini dengan wajah yang lebih gelisah dari malam-malam sebelumnya.

"Wahai Mursyid," ujarnya dengan suara yang bergetar, "aku telah berusaha sekuat tenaga. Aku telah bekerja siang dan malam. Aku telah berdoa tanpa henti. Aku telah bersedekah. Aku telah bersabar. Tetapi apa yang aku inginkan tidak juga tercapai. Apakah usahaku sia-sia? Apakah tekadku tidak berarti di hadapan Allah?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung pemahaman mendalam tentang pergulatan jiwa manusia. Ia memandang Zaid, lalu berkata dengan suara yang tenang:

"سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الْأَقْدَارِ"

"Tekad yang kuat tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir."

Zaid terdiam. "Wahai Mursyid, apakah maksudnya bahwa semua usahaku tidak ada gunanya?"

"Bukan tidak ada gunanya, anakku," jawab Ibnu Atha'illah. "Tetapi engkau harus memahami bahwa takdir Allah adalah dinding yang kokoh. Tekadmu adalah anak panah yang engkau lepaskan ke arahnya. Anak panah itu tidak akan pernah bisa menembus dinding itu. Tetapi ia tetap harus dilepaskan. "

Dalil Pertama: Segala Sesuatu Diciptakan dengan Takdir

Ibnu Atha'illah membuka mushafnya. "Dengarkanlah, anakku, apa yang Allah katakan:

'Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir (yang telah ditentukan).' (QS. Al-Qamar: 49)


"Perhatikanlah," ujarnya. "Allah tidak berkata 'Kami menciptakan sebagian sesuatu menurut takdir.' Ia berkata 'segala sesuatu' —tanpa kecuali. Rezekimu, ajalmu, kebahagiaanmu, kesedihanmu, bahkan sehelai rambut yang jatuh dari kepalamu—semua telah tertulis dalam takdir Allah."

Seorang salik bernama Fatimah bertanya, "Wahai Mursyid, jika semua sudah ditakdirkan, lalu untuk apa kami berusaha?"

Ibnu Atha'illah menjawab, "Dengarkanlah firman Allah yang lain:

'Dan setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.' (QS. Al-Hadid: 22)

"Allah telah menulis segalanya—tetapi Ia juga memerintahkan engkau untuk berusaha. Engkau berusaha bukan untuk mengubah takdir, tetapi untuk menjalankan perintah Allah. Engkau bekerja bukan untuk menembus dinding takdir, tetapi untuk memenuhi kewajibanmu sebagai hamba."

Dalil Kedua: Allah Menghapus dan Menetapkan

Umar, seorang salik yang lain, mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, jika takdir tidak bisa diubah, bagaimana dengan doa? Bukankah doa bisa mengubah takdir?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. "Pertanyaan yang sangat baik, Umar. Dengarkanlah firman Allah:

'Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya ada Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).' (QS. Ar-Ra'd: 39)

"Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Doa adalah bagian dari takdir itu sendiri. Allah telah menakdirkan bahwa doa hamba-Nya akan mengubah sesuatu. Allah telah menakdirkan bahwa sedekah akan menolak bala. Allah telah menakdirkan bahwa usaha akan mengantar kepada hasil."

"Jadi, janganlah engkau berkata: 'Jika sudah ditakdirkan, untuk apa berdoa?' Justru karena doa adalah bagian dari takdir, maka berdoalah. Janganlah engkau berkata: 'Jika sudah ditakdirkan, untuk apa berusaha?' Justru karena usaha adalah bagian dari takdir, maka berusahalah."

Dalil Ketiga: Segala Sesuatu Sesuai dengan Qada dan Qadar

Ibnu Atha'illah kemudian membacakan sabda Nabi Muhammad SAW:

'Segala sesuatu itu sesuai dengan qada dan qadar.' (HR. Muslim)

"Perhatikanlah, anakku. Nabi SAW tidak berkata 'sebagian sesuatu'. Beliau berkata 'segala sesuatu'. Tidak ada yang lepas dari takdir Allah—tidak ada satu pun."

Dan Nabi SAW juga bersabda:

'Allah telah mencatat takdir setiap makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.' (HR. Muslim)

"Bayangkanlah," ujar Ibnu Atha'illah, "lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, namamu sudah tertulis dalam catatan takdir Allah. Rezekimu sudah tertulis. Ajalmu sudah tertulis. Bahkan air matamu yang jatuh malam ini pun sudah tertulis. Engkau tidak sedang menulis takdirmu—engkau sedang menjalani takdir yang telah ditulis untukmu. "

Dalil Keempat: La Hawla wa La Quwwata Illa Billah

Ibnu Atha'illah kemudian mengajarkan sebuah kalimat yang agung. "Ketahuilah, anakku, bahwa Nabi SAW telah mengajarkan kepada kita sebuah kalimat yang harus selalu kita ucapkan: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ — 'Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah.'"

"Kalimat ini adalah inti dari hikmah ini. Tidak ada daya. Tidak ada tekad. Tidak ada usaha. Tidak ada kekuatan yang bisa mengubah apa pun. Kecuali dengan izin Allah. Tekadmu tidak bisa menembus dinding takdir. Usahamu tidak bisa melampaui ketentuan Allah. Tetapi Allah. Dzat yang menetapkan takdir. Bisa mengubahnya jika Dia berkehendak."

Hikmah di Balik Dinding Takdir

Zaid bertanya lagi, "Wahai Mursyid, jika tekadku tidak bisa menembus takdir. Lalu apa gunanya aku memiliki tekad?"

Ibnu Atha'illah menjawab dengan penuh kelembutan. "Tekadmu bukanlah untuk menembus takdir, anakku. Tekadmu adalah untuk menunjukkan ketaatanmu kepada Allah. "

"Engkau bertekad untuk shalat. Bukan karena tekadmu bisa memaksa Allah menerima shalatmu. Tetapi karena Allah memerintahkanmu untuk shalat. Engkau bertekad untuk bekerja. Bukan karena tekadmu bisa memaksa rezeki datang. Tetapi karena Allah memerintahkanmu untuk bekerja. Engkau bertekad untuk berbuat baik. Bukan karena tekadmu bisa memaksa surga terbuka. Tetapi karena Allah memerintahkanmu untuk berbuat baik."

"Tekad adalah bukti kehambaanmu. Engkau bertekad karena engkau hamba. Dan engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah karena engkau tahu bahwa engkaulah yang tidak berkuasa atas apa pun."

Berusahalah, lalu Berserahlah

Malam semakin larut. Hujan telah berhenti. Bintang-bintang muncul di langit Iskandariyah. Ibnu Atha'illah bangkit dari duduknya. Membetulkan selendangnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya, "berusahalah sekuat tenaga. Bertekadlah setinggi langit. Berdoalah sepanjang malam. Tetapi ketahuilah. Tekadmu tidak akan pernah bisa menembus dinding takdir. Yang bisa menembusnya hanyalah rahmat Allah. "

"Maka janganlah engkau sombong ketika usahamu berhasil. Karena itu adalah takdir Allah. Dan janganlah engkau putus asa ketika usahamu gagal. Karena itu juga adalah takdir Allah. Yang penting bukanlah hasilnya. Melainkan apakah engkau telah menjalankan kewajibanmu sebagai hamba. "

"Maka berdoalah: 'Ya Allah, jadikanlah tekadku sebagai bentuk ketaatan kepada-Mu. Bukan sebagai alat untuk menentang takdir-Mu. Dan karuniakanlah kepadaku ridha terhadap segala yang Engkau tetapkan.'"

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Tekadnya bukanlah untuk mengubah takdir. Tetapi untuk menunjukkan cintanya kepada Allah. 

Dan malam itu, ia pulang dengan hati yang lebih lapang. Karena ia telah menemukan bahwa ketenangan bukanlah ketika semua keinginannya tercapai. Melainkan ketika ia ridha dengan apa pun yang Allah tetapkan.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Bersambung ke Hikmah Keempat: Tenangkan Hatimu dari Mengatur Segala Urusan

Rabu, 28 Oktober 2026

Hak Angket Ijazah Gibran, Terlanjur Basi atau Kurang Seksi?


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-68)

Leaderline: Wacana hak angket untuk mengusut ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ibarat panggung teater yang lampunya sudah mulai redup. Tetapi para aktornya masih bersikeras memainkan babak terakhir. Di satu sisi, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 telah menutup pintu yudisial. Dengan menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan atas keberadaan ijazah setara SMA milik Gibran. Di sisi lain, gelombang dorongan dari masyarakat sipil terus mengalir ke Senayan. Memaksa partai politik mendefinisikan sikap. Pertanyaannya kemudian bukan lagi soal benar atau salah secara hukum. Melainkan apakah instrumen politik ini masih memiliki daya bakar. Atau justru telah menjadi fosil yang kehilangan relevansi di tengah prioritas kekuasaan? Atau sudah terlanjur basi dan kurang seksi secara politis? Yuk, kita jajal...!

Senjata yang Terlalu Besar

Secara prosedural, hak angket memang tampak "basi". Anggota Komisi II DPR dari Golkar, Ahmad Doli Kurnia, secara terang-terangan menyatakan bahwa pansus dan hak angket tidak diperlukan. Cukup Komisi II memanggil KPU untuk menjelaskan mengapa pencalonan Gibran bisa lolos verifikasi administratif. 

Argumen Doli berangkat dari logika efisiensi. Jika persoalannya adalah keabsahan dokumen. Maka mekanisme komisi yang sudah ada lebih tepat digunakan ketimbang membentuk instrumen politik besar yang berpotensi mengguncang stabilitas. 

Sikap ini diperkuat oleh kekhawatiran bahwa hak angket. Yang secara konstitusional dapat bermuara pada pemakzulan. Justru berisiko menimbulkan persoalan konstitusional baru jika dasar faktualnya masih ditafsirkan berbeda. Dalam kerangka ini. Hak angket tampak seperti senjata yang terlalu besar. Untuk target yang sudah selesai secara hukum.

Daya Tarik Hak Angket Sulit Dipadamkan

Namun, "kurang seksi" adalah klaim yang perlu diuji dengan lebih jujur. Jika yang dimaksud "seksi" adalah kemampuan menarik perhatian publik secara luas dan instan. Maka hak angket ijazah memang kalah pamor dibanding isu ekonomi atau politik dinasti. 

Tetapi politik tidak selalu tentang sensasi. Ia juga tentang preseden dan akuntabilitas. Di sinilah hak angket tetap memiliki daya tarik yang sulit dipadamkan. 

Peneliti Formappi, Lucius Karus, berargumen bahwa forum DPR. Baik angket maupun hak menyatakan pendapat, adalah ruang sah bagi Gibran untuk mempertanggungjawabkan ijazahnya di hadapan publik. 

Jika Gibran benar memiliki ijazah, justru forum inilah panggung terbaik untuk membuktikannya, bukan malah menghindarinya. Sebaliknya, jika ia tidak dapat membuktikan. Maka pembiaran hanya akan meninggalkan preseden bahwa syarat konstitusional jabatan dapat dilewati tanpa konsekuensi.

Dilema yang Dihadapi DPR

Ketegangan sesungguhnya bukan terletak pada basi atau tidaknya hak angket. Melainkan pada dilemma yang dihadapi DPR. Antara stabilitas koalisi dan akuntabilitas publik. 

Sebagian besar fraksi berada dalam barisan pendukung pemerintah. Sehingga menyentuh Gibran berarti mengguncang rumah sendiri. Inilah yang membuat hak angket terasa "kurang seksi" secara politis. Ia menuntut para legislator untuk berpolitik melawan kenyamanan mereka sendiri. 

PDIP dan PKS memang membuka opsi. Tetapi langkah mereka masih sebatas komunikasi politik. Belum menjadi kesepakatan fraksi yang bulat. 

Sementara itu, Golkar yang semula menolak kini membahas usulan angket secara internal. Dan PKB menerima surat aspirasi sambil menunggu reses usai. Semua ini menunjukkan bahwa hak angket tidak mati. Ia hanya ditahan oleh kalkulasi kekuasaan.

Menguji Legitimasi Jabatan

Yang membuat wacana ini tetap "seksi" secara substansi adalah kenyataan bahwa putusan MK tidak serta-merta menghapus keraguan publik. MK menyatakan ijazah "tidak ditemukan", bukan "tidak ada". Perbedaan frasa ini bukan sekadar permainan bahasa. Ia menyisakan ruang epistemik yang membuat publik terus bertanya. 

Ketika Istana dan penyelenggara pemilu memberikan penjelasan yang tidak memuaskan. Maka DPR-lah satu-satunya institusi yang tersisa untuk memfasilitasi pertanggungjawaban politik. 

Menolak hak angket dengan alasan "sudah basi" sama saja dengan mengatakan bahwa legitimasi jabatan wakil presiden tidak perlu diuji di ruang publik. Padahal, dalam demokrasi, legitimasi bukan hanya soal sah secara hukum. Tetapi juga soal diterima secara politik.

Pada akhirnya, hak angket ijazah Gibran mungkin memang tidak lagi menjadi primadona pemberitaan harian. Ia tidak lagi "seksi" dalam arti mampu mengalahkan isu ekonomi dalam polling atau trending topic. 

Tetapi menyebutnya "basi" adalah kesimpulan yang terburu-buru. Basi berarti tidak lagi relevan. Sedangkan hak angket ini justru menyentuh akar legitimasi kepemimpinan. 

Ia adalah ujian bagi DPR. Apakah lembaga ini akan menjadi rubber stamp yang memilih diam demi stabilitas. Atau parlemen yang berani memikul risiko akuntabilitas. 

Selama pertanyaan tentang keabsahan ijazah belum terjawab tuntas di ruang publik. Selama itu pula hak angket. Betapapun tidak populernya. Tetap menyala sebagai bara yang menunggu ditiup angin politik berikutnya.

Persoalannya apakah bara itu sanggup ditiup DPR menjadi api? Terpulang pada nyali dan idealismenya. Apakah masih tegar menggelegar atau rontok borontok borokokok...!!!

Serial Tasawuf-35 Al-Hikam: Hikmah Kedua, "Pakaian yang Terlalu Sempit untuk Tubuhmu"


Malam berikutnya, para salik kembali berkumpul di beranda zawiyah. Udara Iskandariyah masih membawa aroma garam dari laut. Lampu minyak di sudut ruangan kembali berkedip-kedip. Syekh Ahmad bin Atha'illah as-Sakandari duduk di tempatnya. Memandang murid-muridnya satu per satu.

Zaid mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, aku ingin bertanya tentang sesuatu yang mengganjal di hatiku sejak lama."

"Silakan, anakku."

"Aku memiliki seorang teman. Ia sangat rajin beribadah. Ia meninggalkan pekerjaannya. Ia menjauhi keramaian. Ia duduk di masjid dari pagi hingga malam. Aku iri kepadanya. Aku ingin seperti dia. Bebas dari urusan dunia. Hanya beribadah kepada Allah. Tetapi aku tidak bisa. Karena aku harus bekerja menghidupi keluargaku. Apakah aku salah?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. "Dengarkanlah, anakku. Ada dua hal yang harus engkau pahami."

"Kehendakmu untuk tajrid (menyepi dan fokus beribadah), padahal Allah masih menempatkanmu dalam asbab (keharusan berusaha), itu termasuk syahwat yang samar. Dan kehendakmu untuk asbab, padahal Allah telah menempatkanmu dalam tajrid. Itu adalah kemerosotan dari derajat yang tinggi."

Zaid terdiam. "Apakah maksudnya keinginanku untuk menyepi itu salah, Wahai Mursyid?"

"Bukan salah, anakku. Tetapi bisa jadi ia adalah syahwat yang tersembunyi. Nafsu yang menyamar sebagai kesalehan."

Dalil Pertama: Bertebaranlah Setelah Beribadah

Ibnu Atha'illah membuka mushafnya. "Allah berfirman:

'Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Carilah karunia Allah. Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.' (QS. Al-Jumu'ah: 10)

"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Allah tidak berkata 'duduklah di masjid setelah shalat'. Ia berkata 'bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia-Ku'. Mencari rezeki bukanlah lawan dari ibadah. Ia adalah bagian dari ibadah itu sendiri, jika diniatkan untuk Allah."

"Bahkan Allah menyebutkan dalam firman-Nya:

'Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah...' (QS. Al-Muzzammil: 20)

Allah menyebut mereka yang berjalan mencari rezeki dalam ayat yang sama dengan mereka yang shalat dan berdzikir. Keduanya adalah hamba-Nya."

Dalil Kedua: Jangan Lupakan Bagianmu dari Dunia

Seorang salik bernama Fatimah bertanya, "Wahai Mursyid, bagaimana jika seseorang memilih bekerja. Tetapi ia merasa berdosa karena tidak bisa beribadah sepanjang hari?"

Ibnu Atha'illah menjawab, "Dengarkanlah firman Allah:

'Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, Janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.' (QS. Al-Qashash: 77)

"Allah memerintahkan kita mencari akhirat. Tetapi juga melarang kita melupakan bagian kita dari dunia. Ini adalah keseimbangan. Orang yang meninggalkan dunia sepenuhnya. Padahal ia memiliki tanggung jawab. Bukanlah orang yang bertakwa. Ia adalah orang yang melampaui batas."

Dan Allah juga berfirman:

'Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.' (QS. Al-Mulk: 15)

Dalil Ketiga: Ikatlah Untamu

Umar, seorang salik yang lain, mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, bukankah tawakal berarti kita menyerahkan segalanya kepada Allah?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. "Dengarkanlah sabda Nabi Muhammad SAW kepada seorang lelaki yang bertanya tentang untanya: 'Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.' (HR. Tirmidzi)"

"Perhatikanlah, anakku. Nabi SAW tidak berkata 'lepaskan untamu dan bertawakallah'. Beliau berkata 'ikatlah untamu'. Berusahalah. Lalu bertawakallah'. Serahkan hasilnya kepada Allah. Inilah asbab yang sejati. Berusaha dengan tangan. Berserah dengan hati."

Dalil Keempat: Nabi Daud Makan dari Kerja Tangannya

Ibnu Atha'illah melanjutkan, "Ketahuilah bahwa Nabi Daud AS. Seorang nabi yang mulia. Adalah seorang pembuat baju besi. Beliau bekerja dengan tangannya sendiri."

Nabi SAW bersabda:

'Tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang daripada yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud AS makan dari hasil kerja tangannya.' (HR. Bukhari)

"Jika seorang nabi saja bekerja, mengapa engkau merasa bahwa bekerja itu menghalangi ibadahmu? Bahkan Nabi SAW bersabda:

'Sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang mukmin dan berkarya.' (HR. Thabrani)


Dan beliau juga bersabda:

'Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (meminta).' (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil Kelima: Setiap yang Berhak Punya Haknya

Ibnu Atha'illah kemudian menceritakan kisah Salman al-Farisi dan Abu Darda'. Suatu ketika, Abu Darda' menghabiskan seluruh malam untuk shalat dan seluruh siang untuk puasa. Sehingga ia mengabaikan keluarganya. Salman menegurnya. Lalu keduanya mengadu kepada Nabi SAW.

Nabi SAW bersabda:

'Sesungguhnya bagi Tuhanmu ada hak atasmu, bagi dirimu ada hak atasmu, bagi keluargamu ada hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang berhak akan haknya.' (HR. Bukhari)

"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Bahkan beribadah pun bisa menjadi salah jika engkau mengabaikan hak yang lain. Engkau tidak dipanggil untuk menjadi malaikat. Engkau dipanggil untuk menjadi manusia yang beribadah di tengah kehidupan. "

Ciri Orang yang Mengenal Maqamnya

Zaid bertanya lagi, "Wahai Mursyid, bagaimana kami tahu bahwa kami telah mengenal maqam kami sendiri?"

Ibnu Atha'illah menjawab, "Ciri orang yang mengenal maqamnya adalah hidup dengan tenang. Tidak iri kepada orang lain. Menjalani tugasnya dengan lapang. Ia tidak berkata: 'Mengapa aku harus bekerja sementara si Fulan bisa beribadah sepanjang hari?' Karena ia tahu bahwa ukuran pakaiannya berbeda."

"Jika engkau dipanggil untuk bekerja, bekerjalah dengan sepenuh hati. Karena itu adalah ibadahmu. Jika engkau dipanggil untuk menyepi, menyepilah dengan tenang. Yang penting bukan maqam apa yang engkau jalani. Melainkan apakah engkau menjalaninya dengan ridha dan istiqamah. "

Jangan Iri

Malam semakin larut. Ibnu Atha'illah bangkit dan berkata, "Anak-anakku, janganlah engkau iri kepada maqam orang lain. Jalanmu berbeda, karena Allah menciptakanmu dengan ukuran yang berbeda."

"Maka berdoalah: 'Ya Allah, tunjukkan kepadaku ukuran diriku. Berikan kekuatan kepadaku untuk tetap di situ, tanpa iri kepada orang lain.'"

Para salik mengaminkan. Zaid tersenyum. Ia bukan salah karena bekerja. Ia hanya salah karena iri. Dan malam itu, ia pulang dengan hati yang lebih lapang.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Bersambung ke Hikmah Ketiga: Dinding Takdir yang Tak Terlampaui Tekad

Selasa, 27 Oktober 2026

Humor Paket Nestapa Indonesiaku


Berikut ini adalah 6 Paket Humor “Nestapa Indonesia". Tentu saja ini merupakan fiksi radikal satire. Radikal dalam arti mengkritik habis-habisan. Tentu saja, bukan mengajak rusuh. Tapi kalau mirip realita. Bukan salah humor. Itu salah kita semua yang sudah terbiasa.

Paket 1: KTP Abadi

Warga: "Maaf pak, saya mau bikin KTP."
Petugas: "Okeh, bawa surat pengantar RT."
Warga: "Bawa pak."
Petugas: "Bawa fotokopi KK."
Warga: "Siap, sudah, pak."
Petugas: "Bawa fotokopi KTP."
Warga: "Lah, saya kan mau bikin KTP pak, kok suruh bawa fotokopi KTP?"
Petugas: "Ini sudah menjadi prosedur. Kalau belum punya KTP, boleh bawa KTP sementara."
Warga: "KTP sementara dari mana pak? dari Hongkong?"
Petugas: "Ya dari kelurahan dong, masa dari Hongkong."
Warga: "Tapi Kelurahan juga dulu minta fotokopi KTP."
Petugas: "Ya sudah, itu namanya lingkaran setan. Selamat datang di Indonesia, ya...!"

Punchline: Di sini, untuk jadi warga negara, kamu harus sudah jadi warga negara. Nah, Puyeng kan...!


Paket 2: Sembako Naik, Gaji Diam.

Istri: "Bapake, harga beras naik lagi."
Suami: "Tenang bu'e, gaji bapak juga ikut naik."
Istri: "Naik berapa?"
Suami: "Naik...harapan."
Istri: "Ealah...emang harapan bisa dimakan kah?"
Suami: "Bisa bu. Tapi harus dimasak dulu biar jadi sabar."
Istri: "Terus ini Anak minta susu piye?."
Suami: "Yo, kasih susu... versi iklan bae bu'e."
Istri: "Maksudnya?"
Suami: "Lihat gambar iklan, bayangken rasane, lalu minum air putih. Wis..beres kan..!"

Punchline: Ekonomi kita emang sedang kuat-kuatnya. Kuat menahan lapar.


Paket 3: Macet Berjamaah

Pengendara A: "Bang, emang mulai macetnya dari mana?"
Pengendara B: "Dari jauh."
A: "Maksudnya jauh dari mana?"
B: "Dari zaman Orde Baru."
A: "Kok bisa?"
B: "Ya iya lah wong jalan nggak nambah, mobilnya terus nambah, sementara para pejabat pada sibuk rapat."
A: "Rapat apa sih?"
B: "Ya Rapat soal macet."
A: "Terus hasilnya?"
B: "Ya dilanjut rapat berikutnya lah."

Punchline: Macet di Indonesia bukan masalah transportasi. Itu agenda nasional yang nggak pernah selesai.


Paket 4: Sekolah Gratis

Bapak: "Sekolah kita sudah gratis, kan?"
Ibu: "Iya, gratis."
Bapak: "Lalu ini tagihan apa?"
Ibu: "Uang gedung, uang seragam, uang buku, uang kegiatan, uang kebersihan, uang keamanan."
Bapak: "Itu yang namanya gratis kah?"
Ibu: "Gratis...cuma ya gitu ada biaya sukarelanya."
Bapak: "Sukarela kok rasanya seperti wajib?"
Ibu: "Yah namanya juga sukarela versi Indonesia pak. Rela atau tidak rela, harus tetap bayar."

Punchline: Pendidikan itu investasi. Investasi paling mahal dan investasi paling sabar.


Paket 5: Antre Rumah Sakit

Pasien: "Maaf Pak, saya mau berobat."
Petugas: "Mohon Antre dulu..!"
Pasien: "Antre berapa lama?"
Petugas: "Tergantung."
Pasien: "Tergantung apa?"
Petugas: "Tergantung kartu."
Pasien: "Saya punya BPJS pak."
Petugas: "Oh, itu antrenya panjang."
Pasien: "Kalau bayar sendiri?"
Petugas: "Antrenya pendek."
Pasien: "Kalau mau cepat?"
Petugas: "Bayar sendiri, berobat ke praktek dokter swasta."

Punchline: Di Indonesia, sehat itu pilihan. Tapi pilihan sehat itu mahal.


Paket 6: Banjir Tahunan

Warga: "Pak Lurah, daerah kita banjir lagi nih.."
Lurah: "Itu sebenarnya bukan banjir, tapi siklus."
Warga: "Siklus apa?"
Lurah: "Siklus tahunan: hujan, banjir, foto, janji, lupa."
Warga: "Solusinya?"
Lurah: "Normalisasi."
Warga: "Sungai?"
Lurah: "Bukan. Anggaran."
Warga: "Anggaran dinormalisasi bagaimana?"
Lurah: "Dikurangi, sisanya dibagi."

Punchline: Banjir di Indonesia bukan bencana alam. Itu acara tahunan yang wajib dihadiri.


Bonus Pantun Nestapa:

Pergi ke pasar beli jamur,
Pulang lagi nonton fim avatar.
Negeri ini katanya makmur,
Tapi rakyatnya jago menahan lapar.

Serial Tasawuf-34, Al Hikam-1: "Ketika Amal Menjadi Tirai yang Menutupi Rahmat"


Malam itu, angin dari laut Iskandariyah berhembus pelan. Membawa aroma garam dan debu pasir ke beranda zawiyah. Syekh Ahmad bin Atha'illah as-Sakandari (Ibnu Atha'illah) duduk di atas sajadah lusuh yang telah menemaninya puluhan tahun. Di hadapannya, duduk bersila para salik. Murid-murid yang tengah menempuh jalan menuju Allah. Wajah mereka bersih. Tetapi hati mereka menyimpan pertanyaan yang belum terjawab.

Seorang salik muda bernama Zaid mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, aku ingin bertanya tentang sesuatu yang mengganjal di hatiku."

"Silakan, anakku," ujar Ibnu Atha'illah dengan suara lembut namun berwibawa.

"Aku telah lama beribadah. Aku shalat, aku puasa, aku bersedekah. Tetapi suatu hari, aku berbuat dosa. Sejak saat itu, aku merasa tidak mungkin lagi diampuni. Aku merasa amalku sia-sia. Aku merasa Allah pasti marah dan tidak akan memaafkanku. Apakah perasaanku ini benar?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. Senyumnya bukan senyum yang ringan. Melainkan senyum yang mengandung beban hikmah yang dalam. Ia memandang Zaid dengan mata yang teduh, lalu berkata:

"Ketahuilah, anakku, bahwa di antara tanda-tanda seseorang bersandar pada amal usahanya adalah berkurangnya harapan kepada rahmat Allah ketika ia melakukan kesalahan atau dosa. "

Zaid terdiam. "Wahai Mursyid, apakah maksudnya bahwa putus asaku itu adalah tanda bahwa aku bersandar pada amalku sendiri?"

"Benar, anakku," jawab Ibnu Atha'illah. "Ketika engkau berbuat dosa. Lalu engkau merasa tidak mungkin diampuni. Itu artinya engkau mengira bahwa keselamatanmu ditentukan oleh amalmu sendiri. Engkau lupa bahwa yang menyelamatkanmu bukanlah amalmu. Melainkan rahmat Allah semata. "

Dalil Pertama: Rahmat Allah Meliputi Segala Sesuatu

Ibnu Atha'illah membuka mushaf kecil di sisinya. "Dengarkanlah, anakku, apa yang Allah katakan tentang rahmat-Nya."

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS. Al-A'raf: 156)

"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Allah tidak berkata 'rahmat-Ku meliputi orang-orang yang beramal saleh.' Ia berkata 'rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.' Rahmat Allah lebih luas dari amalmu. Lebih luas dari dosamu. Lebih luas dari seluruh perjalanan hidupmu."

Seorang salik bernama Fatimah mengangkat tangan. "Wahai Mursyid, apakah rahmat Allah benar-benar lebih luas dari murka-Nya?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. "Dengarkanlah sabda Nabi Muhammad SAW:

Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menuliskan di dalam kitab-Nya. Yang kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arsy:

"Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Rahmat Allah bukan hanya lebih luas dari murka-Nya. Rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya. Itulah janji Allah yang tertulis di atas Arsy. Sebelum engkau dilahirkan. Sebelum engkau berbuat dosa. Sebelum engkau menyesal."

Dalil Kedua: Jangan Berputus Asa

Ibnu Atha'illah kemudian membacakan ayat yang paling membuat hati para salik bergetar:

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'" (QS. Az-Zumar: 53)

"Lihatlah," kata Ibnu Atha'illah dengan mata berkaca-kaca. "Allah tidak berkata 'wahai orang-orang berdosa.' Ia berkata 'wahai hamba-hamba-Ku.'

Bahkan dalam keadaan melampaui batas. Engkau masih disebut hamba-Nya. Dan Allah tidak berkata 'jangan berputus asa dari amalmu.' Ia berkata 'jangan berputus asa dari rahmat-Ku.'"

Zaid menunduk. Air matanya jatuh ke sajadah. "Wahai Mursyid, aku telah lama merasa bahwa dosaku terlalu besar untuk diampuni."

Ibnu Atha'illah meletakkan tangannya di pundak Zaid. "Ketahuilah, anakku, bahwa tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir. " (QS. Yusuf: 87) "Putus asa bukanlah tanda kerendahan hati. Putus asa adalah tanda bahwa engkau belum mengenal Allah."

Dalil Ketiga: Amal Tidak Memasukkan Seseorang ke Surga

Seorang salik bernama Umar bertanya, "Wahai Mursyid, jika bukan amal yang menyelamatkan kami, lalu untuk apa kami beramal?"

Ibnu Atha'illah tersenyum. "Pertanyaan yang sangat baik, Umar. Dengarkanlah sabda Nabi Muhammad SAW:

'Tidak akan masuk surga seorang di antara kalian karena sebab amalnya.' Ditanya para sahabat, 'Termasuk engkau, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya.' (HR. Bukhari dan Muslim)

"Perhatikanlah," ujar Ibnu Atha'illah. "Bahkan Nabi Muhammad SAW. Manusia yang paling mulia, yang amalnya paling banyak, yang dosanya telah diampuni. Tidak akan masuk surga karena amalnya. Beliau masuk surga karena rahmat Allah."

"Lalu untuk apa kita beramal?" tanya Umar lagi.

"Amal bukanlah tujuan, anakku. Amal adalah persembahan, bukan sandaran. " "Kita beramal karena Allah memerintahkan kita untuk beramal. Kita beramal karena kita mencintai Allah. Tetapi kita tidak bersandar pada amal kita. Kita bersandar pada rahmat Allah."

Kisah Nabi dan Seorang Ibu yang Mencintai Anaknya

Ibnu Atha'illah kemudian bercerita. "Suatu hari, Nabi Muhammad SAW melihat seorang perempuan yang sedang menyusui anaknya. Beliau bertanya kepada para sahabat: 'Apakah engkau pikir perempuan ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam api?' Para sahabat menjawab: 'Tidak, Wahai Rasulullah.'

Nabi SAW bersabda: 'Sungguh, Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada perempuan ini kepada anaknya.' (HR. Bukhari dan Muslim)"

"Jika seorang ibu, yang hatinya dipenuhi cinta, tidak tega menyakiti anaknya, bagaimana mungkin Allah, yang menciptakan cinta itu sendiri, tega menyiksa hamba-Nya yang bertaubat? Rahmat Allah lebih besar dari cinta seorang ibu. Dan engkau, Zaid, adalah anak yang dicintai Allah."

Kembali ke Rahmat

Malam semakin larut. Angin dari laut masih berhembus, membawa aroma garam yang segar. Ibnu Atha'illah bangkit dari duduknya. Membetulkan selendangnya. Dan memandang para salik dengan mata yang penuh kasih.

"Anak-anakku," ujarnya, "janganlah engkau bersandar pada amalmu sendiri. Janganlah engkau merasa aman karena amalmu. Dan janganlah engkau putus asa karena dosamu. Yang menyelamatkanmu bukanlah amalmu. Melainkan rahmat Allah. "

"Maka berdoalah seperti ini: 'Ya Allah, janganlah Engkau serahkan aku kepada amalku sendiri. Karuniakanlah kepadaku rahmat-Mu, karena rahmat-Mulah yang menyelamatkanku.'"

Para salik mengaminkan dengan hati yang bergetar. Zaid tersenyum. Ia kini mengerti. Ia bukan salah karena berbuat dosa. Ia hanya salah karena putus asa.

Dan malam itu, ia pulang dengan hati yang lebih lapang. Karena ia telah menemukan bahwa pintu rahmat Allah tidak pernah tertutup.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Nantikan Hikmah Kedua Al-Hikam: Pakaian yang Terlalu Sempit untuk Tubuhmu"

Senin, 26 Oktober 2026

Etika Dakwah Bukan Hiasan Retorika: "Apalagi Rendahkan Harkat Perempuan"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-67)

Leaderline: Di sebuah majelis yang menyejukkan. Seorang penceramah memulainya dengan senyum. Ia menyebut perempuan sebagai “sumber fitnah. Tidak wajib pintar. Tugas utamanya melayani suami. Jemaah meresponnya dengan tertawa. Ada yang merekam. Mengunggah. Lalu cuplikan itu menjadi viral. Di kolom komentar. Perempuan-perempuan muda saling menguatkan. Ada yang merasa terluka dan terhina. Ada pula yang mulai percaya bahwa dirinya memang kurang. Di titik inilah etika dakwah diuji. Bukan di atas panggung. Tetapi di ruang hati yang paling rapuh.

Rahmat Tidak Dibangun Diatas Penghinaan

Dakwah adalah menyampaikan ajaran dengan cara yang memuliakan manusia. Al-Qur’an menyebut misi Nabi sebagai rahmat bagi semesta. Memerintahkan perkataan yang benar. Ma’ruf. Serta mulia. 

Jadi tidak mungkin rahmat itu dibangun di atas penghinaan. Ketika ceramah tentang perempuan bergeser menjadi lelucon tentang tubuh, kodrat, dan kepatuhan. Yang tersisa bukan tuntunan. Melainkan penundukan. Perempuan tidak diajak berpikir. Ia dijadikan objek contoh, peringatan, dan ketakutan.

Kritik pertama mesti diarahkan pada bahasa. Banyak materi dakwah populer memakai dikotomi kasar: Perempuan saleh versus perempuan sumber dosa. Aurat dibahas dengan analogi yang menggambarkan perempuan seperti barang atau makanan. 

Hadis tentang kurang akal dan agama dikutip tanpa konteks. Seolah menjadi vonis abadi. Padahal teks suci tidak hadir di ruang hampa. Ia dibaca dalam sejarah, konteks, dan tujuan syariat yang justru melindungi kehormatan. 

Etika dakwah menuntut pendakwah menjelaskan, bukan mengejek. Membimbing, bukan mempermalukan.

Kritik kedua menyangkut relasi kuasa. Mimbar memberi otoritas. Ketika seorang penceramah terkenal menyebut perempuan “wajib nurut” atau “tidak layak menjadi pemimpin”, ucapannya bukan sekadar pendapat. 

Ia bergerak sebagai legitimasi sosial. Bagi suami yang ingin menindas. Bagi lingkungan yang ingin mengontrol. Bagi perempuan yang kehilangan ruang bersuara. 

Dakwah yang etis harus sadar bahwa kata-katanya bisa menjadi alat kekerasan simbolik. Karena itu, tidak cukup berniat baik. Perlu kehati-hatian, pengetahuan, dan tanggung jawab.

Belajar dari Kasus Habib Alwi Assegaf

Kasus yang menimpa Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf menjadi cermin getir. Dalam potongan ceramah yang viral. Ia tidak hanya membicarakan tarif ceramah Rp75 juta. Tetapi juga meminta agar santriwati dihadirkan dengan dalih mencari calon istri keempat. 

Ia bahkan menyebut kehadiran jemaah perempuan berusia di atas 60 tahun “mengganggu pandangan” dan “tidak ada pahalanya” berceramah di depan mereka. Yang lebih memilukan. Jemaah tertawa. 

Tawa itu direkam. Disebarkan, dam. Menjadi semacam pengesahan kolektif bahwa merendahkan perempuan adalah hal yang lucu. Bukan pelanggaran.

Ceramah Perusak Islam

Reaksi pun datang. Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menyerukan agar umat tidak lagi mengundang dan mengikuti majelis penceramah tersebut. 

Ia menilai ceramah semacam itu “bikin rusak agama dan manusia” dan bahkan justru “merusak Islam”. 

Kementerian Agama turut mengingatkan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan. Tetapi juga memberikan keteladanan melalui tutur kata dan perilaku.

Namun, ada beberapa pelajaran yang harus diambil lebih jauh. Pertama, gelar habib, ustaz, kiai, atau nama besar tidak imun terhadap kritik etika. Otoritas keagamaan bukan lisensi untuk memperlakukan perempuan sebagai objek pilihan pribadi. 

Kedua, tawa jemaah menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya satu penceramah. Melainkan budaya yang telah menormalisasi pelecehan sebagai bahan ceramah. 

Ketiga, institusi agama tidak boleh berhenti pada imbauan. Jika ada dugaan pelanggaran etik, perlu mekanisme klarifikasi, pemeriksaan, dan sanksi sosial yang jelas. Bukan pembiaran karena takut dianggap menyerang ulama. 

Keempat, publik perlu berhenti meromantisasi keturunan dan popularitas. Dakwah dinilai dari isi dan adab. Bukan dari garis nasab atau jumlah jemaah. 

Kelima, media sosial harus disadari sebagai ruang yang mempercepat luka. Potongan ceramah yang merendahkan perempuan menjadi tontonan. Sementara koreksi etik sering kalah cepat.

Jangan Jadikan Perempuan Sebagai ALat

Kasus ini bukan untuk menghakimi pribadi tanpa ruang klarifikasi. Ia adalah peringatan bahwa mimbar bisa berubah menjadi panggung penundukan ketika kekuasaan agama dipakai untuk memuaskan selera. 

Dakwah yang benar tidak menjadikan perempuan sebagai alat. Baik untuk mencari istri. Menarik perhatian. Maupun mengukur pahala ceramah.

Kritik ketiga adalah kebiasaan menjadikan perempuan bahan cerita. Kisah tentang istri durhaka. Perempuan berebut suami. Atau wanita cantik penyebab krisis moral kerap dipakai untuk menarik perhatian. Ini bukan edukasi, melainkan eksploitasi narasi. 

Harkat perempuan direduksi menjadi konflik rumah tangga yang menghibur. Lebih buruk lagi. Di media sosial, potongan ceramah dipotong agar paling mengejutkan. Algoritma memberi hadiah pada sensasi, bukan pada etika. Dakwah lalu berubah menjadi industri perhatian yang mengorbankan martabat.

Etika dakwah terhadap perempuan seharusnya berangkat dari prinsip karamah insaniyah. Perempuan adalah subjek utuh, bukan objek moral. Ia punya akal, pilihan, pengalaman, dan suara. 

Dakwah yang memuliakan perempuan tidak akan berbicara tentang tubuhnya di depan publik tanpa kebutuhan dan izin. 

Tidak akan membuka aib rumah tangga. Tidak akan memaksa perempuan memikul seluruh beban kesalehan keluarga. Ia akan mengajak laki-laki dan perempuan sama-sama bertanggung jawab atas akhlak, ruang publik, dan keadilan.

Regulasi dakwah sering berhenti pada administrasi, bukan etika isi. Sertifikasi pendakwah, pelatihan retorika, dan aturan mimbar belum tentu menyentuh cara pandang terhadap perempuan. 

Maka masyarakat perlu menjadi penyaring kritis. Menolak ceramah yang merendahkan. Menegur dengan santun. Dan mendukung penceramah yang menghormati. 

Media perlu berhenti menjadikan konflik gender sebagai komoditas. Pesantren dan kampus agama perlu membuka ruang bagi tafsir yang adil dan perspektif perempuan.

Harus Berani Mengaudit Diri

Yang paling mendesak. Para pendakwah harus berani mengaudit diri. Apakah ceramah saya membuat perempuan merasa lebih dekat pada Tuhan, atau justru lebih takut pada laki-laki? Apakah saya sedang menjelaskan agama, atau menjual stereotip? Apakah kata dakwah saya menambah luka, atau merawat harapan? 

Etika bukan lampiran opsional. Ia adalah bagian dari pesan itu sendiri. Dakwah yang menghina tidak pernah menjadi dakwah yang benar. Sebab kebenaran tidak butuh korban harga diri.

Jika mimbar terus dibiarkan menjadi panggung penundukan. Jangan heran bila sebagian perempuan menjauh bukan karena menolak Tuhan. Tetapi karena lelah disakiti atas nama-Nya. 

Etika dakwah harus menghunjam sampai ke akar. Bahwa memuliakan perempuan bukan kemewahan liberal, melainkan konsekuensi iman. 

Mimbar yang benar tidak mengecilkan perempuan. Ia membebaskan manusia dari ketidakadilan. Termasuk dari ceramah yang kehilangan adab.

Nah, kini terpulang pada kaum perempuan sendiri? Berani gak "kepret" penceramah kurang adab? Atau lebih suka pakai senjata kerlingan yang mematikan...!!!

Serial Tasawuf-33, Tajalliy-4: "Tajalli al-Baqā’ — Kekekalan Setelah Kefanaan dan Kembalinya Hamba ke Dunia"


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Pagi itu fajar datang seperti tamu yang telah lama dinanti. Cahayanya menyusup pelan-pelan ke dalam ribat. Menyentuh dinding-dinding kayu yang telah bertahun-tahun menyerap zikir para salik. Burung-burung bangun lebih awal dari biasanya. Suara mereka seperti tasbih yang tersebar di udara. Salik duduk di serambi. Tetapi ia tidak lagi duduk seperti orang yang datang untuk belajar. Ia duduk seperti orang yang baru kembali dari perjalanan jauh. Tubuhnya masih di ribat. Tetapi hatinya masih meraba-raba sesuatu yang belum ia pahami.


Syekh Abdul Qadir al-Jailani datang membawa dua potong roti dan secangkir susu. Beliau meletakkannya di antara mereka. Lalu duduk tanpa berkata-kata. Beberapa saat mereka hanya mendengar burung-burung dan angin pagi.

“Engkau belum pulang, anakku,”Akhirnya Mursyid membuka suara. “Tubuhmu ada di sini. Tetapi hatimu masih di tepi lautan itu. Engkau telah fana. Engkau telah melihat bahwa engkau tidak ada. Tetapi engkau belum baqa. Engkau belum kembali.”

Salik menunduk. “Guru, aku tidak tahu bagaimana harus kembali. Ketika aku melihat bahwa diriku tidak ada. Aku merasa tidak ada gunanya aku berbuat apa-apa. Aku merasa semua amal itu sia-sia. Sebab yang beramal bukan aku. Aku merasa seperti bayangan yang tidak perlu bergerak. Sebab yang bergerak adalah yang menimbulkan bayangan.”

Mursyid tersenyum, tetapi senyum itu bukan senyum ringan. “Itu bukan baqa, anakku. Itu istidraj yang halus. Engkau telah melihat kefanaan. Lalu engkau berhenti di situ. Engkau seperti orang yang telah menyeberangi sungai. Lalu duduk di tepi seberang tanpa mau masuk ke negeri yang ia tuju. 

Ketahuilah, fanā’ itu bukan tujuan. Fanā’ itu adalah pintu. Adapun tujuannya adalah baqā’ . Engkau kembali kepada wujudmu. Tetapi engkau kembali dengan kesadaran baru. Engkau ada karena Allah mengadakanmu. Engkau hidup karena Allah menghidupkanmu. Engkau berbuat karena Allah menggerakkanmu.”

“Apakah baqa’ berarti aku kembali seperti dahulu, Guru?”

“Tidak seperti dahulu, anakku. Orang yang kembali dari fanā’ itu tidak sama dengan orang yang belum pernah fana. Engkau seperti orang yang telah masuk ke dalam lautan. Lalu keluar dengan tubuh yang masih basah. Engkau tidak sama dengan orang yang hanya mendengar tentang lautan. Engkau telah merasakan kedalamannya. Dan sekarang engkau kembali ke pantai dengan membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh orang lain: ma‘rifah, Pengenalan.”

Salik mengangkat wajahnya. “Lalu apa yang harus aku lakukan dengan pengenalan itu, Guru?”

“Engkau harus kembali kepada manusia, anakku. Engkau harus kembali bekerja, kembali beribadah, kembali berinteraksi, kembali menanggung amanah. Tetapi engkau kembali bukan sebagai orang yang mencari pujian, bukan sebagai orang yang takut celaan, bukan sebagai orang yang mengejar dunia. Engkau kembali sebagai alat di tangan Allah. 

Engkau kembali sebagai pena yang siap menulis apa yang diperintahkan. Engkau kembali sebagai bayangan yang siap mengikuti cahaya. Engkau kembali sebagai hamba, bukan sebagai tuan.”

“Tetapi Guru,” kata salik, “bukankah dunia ini penuh tipu daya? Bukankah lebih baik aku tinggal di ribat, menjauh dari manusia, dan beribadah sampai mati?”

Mursyid menggeleng. “Itu bukan baqa, anakku. Itu pelarian. Ketahuilah, bahwa orang yang telah fana lalu kembali ke dunia itu lebih mulia daripada orang yang tinggal di ribat tetapi belum pernah fana. 

Sebab orang yang kembali itu telah melihat bahwa dunia ini bukan tujuan. Tetapi ia juga melihat bahwa dunia ini adalah ladang. Ia tidak terikat pada dunia. Tetapi ia juga tidak meninggalkannya. Ia seperti orang yang berjalan di atas air. Ia tidak tenggelam. Tetapi ia juga tidak terbang. Ia berjalan dengan izin Allah.”

“Bagaimana aku bisa berjalan di atas air tanpa tenggelam, Guru?”

“Ada tiga penjaga, anakku. Pertama, syariat. Jangan engkau tinggalkan perintah dan larangan. Meskipun engkau telah melihat rahasia-rahasia. Orang yang telah sampai pada baqa justru semakin ketat menjaga syariat. Sebab ia tahu bahwa syariat itu adalah jalan yang Allah tetapkan. Bukan jalan yang ia ciptakan. 

Kedua, khidmah: Pelayanan. Jangan engkau sibuk dengan penglihatanmu. Tetapi sibuklah dengan melayani manusia. Sebab orang yang telah melihat Allah tetapi tidak melayani manusia itu belum sempurna. 

Ketiga, tawadhu‘: Kerendahan hati. Jangan engkau merasa bahwa engkau telah sampai. Tetapi merasa bahwa engkau masih dalam perjalanan. Orang yang merasa telah sampai itu berhenti; Orang yang merasa masih dalam perjalanan itu terus berjalan.”

Salik merenung. “Guru, aku merasa bahwa aku tidak lagi memiliki keinginan. Aku tidak ingin makan. Aku tidak ingin tidur. Aku tidak ingin berbicara. Apakah itu tanda baqa’?”

“Hati-hati, anakku. Itu bisa menjadi tanda baqa’. Bisa juga menjadi tanda kelemahan. Orang yang telah baqa tidak kehilangan keinginan. Tetapi keinginannya telah berubah. 

Ia tidak lagi menginginkan dunia untuk dirinya. Tetapi ia menginginkan dunia untuk Allah. Ia makan bukan karena tubuhnya membutuhkan. Tetapi ia makan dengan niat agar kuat beribadah. Ia tidur bukan karena tubuhnya membutuhkan. Tetapi ia tidur dengan niat agar bangun untuk beribadah. 

Ia berbicara karena manusia membutuhkan. Tetapi ia berbicara dengan niat agar manusia mengingat Allah. Keinginannya tidak hilang. Keinginannya telah disucikan.”

Mursyid mengambil sepotong roti dan menyerahkannya pada salik. “Makanlah, anakku. Jangan engkau meninggalkan makan karena engkau merasa telah fana. Tubuhmu adalah amanah. Bila engkau tidak menjaganya. Engkau tidak bisa beribadah. Orang yang telah baqa itu menjaga tubuhnya. Tetapi hatinya tidak terikat pada tubuhnya. Ia menjaga dunia. Tetapi hatinya tidak terikat pada dunia.”

Salik memakan roti itu perlahan. Ia merasakan sesuatu yang baru: ia makan, tetapi ia tidak merasa bahwa ia yang makan. Ia merasa bahwa Allah yang memberi makan. Dan ia hanya alat yang menerima. Ia makan dengan syukur. Bukan dengan tamak.

“Guru,” katanya, “bagaimana aku bisa mengetahui bahwa aku telah benar-benar baqa’?”

“Tandanya ada empat. Pertama, engkau kembali kepada manusia dengan hati yang penuh kasih. Bukan dengan hati yang penuh penghinaan. Engkau melihat manusia sebagai hamba-hamba Allah. Bukan sebagai orang-orang yang lebih rendah dari engkau. 

Kedua, engkau kembali bekerja dengan tekun, bukan dengan malas. Engkau tahu bahwa kerja itu adalah ibadah, dan engkau tahu bahwa Allah mencintai hamba yang bekerja dengan sungguh-sungguh. 

Ketiga, engkau kembali beribadah dengan penuh kesadaran. Bukan dengan penuh kebanggaan. Engkau tahu bahwa ibadahmu adalah karunia. Engkau tahu bahwa engkau tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan. 

Keempat, engkau kembali hidup dengan sederhana, bukan dengan mewah. Engkau tahu bahwa dunia ini adalah titipan. Engkau tahu bahwa titipan itu akan diambil kembali.”

Salik meneteskan air mata. “Ya Allah, aku ingin kembali, tetapi aku takut kembali.”

“Rasa takut itu adalah penjagamu, anakku. Orang yang takut kembali itu lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman. Teruslah berjalan dengan adab. 

Engkau telah melewati empat pintu tajalliy: tajalli dalam perbuatan, tajalli dalam nama dan sifat, tajalli dalam dzat, dan tajalli dalam baqa’. 

Tetapi ketahuilah, bahwa pintu-pintu ini bukanlah tingkat-tingkat yang bisa engkau hitung dengan angka. Ia adalah lautan yang tidak bertepi. 

Engkau bisa menyelam lebih dalam. Tetapi engkau tidak akan pernah mencapai dasarnya. Maka jangan engkau merasa bahwa engkau telah selesai. Engkau belum selesai. Engkau baru saja memulai.”

Mursyid bangkit, lalu berjalan ke pintu ribat. Beliau membukanya, dan cahaya pagi masuk membanjiri ruangan. “Lihatlah cahaya ini,” katanya. “Ia masuk ke dalam ribat, tetapi ia tidak berhenti di dalam. Ia menerangi, lalu ia keluar. 

Begitu pula engkau. Engkau masuk ke dalam ribat untuk belajar. Lalu engkau keluar untuk mengajar. Engkau masuk untuk menerima. Lalu engkau keluar untuk memberi. Engkau masuk untuk fana. Lalu engkau keluar untuk baqa.”

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke pintu. Ia berdiri di ambang pintu. Memandang dunia yang terbentang di luar. Ia melihat jalan, sawah, pasar, manusia, dan langit yang luas. 

Ia tidak lagi melihat dunia sebagai tempat yang menakutkan. Ia melihatnya sebagai ladang yang harus digarap. Ia tidak lagi melihat manusia sebagai ancaman. Ia melihat mereka sebagai saudara yang harus dilayani.

“Guru,” katanya, “aku akan pergi. Tetapi aku tidak tahu apakah aku akan kembali.”

Mursyid tersenyum. “Engkau tidak perlu kembali ke sini, anakku. Engkau hanya perlu kembali kepada Allah. Dan Allah itu ada di mana-mana. Engkau bisa menemukan-Nya di ribat, di pasar, di sawah, di rumah, di jalan. Maka pergilah, dan jadilah hamba yang baqa. 

Jadilah pena yang menulis kebaikan. Jadilah bayangan yang mengikuti cahaya. Jadilah air yang meresap ke dalam tanah. Lalu menumbuhkan bunga-bunga kebaikan.”

Salik melangkah keluar. Ia tidak lagi merasa sebagai salik yang mencari. Ia merasa sebagai hamba yang telah menemukan. Ia tidak lagi merasa sebagai orang yang berjalan menuju Allah. Ia merasa sebagai orang yang berjalan bersama Allah. 

Dan dalam langkahnya yang pertama di luar ribat, ia berbisik, “Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, Engkaulah Yang Akhir, Engkaulah Yang Zahir, Engkaulah Yang Batin. Aku telah fana, dan Engkaulah Yang Baqa. Aku telah kembali, dan Engkaulah Yang Menyertai. Jadikanlah langkahku sebagai langkah yang Engkau ridhai. Dan jadikanlah hidupku sebagai hidup yang Engkau berkahi.”

Mursyid memandang dari pintu ribat, lalu berkata lirih, “Engkau telah sampai pada pintu keempat, anakku. 

Tetapi ketahuilah, bahwa pintu ini bukanlah akhir. Masih ada perjalanan yang lebih panjang. Engkau telah baqa, kini engkau harus terus berjalan. Engkau telah kembali, kini engkau harus terus kembali. Sebab perjalanan menuju Allah itu tidak pernah berakhir. Dan setiap akhir adalah awal yang baru.”

Dan salik pun berjalan menyusuri jalan yang berdebu. Menuju dunia yang menantinya. Ia tidak lagi membawa beban. Tetapi ia juga tidak lagi membawa kesombongan. 

Ia membawa sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Sebuah cahaya yang menyala di dalam dadanya. Yang tidak berasal dari dirinya. Tetapi yang telah menjadi bagian dari dirinya.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Serial Tasawuf Takhalliy, Tahalliy dan Tajalliy telah Selesai
Insyaallah akan dilanjutkan Ngaji Al-Hikam dari Syekh Ahmad bin Atho'illah as-Sakandari.

Minggu, 25 Oktober 2026

Kerugian Negara Bukan Korupsi”: Jalan Pintas Menuju Dekriminalisasi"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-67)

Di penghujung Oktober 2026, sebuah usulan dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengguncang fondasi pemberantasan korupsi Indonesia. Intinya: Kerugian negara tidak lagi dimasukkan sebagai unsur tindak pidana korupsi. Korupsi cukup dimaknai sebagai penyuapan semata. Mengikuti tafsir sepihak atas UNCAC.

Disetujui Presiden

Presiden Prabowo Subianto disebut menyetujui kajian tersebut. Dalihnya terdengar teknokratis: keputusan bisnis selalu mengandung risiko, dan unsur kerugian negara membuat badan usaha seperti Danantara takut berinvestasi.

Namun di balik retorika itu, usulan ini adalah undangan terbuka bagi impunitas bagi koruptor kerah putih.

Argumen UNCAC yang dikemukakan Luhut adalah distorsi. Benar bahwa Konvensi PBB tersebut menekankan penyuapan, penggelapan aset publik, dan perdagangan pengaruh.

Tetapi Indonesia tidak hidup dalam ruang hampa hukum internasional. UNCAC justru mewajibkan negara peserta untuk mengkriminalisasi “embezzlement, misappropriation or other diversion of property by a public official”—yang dalam hukum Indonesia setara dengan merugikan keuangan negara.

Menghapus unsur kerugian negara bukanlah “menyesuaikan diri dengan standar internasional”, melainkan memangkas salah satu pilar terpenting dalam mendeteksi dan membuktikan korupsi yang berdampak fiskal.

Indonesia adalah satu-satunya negara yang dinilai masih memakai definisi kerugian negara; klaim ini justru menunjukkan betapa unik dan rentannya praktik korupsi di negeri ini, bukan alasan untuk menanggalkannya.

Kritik paling tajam datang dari legislator dan masyarakat sipil. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menilai usulan itu “terlalu menyederhanakan persoalan korupsi” dan bertentangan dengan kehendak rakyat.

Politikus PKS Mardani Ali Sera menyebutnya “berbahaya” karena korupsi adalah kejahatan luar biasa yang penanganannya harus diperkuat, bukan dilemahkan.

Anggota Komisi III DPR Rudianto Lallo mengingatkan bahwa menghapus kerugian negara dari kategori tipikor akan “merusak sistem hukum” dan memundurkan upaya pemberantasan korupsi.

Kritik-kritik ini bukan sentimen politik semata; mereka merangkum kekhawatiran bahwa penghapusan unsur kerugian negara akan membuat korupsi pengadaan barang dan jasa, korupsi anggaran, dan penyelewengan dana publik sulit dijerat selama tidak ada suap yang terbukti.

Yang ironis, usulan ini seolah mengabaikan bahwa hukum Indonesia sudah memiliki saringan yang memadai untuk membedakan kerugian bisnis yang wajar dari korupsi.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016 telah mengubah tipikor dari delik formil menjadi delik materiil: kerugian keuangan negara harus dibuktikan secara nyata (actual loss), bukan sekadar potensi.

Lebih lanjut, Putusan MK Nomor 28/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa kerugian negara sebagai tipikor harus dibuktikan dengan niat jahat (mens rea).

Bagi ASN yang melakukan kesalahan administratif, Putusan MK Nomor 66/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa kerugian keuangan negara akibat kesalahan administratif tidak selalu berarti korupsi; penyelesaiannya dapat melalui pengembalian kerugian negara.

Di ranah BUMN, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN telah menegaskan bahwa kerugian BUMN bukan kerugian negara, dan prinsip business judgment rule melindungi direksi yang beritikad baik.

Dengan semua instrumen ini, tidak ada alasan konstitusional maupun praktis untuk menghapus unsur kerugian negara dari definisi korupsi.

Yang sesungguhnya dipertaruhkan bukanlah kebebasan berinvestasi, melainkan akuntabilitas kekuasaan.

Korupsi di Indonesia tidak pernah berhenti pada suap; ia telah menjelma menjadi penyelewengan anggaran, mark-up proyek, dan pengurasan aset negara yang terstruktur, sistematis, dan masif.

Jika kerugian negara dikeluarkan dari rumpun tipikor, maka negara kehilangan alat ukur paling konkret untuk membuktikan kerugian publik.

Para pelaku cukup berlindung di balik narasi “risiko bisnis” atau “diskresi”, sementara uang rakyat menguap tanpa pertanggungjawaban pidana.

Usulan ini bukan deregulasi yang mencerdaskan, melainkan dekriminalisasi yang mencelakakan.

Ia mengubah korupsi dari kejahatan terhadap keuangan publik menjadi sekadar pelanggaran etika penyuapan—sebuah kemunduran peradaban hukum.

Analisis kritis saya: usulan ini bukan koreksi doktrinal, melainkan operasi politik hukum yang mengubah cara negara memandang uang rakyat.

Dengan mengeluarkan kerugian negara dari tipikor, negara tidak sekadar menderegulasi risiko bisnis; ia memindahkan beban pembuktian dan risiko fiskal dari pelaku ke publik.

Audit BPK, BPKP, dan investigasi kejaksaan akan kehilangan pintu masuk paling objektif; penyidik dipaksa membuktikan suap atau niat jahat internal yang jauh lebih sulit, padahal dampak anggaran sudah nyata.

Ini menciptakan moral hazard: pejabat dan direksi bisa berlindung di balik dalih diskresi, business judgment, atau “risiko investasi” sementara proyek mark-up, pengadaan fiktif, dan penyelewengan dana tetap berjalan.

Secara kelembagaan, usulan ini melemahkan arsitektur pencegahan: korupsi pengadaan dan anggaran jarang berbentuk suap telanjang; ia bersembunyi dalam selisih harga, laporan fiktif, dan kerugian aset.

Tanpa unsur kerugian negara, KPK, kejaksaan, dan audit internal kehilangan instrumen deteksi dini.

Yang lebih mengganggu, inisiatif ini muncul dari lingkaran kekuasaan ekonomi yang justru mengelola dana besar.

Dalam ekonomi politik, ini berpotensi menjadi regulatory capture: aturan dirancang bukan untuk efisiensi investasi, tetapi untuk melindungi keputusan elite dari pertanggungjawaban pidana.

Karena itu, penolakan terhadap usulan ini bukan anti-investasi. Justru sebaliknya: investasi sehat membutuhkan kepastian hukum dan integritas anggaran.

Negara boleh memiliki business judgment rule, tetapi tidak boleh menghapus akuntabilitas pidana atas kerugian publik yang nyata.

Jika kerugian negara bukan korupsi, maka yang tersisa bukan deregulasi, melainkan dekriminalisasi terencana. Jangan heran jika demokrasi telah kehilangan salah satu alat utamanya untuk menjaga uang rakyat.

Uang rakyat kok diutak-atik dengan dibuat kesan negara merugi...Alamaakk..!!

Serial Tasawuf-32,Tajalliy-3: "Tajalli al-Dzāt, Penyingkapan Rahasia Dzat dan Kefanaan dalam Keesaan"


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Malam itu tidak ada bintang. Langit tertutup awan tebal. Angin bertiup pelan seperti napas orang yang sedang berzikir dalam tidurnya. Salik datang ke ribat dengan langkah yang tidak lagi ringan. Ia telah melewati pintu pertama dan pintu kedua tajalliy. Ia telah menyaksikan keesaan Allah dalam perbuatan. Ia telah menyaksikan jejak nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada cermin makhluk. Namun kini ada sesuatu yang lebih dalam memanggilnya. Sesuatu yang tidak bisa ia namai. Tidak bisa ia bayangkan. Dan tidak bisa ia tolak. Ia merasa seperti orang yang berdiri di tepi lautan tanpa dasar. Ia tahu bahwa satu langkah lagi akan menenggelamkannya.


Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di dalam mihrab. Tidak memegang tasbih. Tidak memegang kitab. Kedua tangannya terbuka di atas lutut. Matanya terpejam. Ketika salik masuk, Beliau membuka matanya perlahan. Salik merasa bahwa tatapan itu tidak lagi seperti tatapan manusia biasa. Bukan karena berubah. Tetapi karena salik sendiri telah berubah.

“Engkau datang, anakku,” kata Mursyid dengan suara yang sangat lembut. Hampir seperti bisikan. “Engkau datang membawa pertanyaan yang tidak boleh engkau ucapkan dengan lisan. Duduklah, dan dengarkanlah dengan hati.”

Salik duduk bersimpuh. Tubuhnya gemetar. Tetapi bukan karena takut kepada gurunya. Ia gemetar karena sesuatu di dalam dirinya seperti hendak pecah.

“Guru,” katanya akhirnya, “aku telah melihat perbuatan Allah di balik segala perbuatan. Aku telah melihat nama-nama-Nya di balik segala yang ada. Tetapi kini aku merasa ada sesuatu yang lebih dalam. Aku merasa seperti diriku ini bukan diriku. Aku merasa seperti aku tidak ada. Apakah ini yang engkau sebut tajallī al-dzāt?”

Mursyid tidak langsung menjawab. Beliau memandang salik lama, lalu berkata, “Engkau telah sampai pada pintu yang paling berbahaya, anakku. Pintu ini bukan pintu yang bisa dibuka dengan usaha manusia. Ia adalah karunia yang Allah berikan kepada hamba yang Dia kehendaki. 

Ketahuilah, tajallī al-dzāt itu bukanlah engkau melihat dzat Allah. Tidak ada makhluk yang bisa melihat dzat Allah di dunia ini. Yang dimaksud dengan tajalli al-dzāt adalah Allah menyingkapkan kepada hamba-Nya bahwa dirinya tidak memiliki wujud mandiri. Engkau melihat bahwa engkau tidak ada. Dan yang ada hanyalah Allah. Inilah yang disebut fanā’, Kefanaan.”

“Apakah fanā’ berarti aku lenyap, Guru?”

“Lenyap bukan dalam arti tubuhmu hilang. Bukan dalam arti engkau mati. Bukan dalam arti engkau menjadi Allah. Lenyap dalam arti engkau tidak lagi melihat dirimu sebagai wujud yang berdiri sendiri. 

Engkau melihat dirimu seperti bayangan. Bayangan itu ada, tetapi ia tidak memiliki wujud sendiri. Ia ada karena ada yang menimbulkannya. Bila engkau melihat bayangan, engkau tidak mengatakan bahwa bayangan itu adalah orang. Engkau mengatakan bahwa bayangan itu adalah pantulan dari orang. 

Begitu pula engkau. Engkau adalah bayangan dari wujud Allah. Engkau ada karena Allah mengadakanmu. Engkau tidak memiliki wujud mandiri.”

Salik menunduk. Air matanya jatuh ke sajadah. “Guru, bila aku tidak ada. Lalu siapa yang selama ini beribadah? Siapa yang bersedekah? Siapa yang membaca Al-Qur’an?”

Engkau yang beribadah, anakku, tetapi engkau beribadah dengan wujud yang Allah berikan padamu. Engkau tidak beribadah dengan wujudmu sendiri, sebab engkau tidak memiliki wujud sendiri. 

Engkau seperti pena yang menulis. Pena itu ada, tetapi ia tidak menulis dengan kekuatannya sendiri. Ia menulis karena ada tangan yang menggerakkannya. Bila engkau melihat pena, engkau tidak mengatakan bahwa pena itu adalah penulis. Engkau mengatakan bahwa pena itu adalah alat dari penulis. 

Begitu pula engkau. Engkau adalah alat dari Allah. Engkau beribadah, tetapi ibadahmu adalah karunia dari-Nya. Engkau bersedekah, tetapi sedekahmu adalah titipan dari-Nya. Engkau membaca Al-Qur’an, tetapi bacaanmu adalah pemberian dari-Nya.”

“Apakah ini berarti aku tidak memiliki peran sama sekali, Guru?”

“Engkau memiliki peran, anakku, tetapi peranmu bukanlah peran pencipta. Engkau adalah hamba yang diberi kesempatan untuk berperan. Engkau diberi kehendak, tetapi kehendakmu tidak mandiri. Engkau diberi kemampuan, tetapi kemampuanmu tidak mandiri. Engkau diberi hidup, tetapi hidupmu tidak mandiri.

Semua yang engkau miliki adalah pinjaman. Bila engkau menyadari bahwa semua yang engkau miliki adalah pinjaman, maka engkau tidak akan sombong ketika engkau mampu, dan engkau tidak akan putus asa ketika engkau tidak mampu. Sebab yang memberi kemampuan adalah Allah, dan yang mengambilnya juga Allah.”

Salik mengangkat wajahnya. “Guru, aku merasa bahwa diriku ini seperti tidak ada. Apakah itu berarti aku telah sampai pada fanā’?”

Mursyid menatapnya dengan tajam, lalu berkata, “Hati-hati, anakku. Fanā’ itu bukan perasaan. Fanā’ itu bukan engkau merasa tidak ada, lalu engkau berkata bahwa engkau telah fana. Fanā’ itu adalah engkau benar-benar tidak lagi melihat dirimu, dan engkau hanya melihat Allah. 

Tetapi ketahuilah, bahwa fanā’ itu bukan tujuan akhir. Setelah fanā’ ada baqā’ — engkau kembali kepada wujudmu, tetapi engkau kembali dengan kesadaran bahwa wujudmu adalah karunia. Engkau kembali ke dunia, engkau kembali bekerja, engkau kembali beribadah, engkau kembali berinteraksi dengan manusia, tetapi engkau tidak lagi melihat dirimu sebagai pusat. Engkau melihat Allah sebagai pusat, dan engkau sebagai hamba yang melayani pusat itu.”

“Bagaimana aku bisa membedakan fanā’ yang benar dari khayalan, Guru?”

“Tandanya ada tiga. Pertama, fanā’ yang benar tidak membuatmu meninggalkan syariat. Orang yang benar-benar fana justru semakin ketat menjaga perintah dan larangan, sebab ia tahu bahwa syariat itu adalah jalan yang Allah tetapkan. 

Kedua, fanā’ yang benar tidak membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang yang benar-benar fana justru semakin rendah hati, sebab ia tahu bahwa dirinya tidak ada. 

Ketiga, fanā’ yang benar tidak membuatmu berbicara tentang penglihatanmu kepada orang yang belum siap. Orang yang benar-benar fana lebih suka diam dan beramal. Ia tidak ingin dikenal sebagai orang yang telah sampai. Ia ingin dikenal sebagai hamba yang taat.”

“Guru,” kata salik dengan suara bergetar, “aku merasa bahwa aku telah melihat sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan. Apakah itu berbahaya?”

“Itu sangat berbahaya, anakku. Engkau seperti orang yang telah melihat cahaya yang sangat terang. Bila engkau tidak menjaga matamu, engkau akan buta. Bila engkau tidak menjaga hatimu, engkau akan tersesat. 

Ketahuilah, bahwa banyak orang yang telah sampai pada pintu ini, lalu tergelincir karena mereka mengucapkan kata-kata yang melampaui batas. Mereka berkata, ‘Aku adalah Allah,’ atau ‘Aku adalah kebenaran.’ Itu bukan fanā’, itu istidraj. 

Fanā’ yang benar membuat engkau semakin kecil, bukan semakin besar. Fanā’ yang benar membuat engkau semakin hina di hadapan Allah, bukan semakin mulia di hadapan manusia.”

Salik menangis. “Ya Allah, aku takut.”

“Rasa takut itu adalah penjagamu, anakku. Jangan engkau tinggalkan rasa takut itu. Orang yang takut kepada Allah tidak akan tersesat. Orang yang merasa aman dari Allah justru akan tersesat. Maka jagalah rasa takut itu, tetapi jangan engkau berputus asa dari rahmat Allah. 

Takut dan harap itu adalah dua sayap. Bila engkau hanya takut, engkau akan jatuh. Bila engkau hanya harap, engkau akan terbang terlalu tinggi lalu jatuh. Bila engkau menggabungkan keduanya, engkau akan terbang dengan seimbang.”

Mursyid bangkit, lalu berjalan ke tengah ruangan. Beliau mengambil secangkir air, lalu menuangkannya ke tanah. Air itu meresap ke dalam tanah, dan tidak ada yang tersisa di cangkir. “Lihatlah air ini,” katanya. “Ia telah meresap ke dalam tanah. Engkau tidak lagi melihatnya sebagai air, tetapi engkau tahu bahwa ia ada di dalam tanah. 

Begitu pula fanā’: engkau tidak lagi melihat dirimu, tetapi engkau tahu bahwa engkau ada di dalam Allah. Engkau tidak lenyap, tetapi engkau tersembunyi di dalam kehendak-Nya. Engkau tidak mati, tetapi engkau hidup di dalam hidup-Nya.”

Salik menatap tanah yang telah menyerap air itu. Ia merasakan bahwa dirinya seperti air itu — meresap ke dalam sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai air yang berdiri sendiri. Ia melihat dirinya sebagai air yang telah menjadi bagian dari tanah. Namun ia juga tahu bahwa air itu tidak berubah menjadi tanah. Air itu tetap air, tetapi ia tersembunyi di dalam tanah.

“Guru,” katanya, “jadi aku tidak menjadi Allah?”

“Tidak, anakku. Engkau tidak menjadi Allah. Engkau tetap hamba. Engkau tetap makhluk. Engkau tetap memiliki batas. Adapun fanā’ itu bukan engkau menjadi Allah, tetapi engkau tidak lagi melihat dirimu sebagai wujud yang berdiri sendiri. Engkau melihat dirimu sebagai wujud yang bergantung pada Allah. Engkau melihat dirimu sebagai bayangan yang tidak memiliki cahaya sendiri. Engkau melihat dirimu sebagai pena yang tidak memiliki tangan sendiri. Engkau melihat dirimu sebagai air yang tidak memiliki wujud sendiri setelah meresap ke dalam tanah.”

“Lalu bagaimana aku harus hidup setelah ini, Guru?”

“Engkau harus hidup seperti orang yang telah mati sebelum mati, anakku. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak memiliki apa-apa, tetapi memiliki segala-galanya. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak takut kehilangan, sebab engkau tidak memiliki apa pun untuk hilang. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak berharap pada dunia, sebab engkau telah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari dunia. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak mencari pujian, sebab engkau telah menemukan ridha Allah. Engkau harus hidup seperti orang yang tidak takut celaan, sebab engkau telah menemukan kasih Allah.”

Salik bangkit, lalu bersujud di mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, “Ya Allah, aku tidak ada, dan Engkaulah Yang Ada. Aku tidak memiliki wujud, dan Engkaulah Yang Memiliki Wujud. Aku tidak memiliki kekuatan, dan Engkaulah Yang Maha Kuat. 

Jadikanlah kefanaanku sebagai pintu menuju kekekalan-Mu. Jadikanlah kefanaanku sebagai jalan menuju kebangkitan bersama-Mu. Agar aku bisa hidup sebagai hamba yang tidak melihat dirinya, tetapi melihat-Mu. Agar aku bisa beribadah sebagai hamba yang tidak merasa memiliki amal, tetapi merasa memiliki Engkau.”

Mursyid memandangnya dari kejauhan, lalu berkata lirih, “Engkau telah sampai pada pintu ketiga, anakku. Tetapi ketahuilah, bahwa pintu ini bukanlah akhir. Masih ada perjalanan yang lebih panjang. Engkau telah fana, kini engkau harus baqa. Engkau telah lenyap, kini engkau harus kembali. Engkau telah mati, kini engkau harus hidup. Engkau telah melihat bahwa engkau tidak ada, kini engkau harus melihat bahwa Allah ada, dan engkau adalah hamba-Nya. 

Itulah kesempurnaan: engkau kembali ke dunia dengan hati yang telah melihat Allah, tetapi dengan tubuh yang tetap melayani manusia.”

Malam itu, ribat dipenuhi dengan keheningan yang sangat dalam. Salik tidak lagi merasa dirinya sebagai salik. Ia merasa dirinya sebagai hamba yang tidak memiliki nama. Ia tidak lagi merasa memiliki perjalanan. Ia merasa bahwa perjalanan itu adalah milik Allah. Ia tidak lagi merasa memiliki tujuan. Ia merasa bahwa tujuan itu adalah Allah. 

Dan dalam keheningan itu, ia mendengar bisikan yang sangat halus, yang tidak berasal dari telinga, tetapi dari hati: “Engkau telah sampai, tetapi engkau belum sampai. Engkau telah melihat, tetapi engkau belum melihat. Engkau telah fana, tetapi engkau belum baqa. Teruslah berjalan, sebab perjalanan menuju Allah itu tidak pernah berakhir.”

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Nantikan Serial berikutnya Tajalliy-4

Sabtu, 24 Oktober 2026

Pujian Setinggi Langit KDM kepada Gibran: "Runtuhkan Tembok Simpati"


(Secangkir Anggur Merah, Edisi-66)

Leaderline: Pujian setinggi langit Kang Dedi Mulyadi (KDM) kepada Gibran bukan sekadar salah bicara. Melainkan sebuah pertaruhan politik yang gagal membaca denyut nadi pendukungnya sendiri. Alih-alih menuai simpati. Manuver itu justru memicu gelombang kepergian massal dari basis massa yang selama ini mengidolakannya. Mengapa KDM begitu nekad melakukannya?

Cermin Sebuah Paradoks

Apa yang terjadi pada pendukung KDM adalah cermin dari sebuah paradoks. Sosok yang dibangun sebagai representasi kejujuran rakyat kecil tiba-tiba terlihat sebagai bagian dari lingkaran kekuasaan yang justru sedang mereka kritik.

Satu kalimat pujian telah meruntuhkan tembok simpati. Yang justru telah dibangunnya bertahun-tahun.

Ketika KDM menyebut Gibran, “Jarang berucap, tapi sekali berucap bisa mengguncang dunia.” Respons publik bukanlah kekaguman. Melainkan kemarahan.

Jutaan netizen yang selama ini mengaku sebagai pendukung atau penggemar KDM berbalik arah secara serempak.

Seorang warganet menulis, “Hilang simpatiku padamu, oh ternyata gitu ya.” Yang lain menyindir, “Habis Mulyono terbit Mulyadi,” dan “Kirain suhu… Ternyata...?”.

Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Pujian tersebut dilontarkan tepat ketika publik sedang marah terhadap Gibran. Terkait polemik ijazah dan wacana pemakzulan.

Di tengah kegaduhan itu, KDM memilih untuk pasang badan. Bukan berdiri di sisi rakyat yang kecewa.

Mengapa KDM Melakukan Itu?

Pertanyaannya kemudian. Mengapa KDM melakukan itu? Jawabannya terletak pada logika elektoral yang dingin.

Nama KDM melesat di berbagai survei. Wacana duet Gibran-KDM untuk Pilpres 2029 mulai bergema di ruang publik.

Pujian itu bukan ekspresi ketulusan. Melainkan bagian dari strategi membangun poros politik baru. Sebuah co-branding antara populisme KDM dan mesin kekuasaan yang masih melekat pada nama Jokowi.

Namun, strategi itu mengabaikan satu variabel krusial. Pendukung KDM bukanlah massa yang bisa dipindahkan seenaknya.

Mereka adalah pemilih yang menempatkan integritas di atas elektabilitas. Dan bagi mereka, berkoalisi dengan simbol kekuasaan yang sedang mereka persoalkan adalah sebuah pengkhianatan.

Yang paling ironis. Pujian itu justru datang dari video lama yang diunggah ulang. Artinya, KDM tidak sedang menyesuaikan diri dengan situasi terkini. Melainkan masa lalunya sendiri yang mengejarnya.

Ini menunjukkan bahwa akomodasi terhadap Gibran bukanlah kalkulasi segar. Melainkan pola yang tampaknya sudah tertanam sejak lama.

Bagi pendukungnya. Penyingkapan ini terasa seperti menemukan bahwa sosok yang mereka kagumi selama ini menyimpan kartu yang selama ini disembunyikan.

Kepercayaan runtuh bukan karena satu kalimat,. Melainkan karena kalimat itu membuka pintu pada kesadaran yang lebih luas. Bahwa KDM mungkin selama ini bermain di dua kaki.

Apa yang terjadi pada pendukung KDM adalah pelajaran tentang batas kesabaran publik. Mereka tidak serta-merta menolak Gibran karena kebijakannya. Tetapi karena mereka merasa dikhianati oleh seseorang yang mereka anggap berbicara untuk mereka.

Dalam politik populisme. Hubungan antara tokoh dan pendukungnya dibangun di atas asumsi kesamaan nasib dan keberpihakan.

Ketika asumsi itu retak. Retaknya tidak bisa diperbaiki dengan retorika. KDM boleh saja tetap percaya bahwa duet dengan Gibran adalah jalan menuju kekuasaan. Tetapi ia harus menerima kenyataan bahwa jalan itu dibangun di atas puing-puing kepercayaan yang telah ia hancurkan sendiri.

Kritik yang paling menghunjam bukan terletak pada apa yang KDM katakan. Melainkan pada apa yang pujian itu ungkap tentang logika tersembunyi di balik populisme elektoral yang ia bangun.

Paradoks pertama: KDM adalah produk dari politik “adab. Tetapi ia memilih membela sosok yang justru sedang diuji soal integritas formalnya.

KDM membangun narasi politiknya di atas dikotomi moral antara “yang jujur dan dekat rakyat” melawan “yang palsu dan bagian dari lingkaran kekuasaan”.

Namun, pujiannya kepada Gibran. Yang ia sebut “kuat secara etika” dan memiliki “adab” yang terbentuk dari tradisi Jawa. Dilontarkan tepat setelah Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah setingkat SMA.

Bagi pendukungnya, ini bukan sekadar pujian. Ini adalah pengkhianatan atas kerangka moral yang KDM sendiri bangun. Seorang pendukung menulis:

“Mengguncang dunia itu dimulai dari kejujuran kang. Kalau diawali dengan kepalsuan dan pelanggaran konstitusi itu namanya mengguncang tatanan hukum”.

Kalimat itu bukan caci maki. Melainkan dakwaan bahwa KDM telah melanggar kontrak sosial dengan basis massanya sendiri.

Paradoks kedua: Pendukung KDM bukanlah massa yang “dimiliki” oleh KDM; Mereka adalah pemilih yang meminjamkan loyalitasnya dengan syarat.

Survei menunjukkan KDM unggul jauh di atas Gibran. Dalam simulasi cawapres 2029, dengan 21 persen berbanding 14,2 persen.

Angka itu bukan warisan oligarki. Melainkan akumulasi kepercayaan dari orang-orang yang melihat KDM sebagai representasi “orang biasa” yang berhasil.

Tetapi ketika KDM memuji Gibran. Loyalitas itu ditarik kembali secara massal dan dalam waktu singkat.

Ini membuktikan bahwa basis dukungan KDM bersifat kondisional, bukan personal. Ia dipinjamkan selama KDM dianggap konsisten. Ia ditarik begitu konsistensi itu retak.

Sedang Menghitung 2029?

KDM mungkin mengira popularitasnya adalah modal yang bisa ia belanjakan untuk transaksi politik. Tetapi ia salah membaca sifat modal itu. Ia bukan miliknya. Melainkan titipan.

Paradoks ketiga. Dan yang paling tajam. Timing pujian itu mengungkap bahwa KDM sedang menghitung 2029, bukan 2026.

Nama KDM melesat di survei, dan wacana duet Gibran-KDM mulai disebarkan oleh pendukung Jokowi-Gibran.

Pujian KDM bukan ekspresi ketulusan. Melainkan akomodasi terhadap mesin kekuasaan yang masih bisa memberinya tiket menuju panggung nasional.

Namun, akomodasi itu dilakukan dengan mengorbankan aset yang justru menjadi alasan mesin itu meliriknya. Basis massa anti-kemapanan. Jika KDM bergerak terlalu jauh ke dalam lingkaran Jokowi-Gibran, ia kehilangan alasan eksistensi elektoralnya. Jika ia menolak, ia kehilangan akses ke sumber daya kekuasaan.

Pujian itu adalah upaya menyenangkan dua pihak sekaligus. Dan justru karena itu, ia mengecewakan pihak yang paling menentukan: Pendukungnya sendiri.

Kesimpulan kritisnya: Yang terjadi pada pendukung KDM bukanlah sekadar kekecewaan sesaat. Melainkan penyingkapan bahwa kontrak populisme mereka selama ini bersifat asimetris.

Mereka mengira KDM berbicara untuk mereka; KDM ternyata sedang berbicara kepada calon mitra koalisinya di 2029. Loyalitas mereka dipinjamkan; KDM memperlakukannya seolah-olah bisa dialihkan.

Dan ketika mereka pergi. Mereka tidak pergi karena satu kalimat. Tetapi karena kalimat itu membuktikan bahwa selama ini mereka mungkin hanya bagian dari strategi. Bukan tujuan dari strategi itu sendiri.

Cag, Ah..! Kumaha sakahoyong Juragan KDM aja lah...!!!

Serial Tasawuf-31, Tajalliy-2: "Tajalli al-Asmā’ wa al-Ṣifāt"



Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Beberapa malam setelah pintu pertama tajalliy terbuka. Salik datang lagi ke ribat dengan langkah yang lebih ringan. Tetapi hatinya justru lebih bergetar. Ia telah mulai menyaksikan bahwa tidak ada pelaku hakiki selain Allah. Kini matanya seperti terbuka pada lapisan lain dari dunia. Ia melihat jejak-jejak yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya. 

Pepohonan tidak lagi sekadar pepohonan. Air tidak lagi sekadar air. Wajah-wajah manusia tidak lagi sekadar wajah. Di balik semuanya. Ia seperti mendengar bisikan nama-nama yang halus. Seakan alam ini adalah kitab yang baru saja dibuka huruf-hurufnya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah duduk di bawah pohon tua di halaman ribat. Malam itu tidak ada angin. Tetapi daun-daun bergerak perlahan. Seakan ikut berzikir. Beliau memandang salik dengan tatapan yang tenang, lalu berkata, “Engkau datang membawa cahaya di wajahmu. Tetapi juga membawa kebingungan di matamu. Ceritakanlah, apa yang engkau lihat?”

Salik duduk bersimpuh. “Guru, sejak malam itu aku tidak lagi melihat perbuatan sebagai milikku. Aku melihat tangan yang memberi. Tetapi di baliknya aku melihat Yang Maha Memberi. Aku melihat orang yang menyakitiku. Tetapi di baliknya aku melihat Yang Mengizinkan."

"Namun kini ada sesuatu yang lain. Aku melihat keindahan pada makhluk. Lalu aku merasa melihat Keindahan yang lain. Aku melihat kekuatan pada manusia. Lalu aku merasa melihat Kekuatan yang lain. Aku takut, Guru. Apakah aku sedang melihat Allah?”

Mursyid tersenyum tipis, tetapi matanya tajam. “Hati-hati, anakku. Pertanyaan itu bisa menjadi pintu cahaya. Bisa juga menjadi pintu bahaya. Ketahuilah, apa yang engkau lihat bukanlah dzat Allah."

Engkau tidak melihat Allah dengan matamu. Dan engkau tidak akan pernah bisa melihat dzat-Nya di dunia ini. Yang engkau lihat adalah ātsār — jejak-jejak. Yang engkau saksikan adalah pantulan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada cermin makhluk. Inilah pintu kedua: tajallī al-asmā’ wa al-ṣifāt. Penyingkapan keesaan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.”

Salik menghela napas. “Jadi aku tidak melihat Allah, Guru?”

“Engkau melihat perbuatan-Nya. Lalu engkau melihat jejak nama-Nya. Tetapi engkau tidak melihat dzat-Nya. Orang yang menyangka melihat dzat Allah dengan mata kepala telah tersesat. Sebab Allah tidak terjangkau oleh penglihatan. Tidak terikat oleh ruang. Tidak dibatasi oleh waktu."

"Adapun orang yang melihat jejak-jejak-Nya. Lalu ia mengenali Yang Meninggalkan Jejak. Itulah orang yang diberi cahaya. Engkau melihat tulisan. Lalu engkau mengenali Penulisnya. Engkau tidak melihat Penulis itu sendiri. Tetapi engkau tahu bahwa tulisan ini bukan tulisan yang muncul tanpa penulis.”

“Apakah yang dimaksud dengan nama-nama dan sifat-sifat itu, Guru?”

Mursyid mengambil sebutir embun dari daun dengan ujung jarinya. “Lihatlah embun ini. Ia kecil, tetapi ia memantulkan cahaya. Engkau tidak melihat matahari di dalam embun, tetapi engkau melihat cahayanya. 

Begitu pula makhluk: ia tidak memuat dzat Allah. Tetapi ia memantulkan jejak nama-nama-Nya. Engkau melihat ar-Raḥmān pada kasih seorang ibu. Engkau melihat ar-Raḥīm pada kelembutan seorang guru. Engkau melihat al-‘Alīm pada pengetahuan yang Allah titipkan pada manusia. Engkau melihat al-Qadīr pada kekuatan yang Allah berikan pada tubuh. Engkau melihat al-Laṭīf pada kehalusan yang tersembunyi di balik sesuatu yang kasar. Engkau melihat al-Khabīr pada pengetahuan Allah tentang rahasia-rahasia hatimu.”

“Tetapi Guru,” kata salik, “bukankah itu berarti makhluk memiliki sifat-sifat itu? Bukankah ibuku benar-benar penyayang, dan guruku benar-benar berilmu?”

“Benar, anakku, tetapi dengan adab yang harus engkau jaga. Kasih ibumu itu nyata, tetapi kasih itu adalah karunia yang Allah ciptakan padanya. Ilmu gurumu itu nyata, tetapi ilmu itu adalah titipan yang Allah berikan padanya. 

Engkau tidak boleh mengatakan bahwa ibumu adalah ar-Raḥmān, sebab ar-Raḥmān itu nama Allah yang sempurna, yang kasih-Nya tidak terbatas. Engkau tidak boleh mengatakan bahwa gurumu adalah al-‘Alīm, sebab al-‘Alīm itu pengetahuan Allah yang tidak pernah salah dan tidak pernah lupa. 

Makhluk memiliki sifat yang terbatas. Yang Allah berikan sebagai pinjaman. Adapun Allah memiliki sifat yang sempurna. Yang tidak berkurang dan tidak berubah.”

Salik menunduk. “Aku mulai memahami, Guru. Tetapi aku merasa ada bahaya di dalamnya.”

“Engkau benar, dan rasa takut itu adalah penjagamu. Ketahuilah, wahai salik, bahwa pintu ini memiliki dua jurang. Jurang pertama adalah tasybīh. Menyerupakan Allah dengan makhluk. Engkau melihat kasih pada manusia, lalu engkau membayangkan kasih Allah seperti kasih manusia. Itu kesesatan. 

Jurang kedua adalah ta‘ṭīl. Mengosongkan Allah dari sifat-sifat-Nya. Engkau melihat kasih pada manusia, lalu engkau berkata bahwa Allah tidak memiliki kasih. Itu juga kesesatan. 

Adapun jalan yang benar adalah engkau menetapkan sifat Allah sebagaimana Dia menetapkannya untuk diri-Nya. Tanpa menyerupakan dan tanpa menolak. Engkau berkata, ‘Allah Maha Mendengar, tetapi pendengaran-Nya tidak seperti pendengaran makhluk. Allah Maha Melihat, tetapi penglihatan-Nya tidak seperti penglihatan makhluk.’”

“Bagaimana aku bisa menjaga adab di pintu ini, Guru?”

Mursyid mengangkat tangannya dan menunjuk pada langit. “Ada tiga adab. Pertama, jangan engkau menceritakan apa yang engkau lihat kepada orang yang belum siap menerimanya. Sebab cahaya yang terlalu terang bisa membutakan mata yang belum terbiasa. 

Kedua, jangan engkau merasa bahwa engkau telah sampai. Orang yang merasa telah sampai itu justru berhenti. Orang yang merasa masih dalam perjalanan itu terus berjalan. 

Ketiga, jangan engkau meninggalkan syariat. Semakin tinggi engkau naik. Semakin ketat engkau menjaga perintah dan larangan. Sebab pohon yang tinggi itu lebih mudah diterpa angin. Maka akarnya harus lebih kuat.”

Salik merenung. “Guru, kadang aku melihat keindahan pada wajah seseorang, lalu aku merasa melihat Keindahan Allah. Apakah itu benar?”

“Engkau melihat jejak al-Jamīl — Yang Maha Indah. Pada keindahan yang Allah ciptakan. Itu benar, selama engkau tidak menyangka bahwa keindahan itu adalah dzat Allah. Keindahan wajah itu adalah ciptaan. Adapun Keindahan Allah itu tidak terjangkau oleh mata. 

Bila engkau melihat keindahan lalu engkau mengingat Allah, itu cahaya. Bila engkau melihat keindahan lalu engkau terpaku pada makhluk, itu tabir. Bila engkau melihat keindahan lalu engkau menyangka bahwa Allah menjelma pada wajah itu, itu kesesatan. Maka jadikanlah setiap keindahan sebagai jendela. Bukan sebagai tujuan.”

“Bagaimana aku bisa membedakan tajalli yang benar dari khayalan, Guru?”

Mursyid tersenyum. “Tandanya ada empat. Pertama, tajalli yang benar membuatmu semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Semakin engkau melihat keagungan Allah, semakin engkau merasa kecil. 

Kedua, tajalli yang benar membuatmu semakin penyayang pada makhluk, bukan semakin menghina mereka. Sebab engkau melihat bahwa setiap makhluk adalah cermin yang memantulkan nama-nama Allah, meskipun cermin itu berbeda-beda kejernihannya. 

Ketiga, tajalli yang benar membuatmu semakin takut kepada Allah dan semakin berharap pada-Nya. Engkau tidak merasa aman, tetapi engkau juga tidak berputus asa. 

Keempat, tajalli yang benar membuatmu semakin menjaga rahasia. Engkau tidak ingin berbicara tentang penglihatanmu, kecuali kepada orang yang mampu memahaminya. Engkau lebih suka diam dan beramal.”

Salik meneteskan air mata. “Ya Allah, aku ingin melihat jejak-Mu, tetapi aku takut tersesat.”

“Rasa takut itu adalah cahaya, anakku. Orang yang takut tersesat lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang merasa aman. Teruslah berjalan dengan adab. Engkau telah membuka pintu kedua." 

Masih ada pintu ketiga: tajallī al-dzāt. Tetapi itu bukan urusan kita untuk membicarakannya panjang-panjang. Cukuplah engkau tahu bahwa setiap pintu menuntut adab yang lebih tinggi. Dan setiap cahaya menuntut kerendahan hati yang lebih dalam.”

Mursyid bangkit, lalu berjalan ke tepi kolam kecil di halaman ribat. Air kolam itu tenang, memantulkan bulan dan bintang-bintang. “Lihatlah air ini,” katanya. “Ia memantulkan langit, tetapi ia bukan langit. Ia memantulkan bulan, tetapi ia bukan bulan. Bila engkau mengaduk air itu, pantulan itu akan pecah. 

Begitu pula hatimu: bila ia tenang, ia memantulkan nama-nama Allah. Bila ia gelisah oleh hawa nafsu, pantulan itu akan pecah. Maka jagalah ketenangan hatimu dengan zikir, dan jernihkanlah cerminmu dengan taubat.”

Salik menatap kolam itu. Ia melihat bulan di dalam air, dan ia tidak menyangka bahwa bulan itu jatuh ke dalam kolam. Ia melihat pantulan, dan ia mengenali Yang Dipantulkan. Ia tidak lagi bingung antara air dan bulan, antara makhluk dan Allah. Ia melihat makhluk sebagai cermin, dan Allah sebagai Yang Maha Nyata di balik cermin itu.

“Guru,” katanya lirih, “jadi selama ini aku mencari Allah di tempat yang salah. Aku mencari-Nya di luar. Padahal Ia lebih dekat dari apa pun. Tetapi aku juga tidak boleh menyangka bahwa Ia menyatu dengan diriku.”

“Engkau telah memahami, anakku. Allah itu dekat. Tetapi dekat-Nya tidak seperti dekatnya benda dengan benda. Allah itu dekat dengan ilmu-Nya. Dengan pengawasan-Nya. Dengan pertolongan-Nya. 

Engkau tidak bisa lari dari-Nya, tetapi engkau juga tidak bisa memuat-Nya. Maka jangan engkau mencari-Nya dengan membayangkan, tetapi carilah Dia dengan ketaatan. Jangan engkau mengaku melihat-Nya dengan mata. Tetapi lihatlah jejak-Nya dengan hati.”

Salik bangkit, mencium tangan gurunya, lalu berjalan ke mihrab. Dalam sujudnya, ia berbisik, “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Indah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mengetahui. Aku tidak melihat dzat-Mu, tetapi aku melihat jejak-Mu. Jangan Engkau biarkan aku menyerupakan-Mu dengan makhluk, dan jangan Engkau biarkan aku menolak sifat-sifat-Mu. Jadikanlah penglihatanku sebagai cahaya, dan adabku sebagai penjaganya. Agar aku bisa melihat jejak-Mu, tetapi tetap menjadi hamba yang rendah hati.”

Malam itu, ribat terasa penuh dengan keheningan yang dalam. Salik tidak lagi melihat dunia sebagai kumpulan benda-benda yang terpisah dari Allah. Ia melihat dunia sebagai cermin yang memantulkan nama-nama Allah, tetapi ia tidak menyangka bahwa cermin itu adalah Allah. 

Ia melihat keindahan, lalu ia mengingat Yang Maha Indah. Ia melihat kekuatan, lalu ia mengingat Yang Maha Kuat. Ia melihat kasih, lalu ia mengingat Yang Maha Pengasih. Dan hatinya pun dipenuhi dengan rasa syukur yang tidak mampu ia ucapkan dengan kata-kata.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Nantikan Tajalliy-3

Serial Tasawuf-36 Al-Hikam: Hikmah Ketiga, "Dinding Takdir yang Tak Terlampaui Tekad"

Malam itu, hujan turun rintik-rintik di atas Iskandariyah. Para salik kembali berkumpul di beranda zawiyah. Membasuh wajah mereka dari air h...